Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Cerpen - Apakah Aku Benci Ayah

radar tuban digital • Senin, 16 September 2024 | 03:00 WIB

Ilustrasi Cerpen
Ilustrasi Cerpen

Semburat kuning mulai menerangi bumi. Mengawali aktivitas para penghuninya. Awalnya, semua berjalan normal, aku bangun tidur, mandi, sarapan bareng ayah, siap-siap sekolah. Aku bahkan masih sempat mematut diriku di depan cermin. Aku masih tak menyadarinya, “yah, bagas berangkat dulu ya, assalamualaikum,” lantas mencium tangan ayahku. Ayahku hanya bergumam pelan, aku lantas berlari menuju halte.

NAMAKU Bagas, siswa kelas dua di salah satu SMA negeri di kotaku. Ayahku seorang pegawai bank swasta. Ibuku entahlah kemana dia sekarang. Namun, minggu-minggu ini gelagat ayahku mulai aneh. Ayahku selalu berangkat siang dan pulang tengah malam. Bahkan, sepertinya ayahku juga mulai jarang mandi.

Matahari mulai terik. Panas. Aku segera berlari menuju halte, menunggu angkot. Beberapa menit kemudian, kendaraan kuning cerah itu akhirnya merapat ke depan halte. Setelah pantatku mendarat ke kursi, angkot pun mulai melesat. Jalan tidak terlalu macet siang itu. Tidak sampai sepuluh menit, aku berseru pada kernet. Angkot berhenti, aku segera berdiri sambil mengambil uang di saku, lantas menyerahkannya ke kernet. Setelah turun dari angkot, aku berjalan cepat menuju rumah.

Penulis Cerpen
Penulis Cerpen
Sesampainya di rumah, aku meraih kunci di bawah keset, lalu memutarnya ke kenop pintu dan segera masuk. Sepi. Tidak ada siapapun di rumah. Ayahku masih bekerja. Aku mulai menuju kamar, mengempaskan punggungku ke kasur. Setelah beberapa menit tiduran, aku berdiri berjalan menuju dapur. Perutku lapar. Aku mulai menengok ke dalam kulkas, ada semangkuk mangut lele. Aku mengambilnya, lalu menghangatkannya di atas kompor. Setelah beberapa menit, akhirnya urusan makan siang selesai. Aku pergi ke kamar. Tidur, hingga ashar tiba.

Malam pun tiba. Selepas salat Isya aku memutuskan tetap di kamar, belajar, sesekali melihat ponsel. Setelah hampir dua jam belajar, aku memutuskan untuk tidur. Terlelap. Namun, malam itu terasa aneh. Aku terbangun tengah malam—mendengar suara mobil. Benar saja, aku menengok dari jendela kamar ada mobil sedan hitam, dan di sampingnya terdapat ayahku dan seorang perempuan, “mungkin temen ayah,” gumamku. Aku langsung kembali ke kasur. Tak peduli dengan ayah yang sedang di luar.

Setelah salat Subuh, aku keluar kamar. Hening. Tidak ada siapap pun. Aku teringat ayahku, lantas pergi ke kamarnya. Apa ayah masih tidur. Namun, firasatku merasakan ada yang aneh, dan benar ayahku tidak ada di kamarnya. Aku kaget. “Perasaan malam tadi ayah udah pulang,” gumamku. Aku memutari seluruh isi rumah. Tetap nihil tidak ada siapapun di rumah. Aku mulai bingung, lalu kuputuskan untuk kembali ke kamar. Di luar sudah mulai cerah, namun pagi itu perasaanku tidak secerah saat itu.

Aku duduk di atas kasur dan meraih ponselku. Membuka ponselku. Ada beberapa pesan, dan itu dari ayahku. Senyumku akhirnya terbit, namun tak bertahan lama. Setelah aku membuka pesan tersebut, senyumku langsung sirna. Hatiku hancur setelah membaca pesan itu. Pesan itu berisi cacian, makian keji yang ditulis ayahku dan ditujukan untuk diriku. Ayah mencaciku sehina-hinanya. Bahkan dia telah menyatakan kalau dia tidak mencintai anaknya lagi. Pagi itu aku menangis sejadi jadinya.

Dan, pagi itu juga aku izin tidak masuk sekolah. Seharian aku mengurung diriku di kamar. Sesekali menangis, kadang melamun. Nafsu makanku entah pergi ke mana. Aku tidak berselera untuk makan. Pagi berganti siang. Aku masih melamun, tapi sedikit terbersit di pikiranku kalau aku harus meneruskan hidupku kembali meski tanpa ayah. Aku beranjak dari kamar. Beres beres, lalu mandi. Air segar membuat pikiranku tenang. Azan Ashar mulai berkumandang. Aku melaksanakan salat Ashar. Di pertengahan salat, aku menangis di atas sajadah.

Sore berganti malam. Aku pergi ke kamar ayah. Mencari sesuatu yang membuat ayahnya benci padaku. Beberapa menit aku di dalam kamar, aku membuka laci meja. Mataku tertuju pada amplop warna coklat. Kuambil amplop itu, ternyata isinya uang. Aku terkejut, nominal uang itu cukup banyak, “mungkin di tinggal ayah buat aku” gumamku. Aku lantas mengambil amplop itu dan menyimpannya di kamarku. Aku langsung pergi ke kasurku dan segera tidur. Aku tidak memikirkan ayahku lagi.

Pagi pun datang kembali seperti biasanya. Aku bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah. Tapi, hari ini tanpa ayah. Sekolahku hari itu biasa saja. Tidak ada yang spesial. Setelah pelajaran terakhir selesai, aku langsung keluar sekolah dan naik angkot. Beberapa menit kemudian sampai di rumah. Mataku tertuju pada sesuatu, ada dua amplop tergeletak di atas keset rumah, aku mengambilnya, lalu mengambil kunci di bawah keset. Memutar kunci ke kenop pintu lalu segera masuk.

Aku segera masuk ke kamar. Membuka salah satu amplop. Isinya kertas. Ternyata kertas itu berisi bahwa ayah telah dipecat dari kantornya, karena di telah melakukan pelanggaran berat. Aku tidak memedulikannya. Aku lalu membuka amplop kedua, sama berisi kertas, setelah kubaca isinya, aku terkejut dengan isinya, kertas itu berisi catatan cicilan dan tunggakan biaya dengan jumlah nominal yang sangat banyak. Mataku panas. Aku tahu mengapa ayahku benci diriku, karena dia tidak bisa lagi membiayai hidupku. Aku meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah.

Aku terdiam merenung. Beberapa menit hening. Akhirnya terbersit sesuatu di otakku. Mengambil ponsel—mencari sebuah alamat tujuan. Setengah berkutat dengan ponsel, akhirnya menemukan nomor ponsel dari alamat yang kucari. Aku segera menekan nomor itu, tak lama kemudian tersambung dengan seseorang, percakapan terjadi, sepuluh menit berlalu, aku menutup sambungan telepon. Hatiku terasa lega sekali. Aku beranjak, lalu pergi ke kolong kasur, mengambil tas besar lantas menepuk-nepuknya, membersihkan debu yang menempel. Aku pergi ke lemari pakaian memasukkan satu-persatu pakaian ke dalam tas. Beberapa menit selesai, aku mengambil ponsel lalu memesan taksi online. Lima menit menunggu, akhirnya datang mobil putih. Sopir turun lalu mengangkat barang-barangku.

Tiga puluh menit kemudian sampai di stasiun kereta api. Aku menurunkan barang-barangku, lalu membayar sopir, lantas berjalan menuju loket dan membeli tiket. Azan Ashar berkumandang. Aku pergi ke musala stasiun untuk menunaikan salat. Lima belas menit selesai salat, tepat setelah itu kereta merapat. Aku mencari-cari tempat duduk. Sepuluh menit berputar putar, akhirnya menemukan tempat duduk tepat di pojok gerbong.

Kereta mulai berjalan halus—menyusuri rel. Aku menatap keluar jendela, melamun, tapi lamunanku buyar setelah disapa oleh pramugari kereta, ia menawarkan makanan dan minuman.

Perjalananku memakan waktu sekitar lima belas jam. Perjalan menuju ke ujung Pulau Jawa. Hampir dua jam melamun menatap jendela, ponselku berdering menunjukkan waktu salat Magrib telah tiba. Aku mengambil tayamum, lalu salat di atas tempat duduk—menjamak salat Magrib dan Isya. Di luar malam semakin matang, matahari kembali ke tempatnya, luar jendela hanya gelap, tidak ada apa apa, lalu aku menutup jendela dengan gorden dan memutuskan untuk tidur.

Aku terbangun. Ponselku berdering menunjukan waktu salat Subuh. Aku berdiri pergi ke kamar mandi kereta, lalu menyelesaikan urusan buang hajat dan berwudu. Aku kembali ke tempat duduk, lalu salat Subuh. Matahari telah sempurna naik. Kereta berhenti di stasiun tempat tujuan. Aku mengambil barang dan keluar dari kereta. Aku menunggu jemputan. Lima belas menit menunggu, akhirnya datang seorang pria dengan membawa motor bebek, menyapaku, “Mas Bagas ya, ayo naik,” aku mengangguk lalu membonceng motornya. Motor itu berjalan melewati banyak pepohonan rimbun. Sepuluh menit berlalu, akhirnya sampai di depan sebuah gedung tua bertingkat.

Aku turun dari motor, dan tiba-tiba dari belakang muncul seorang pria paro baya menyapaku, “Nak Bagas, selamat datang di sekolah berasrama kami.” Ya, aku akan melanjutkan hidupku di sini. Pria paro baya itu mengajakku berkeliling, lalu menunjukkan kamar dan tempat tidurku. Pria itu pergi, lalu tiba-tiba banyak anak seusiaku mengajak berkenalan.

Itu hanya sekolah asrama biasa, bukan pondok pesantren maupun sekolah agama. Sekolah itu berada di ujung pulau. Berdekatan langsung dengan laut. Pria paro baya tadi merupakan pimpinan dari sekolah berasrama ini. Teman-temanku biasa memanggilnya dengan sebutan “tuanku imam”. Dia memiliki hati yang lembut dan akan menjadi sangat sensitif bila muridnya melakukan kesalahan. 

Hari-hariku berjalan cepat. Kenangan demi kenangan terukir di sana, suka dan duka dilalui bersama. Awalnya, hidup di sana terasa sangat tidak menyenangkan, tapi teman-teman terus menyemangatiku.

***

Lima belas tahun telah berlalu, aku sudah keluar dari sekolah berasrama itu sebelas tahun lalu. Sekarang kuliah di salah satu universitas ternama dengan beasiswa, dan lulus sebagai lulusan terbaik. Sekarang menjadi seorang hakim terkenal. Menangani kasus-kasus besar. Seperti perizinan konsesi tambang ilegal, kasus pencucian uang yang melibatkan tokoh pemerintahan, hingga transaksi narkotika yang berton-ton jumlahnya.

Suatu saat, aku berkesempatan untuk melakukan sidang tuntutan kasus gembong narkoba terbesar se-Asia Pasifik. Terdapat setumpuk kertas di atas meja. Kertas itu berisi surat-surat tuntutan dan identitas dari tersangka. Aku mengambil kertas-kertas itu, lalu membacanya dengan saksama.

Setengah jam membaca—sampai pada nama-nama tersangka, kubaca satu per satu, dan aku merasa ada nama yang ganjil. Aku membacanya lagi, dan benar saja, ada nama itu di kertas ini. Nama ayahku. Mataku panas. Bertahun-tahun aku sudah tidak memikirkannya, tapi ingatan itu datang kembali. Setetes air mata tiba-tiba meluncur turun ke pipi.

Aku menyeka ujung mataku. Membersihkan sisa-sisa air mata. Sidang dimulai sebentar lagi. Aku membereskan kertas-kertas yang baru saja kubaca. Pintu ruangan dibuka. Beberapa orang mulai berdatangan, kursi pun segera penuh. Mataku awas mencari wajah itu. Aku menemukannya. Hatiku bergetar, ternyata benar itu adalah wajah yang sangat kukenali. Aku menahan air mataku untuk turun.

Palu di ketuk, tandanya sidang di mulai. Dua jam sesi tanya jawab tersangka selesai, dan giliranku tiba untuk membacakan tuntutan. Bibirku kelu membacakan kertas itu. Dengan terbata-bata aku membaca kertas itu, “jaksa penuntut umum memutuskan bahwa, seluruh tersangka yang tercantum dalam lampiran ini telah dijatuhi hukuman sanksi pidana berupa penjara seumur hidup dan denda senilai satu miliar rupiah,” aku kembali ke posisiku. Hatiku hancur berkeping-keping. Wajahku tertunduk. Palu di ketuk lagi. Sidang selesai semua orang telah keluar dari ruangan. Bahkan, ayah tidak mengenaliku.

Aku berlari keluar ruangan. Pergi ke kamar mandi. Aku menangis sejadi jadinya. Merutuki diriku sendiri. Ya Tuhan, apakah aku benci ayahku… (*)  

Editor : Yudha Satria Aditama
#ibuku #ayah #cermin #sma negeri