RADARTUBAN - Membongkar lapisan demi lapisan sejarah Tuban ibarat menyusun kembali kepingan puzzle yang banyak bagiannya hilang. Minimnya referensi dan dokumentasi yang memadai membuat upaya ini menjadi sangat sulit dan penuh tantangan.
Bangunan tua di Tuban menyimpan banyak cerita sejarah yang belum terungkap, namun sayangnya, minimnya dokumentasi membuat upaya menelusuri jejak masa lalu kota ini menjadi tantangan tersendiri.
Dua bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh adalah kantor Dinas Kesehatan Tuban, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) di Jalan Brawijaya. Bangunan lain yang masih bertahan adalah Kantor Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Tuban di Jalan Panglima Sudirman, Tuban.
Arsitektur dua angunan ini sangat khas dengan gaya kolonial Belanda. Dinding tebal berbahan batu gunung tanpa semen, pilar-pilar kokoh, atap lebar bergenteng tanah, serta pintu dan jendela berukuran besar menjadi ciri khas bangunan ini.
Baca Juga: Dilema Penemuan Situs Bersejarah di Tuban, Baiknya Disembunyikan atau Dipublikasikan?
Endah Nurul Khomariyati saat masih menjabat sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban 2019 pernah diwawancara Jawa Pos Radar Tuban soal bangunan peninggalan Belanda tersebut. Dia menjelaskan, gedung Dinkes diperkirakan pernah menjadi rumah sakit pertama di Tuban.
Hal ini diperkuat oleh informasi dari mantan Kepala Dinas Kesehatan Tuban, dr. Saiful Hadi, yang menyebutkan bahwa dokter pertama di Tuban, dr. R. Koesma, pernah bertugas di bangunan tersebut. Nama dr. R. Koesma kemudian diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuban hingga saat ini.
Sayangnya, upaya untuk menggali lebih dalam sejarah bangunan ini menemui kendala. Referensi yang ada sangat terbatas, bahkan perpustakaan daerah pun tidak memiliki banyak informasi terkait.
Kondisi serupa juga ditemukan pada kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban. Bangunan tua ini juga memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dipercaya sebagai peninggalan masa kolonial.
Sementara di cagar budaya kantor cabang dinas pendidikan memiliki tujuh ruang yang digunakan untuk kantor, staf, dan ruang pegawai.
Surijah, salah satu warga yang tinggal di dekat kantor tersebut pada 2019 mengatakan, dulunya, kantor itu ditempati panti sosial. Baru pada 9 Januari 2017, beralih menjadi kantor cabang dinas.
Setali tiga uang. Seperti halnya eks rumah sakit yang saat ini jadi kantor Dinkes Tuban, jejak sejarah kantor ini juga sulit ditelusuri. Referensi di perputakaan daerah tak satu pun yang mengupas.
Suwanto, seorang pemerhati sejarah di Tuban, membenarkan bahwa kedua bangunan tersebut merupakan cagar budaya. Namun, dia juga mengakui bahwa masih banyak misteri yang belum terungkap terkait sejarah bangunan-bangunan ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama