Menjadi anggota Paskibraka adalah cita-cita Indhira Yuan Kinanti sejak kecil. Setelah berlatih keras dan konsisten, cita-cita itu akhirnya terwujud. Siswi SMAN 2 Tuban ini terpilih menjadi anggota Paskibraka sekaligus pembawa baki di upacara bendera HUT ke-79 Kemerdekaan Indonesia Pemkab Tuban.
HARDIYATI BUDI ANGGRAENI, RADARTUBAN
RONA kebahagiaan itu terpancar jelas di wajah Indhira Yuan Kinanti usai menuntaskan tugasnya sebagai pembawa baki upacara bendera peringatan HUT Kemerdekaan di lapangan GOR Rangga Jaya Anoraga, 17 Agustus lalu.
Dengan langkahnya yang tegap, cewek yang karib disapa Indhira itu selalu tersenyum.
‘’Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar,’’ tuturnya dengan senyum mengembang dari kedua bibirnya.
Indhira menuturkan, menjadi bagian Pasukan Pengibaran Bendera Pusaka (Paskibraka) telah diimpikan sejak kecil.
Titik tolak impian itu bermula saat melihat momen pengibaran bendera Merah Putih peringatan HUT Kemerdekaan di Istana Negara yang disiarkan melalui stasiun televisi.
Ketika melihat momen sakral tersebut, mata Indhira selalu berbinar dan hatinya bergetar. Dalam batinnya kala kecil, dia ingin sekali menjadi bagian dari pengibar Sang Saka Merah Putih.
Setelah menginjak usia remaja, impian itu akhirnya terwujud. Siswi kelas XI itu terpilih menjadi pembawa baki upacara HUT ke-79 Kemerdekaan Indonesia Pemkab Tuban.
Sungguh kenyataan yang sebelumnya hanya dalam bayangan. Terlebih, dia dipilih menjadi pembawa baki.
‘’Rasanya senang sekali, seperti kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup,’’ ujarnya.
Dijelaskan dia, mendapatkan posisi sebagai pembawa baki tidaklah mudah. Lebih kurang dua tahun menyiapkan skill dan fisik.
‘’Kalau di sekolah biasanya latihan dua minggu sekali dengan senior, sisanya mandiri. Jadi biasanya selepas pulang sekolah saya latihan sendiri,’’ ujarnya.
Cewek kelahiran 2007 yang sudah menyukai dunia baris berbaris sejak usia sekolah dasar itu menuturkan, pembawa baki membutuhkan skill dan konsentrasi lebih.
Tidak kalah penting, adalah rasa percaya diri yang tinggi. Terlebih, ketika menerima dan menyerahkan bendera dari/kepada bupati. Seluruh mata akan tertuju pada pembawa baki.
Dari sisi keterampilan, pembawa baki dituntut menyeimbangkan gerakan langkah tegap dan kekuatan tangan yang cukup. Sebab, baki yang dibawa juga cukup berat.
‘’Karena belum terbiasa, awal-awal sempat nyeri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Kendati melalui proses yang cukup sulit dan berat, Indhira berhasil melewati itu semua dengan baik.
‘’Ini sungguh pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Ada perasaan yang campur aduk. Antara menegangkan dan rasa bahagia,’’ tuturnya.
Lebih lanjut, anak bungsu dari dua bersaudara itu menyampaikan, kesuksesannya dalam menggapai mimpi sebagai pasukan Paskibraka itu tidak lepas dari proses panjang dan konsisten.
Tanpa itu, tegas dia, cita-cita yang diidamkan sejak kecil ini tidak akan terwujud.
‘’Tanpa kerja keras secara konsisten mengikuti kegiatan LBB, mungkin saya tidak bisa menjadi Paskibraka dan pembawa baki seperti sekarang. Saya sangat bersyukur,’’ tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama