Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Radar Movie - Film Rumah Dinas Bapak: Teror Penunggu Penjara Setiap Malam Jumat Kliwon

Hardiyati Budi Anggraeni • Jumat, 6 September 2024 | 23:15 WIB

Cuplikan film Rumah Dinas Bapak
Cuplikan film Rumah Dinas Bapak

Bercerita tentang keluarga yang sederhana. Dalam keluarga tersebut, sang Bapak yang diperankan Dodit Mulyanto mengatakan bahwa dia akan dipindahtugaskan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dia menyuruh semua keluarganya untuk ikut bersamanya. Dari sini cerita horor itu dimulai.

SAAT mengabarkan bakal pindah, sempat ada rasa eng­gan di hati keluarga Ba­pak. Namun hal tersebut tak bisa dibantah, anak Ba­pak yang bernama Dodit (diperankan Oktavianus Fransiskus) sempat marah terhadap orang tuanya.

Dia yang belum sempat dibelikan mobil tamiya se­perti anak seumurannya, di­paksa pindah di lingku­ngan pede­saan.

Artinya, dia tak dapat bermain mainan mobil-mo­bilan yang populer kala itu bersama dengan temannya.

Tak ada pilihan lain, Dodit tetap harus mengikuti orang tuanya. Untuk menghibur, Ibu (Putri Ayunda) men­janjikan untuk membelikan­nya tamiya. Apalagi, jika di­pin­dah tugas maka gaji Bapak bisa saja naik.

Iming-iming tersebut, mem­buatnya terlena dan menyang­gupi untuk pindah bersama de­ngan orang tua, kakak pe­rempuannya, serta kakak iparnya.

Dalam perjalanan menuju rumah dinas Bapak, keane­han mulai terjadi. Rumah yang berada di tengah hutan jati membuat suasana men­cekam.

Sepeda motor yang dikendarai oleh Bapak tiba-tiba berhenti. Sehingga ter­paksa mereka harus berjalan menuju rumah dinas ter­sebut.

Dalam perjalanan tersebut, ibunya sempat melihat se­sosok hantu yang tengah duduk di atas pohon.

Aduan dari sang ibu pun tidak di­indahkan oleh ayahnya. Bahkan, sang Bapak menyu­ruhnya untuk tetap fokus dalam menjalankan perja­lanan menuju rumahnya.

Ketika sampai di rumah dinas Bapak yang baru, mbak Lis (Yasamin Jasem) yang merupakan kakak perempuan Dodit menemu­kan sebuah penjara. Hal yang tak umum ada di dalam rumah. Kejang­galan pun mulai dirasakan.

Kala malam semakin larut, ibu meminta Sugeng dan Kas­no yang bertugas men­jadi bawahan Bapak untuk mengi­nap.

Namun, kedua­nya meno­lak seakan enggan untuk ber­lama-lama. Sa­yangnya hara­pan­nya pupus karena akhirnya bapak yang memerintahkan mereka untuk tinggal.

Hingga suatu saat, ada Mbah Slamet (Rukman Ro­sadi) seorang pedagang yang me­ngantarkan minyak.

Kala itu, ibu Dodit tengah me­ngam­bilkan tas untuknya. Sehingga Mbak Lis yang ditugaskan untuk menemui Mbah Slamet.

Anehnya, pedagang tua itu menanyakan bagaimana rasa­nya tinggal di rumah tersebut. Apalagi, dia me­nga­takan ba­nyak orang yang meninggal di rumah ter­sebut.

Tetapi ayah­nya me­minta Mbah Sla­met untuk tidak bercerita aneh-aneh kepada keluarganya.

Teror dari hantu penunggu penjara di rumah dinas Ba­pak mulai bermunculan. Tepatnya, setiap malam Jumat Kliwon.

Menjadikan keluarga tersebut tak nya­man, karena peristiwa me­nye­ramkan terus terjadi pada mereka.

Film ini merupakan kisah nyata masa kecil Dodit Mul­yanto. Cerita yang sempat menjadi thread di X atau Twitter itu akhirnya dibawa ke layar lebar.

Disutradarai oleh Bobby Prasetyo dengan penulis dari Evelyn Afnilia dan Dodit Mulyanto sendiri.

Banyak yang terkecoh de­ngan karya Komika ini. Pa­salnya, dalam poster ter­sebut seolah menyiratkan bahwa film akan bergenre horor-komedi.

Di mana, genre ko­medi akan lebih besar dari­pada horor seperti film-film pendahulunya. Namun nya­ta­nya, hampir semua cerita di film ini ber­genre horor. Bisa dibilang komedi yang ada di dalam­nya hanya sekitar 30 persen.

Cerita yang dialami oleh Dodit saat meminta tamiya pun sangat relate di sebagian besar pe­nonton.

Bahkan ketika ibunya berjanji akan membe­likan apa yang dia minta setelah memiliki uang, merupakan fenomena yang lazim terjadi saat itu. Segala keterbatasan ini, pasti ham­pir sebagian besar penonton pernah merasakan­nya.

Sayangnya film ini seperti mengisahkan ulang apa yang Dodit Mulyanto tulis pada akun X-nya. Sehingga, bagi penonton yang sudah pernah membaca thread tersebut merasa tidak ada kejutan berarti.

Bahkan, ada beberapa bagian yang dirasa tidak ada kesinambungan antara satu dengan scene yang lainnya. Namun, film ini diselamatkan dengan visual aktor yang bisa mem­buat penonton tertawa di awal cerita. (gi/yud)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Dodit Mulyanto #Kabupaten Blitar #tamiya #Oktavianus Fransiskus #Rumah Dinas Bapak