Bercerita tentang keluarga yang sederhana. Dalam keluarga tersebut, sang Bapak yang diperankan Dodit Mulyanto mengatakan bahwa dia akan dipindahtugaskan di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dia menyuruh semua keluarganya untuk ikut bersamanya. Dari sini cerita horor itu dimulai.
SAAT mengabarkan bakal pindah, sempat ada rasa enggan di hati keluarga Bapak. Namun hal tersebut tak bisa dibantah, anak Bapak yang bernama Dodit (diperankan Oktavianus Fransiskus) sempat marah terhadap orang tuanya.
Dia yang belum sempat dibelikan mobil tamiya seperti anak seumurannya, dipaksa pindah di lingkungan pedesaan.
Artinya, dia tak dapat bermain mainan mobil-mobilan yang populer kala itu bersama dengan temannya.
Tak ada pilihan lain, Dodit tetap harus mengikuti orang tuanya. Untuk menghibur, Ibu (Putri Ayunda) menjanjikan untuk membelikannya tamiya. Apalagi, jika dipindah tugas maka gaji Bapak bisa saja naik.
Iming-iming tersebut, membuatnya terlena dan menyanggupi untuk pindah bersama dengan orang tua, kakak perempuannya, serta kakak iparnya.
Dalam perjalanan menuju rumah dinas Bapak, keanehan mulai terjadi. Rumah yang berada di tengah hutan jati membuat suasana mencekam.
Sepeda motor yang dikendarai oleh Bapak tiba-tiba berhenti. Sehingga terpaksa mereka harus berjalan menuju rumah dinas tersebut.
Dalam perjalanan tersebut, ibunya sempat melihat sesosok hantu yang tengah duduk di atas pohon.
Aduan dari sang ibu pun tidak diindahkan oleh ayahnya. Bahkan, sang Bapak menyuruhnya untuk tetap fokus dalam menjalankan perjalanan menuju rumahnya.
Ketika sampai di rumah dinas Bapak yang baru, mbak Lis (Yasamin Jasem) yang merupakan kakak perempuan Dodit menemukan sebuah penjara. Hal yang tak umum ada di dalam rumah. Kejanggalan pun mulai dirasakan.
Kala malam semakin larut, ibu meminta Sugeng dan Kasno yang bertugas menjadi bawahan Bapak untuk menginap.
Namun, keduanya menolak seakan enggan untuk berlama-lama. Sayangnya harapannya pupus karena akhirnya bapak yang memerintahkan mereka untuk tinggal.
Hingga suatu saat, ada Mbah Slamet (Rukman Rosadi) seorang pedagang yang mengantarkan minyak.
Kala itu, ibu Dodit tengah mengambilkan tas untuknya. Sehingga Mbak Lis yang ditugaskan untuk menemui Mbah Slamet.
Anehnya, pedagang tua itu menanyakan bagaimana rasanya tinggal di rumah tersebut. Apalagi, dia mengatakan banyak orang yang meninggal di rumah tersebut.
Tetapi ayahnya meminta Mbah Slamet untuk tidak bercerita aneh-aneh kepada keluarganya.
Teror dari hantu penunggu penjara di rumah dinas Bapak mulai bermunculan. Tepatnya, setiap malam Jumat Kliwon.
Menjadikan keluarga tersebut tak nyaman, karena peristiwa menyeramkan terus terjadi pada mereka.
Film ini merupakan kisah nyata masa kecil Dodit Mulyanto. Cerita yang sempat menjadi thread di X atau Twitter itu akhirnya dibawa ke layar lebar.
Disutradarai oleh Bobby Prasetyo dengan penulis dari Evelyn Afnilia dan Dodit Mulyanto sendiri.
Banyak yang terkecoh dengan karya Komika ini. Pasalnya, dalam poster tersebut seolah menyiratkan bahwa film akan bergenre horor-komedi.
Di mana, genre komedi akan lebih besar daripada horor seperti film-film pendahulunya. Namun nyatanya, hampir semua cerita di film ini bergenre horor. Bisa dibilang komedi yang ada di dalamnya hanya sekitar 30 persen.
Cerita yang dialami oleh Dodit saat meminta tamiya pun sangat relate di sebagian besar penonton.
Bahkan ketika ibunya berjanji akan membelikan apa yang dia minta setelah memiliki uang, merupakan fenomena yang lazim terjadi saat itu. Segala keterbatasan ini, pasti hampir sebagian besar penonton pernah merasakannya.
Sayangnya film ini seperti mengisahkan ulang apa yang Dodit Mulyanto tulis pada akun X-nya. Sehingga, bagi penonton yang sudah pernah membaca thread tersebut merasa tidak ada kejutan berarti.
Bahkan, ada beberapa bagian yang dirasa tidak ada kesinambungan antara satu dengan scene yang lainnya. Namun, film ini diselamatkan dengan visual aktor yang bisa membuat penonton tertawa di awal cerita. (gi/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama