Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bahasa Khas Tuban dan Dialek yang Bikin Orang Luar Kota Sering Bingung, Sudah Pada Tahu?

M. Afiqul Adib • Selasa, 17 September 2024 | 00:10 WIB

 

Para anak-anak Tuban yang memiliki ciri khas dari bahasa dan dialeknya.
Para anak-anak Tuban yang memiliki ciri khas dari bahasa dan dialeknya.

RADARTUBAN - Bayangin, dari satu kata aja, kita bisa langsung ngerti seseorang tersebut adalah orang Tuban. Seru, kan?

Nah, makanya, kamus Bahasa Khas Tuban dan dialeknya ini bakal ngajak kita lebih dalam mengenal daerah yang unik ini.

Sekalian, agar nggak kaget kalau kalian tiba-tiba punya temen orang Tuban.

 

1. Penggunaan Imbuhan “-nêm” dan “-êm”

Dalam bahasa sehari-hari di Tuban, imbuhan “-êm” dan “-nêm” digunakan untuk menunjukkan kepemilikan pada orang kedua tunggal, mirip dengan imbuhan “-mu” dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan imbuhan nem ini bergantung pada huruf terakhir kata yang diimbuhi, apakah berupa vokal atau konsonan.

Sebagai contoh, jika kata tersebut berakhir dengan vokal seperti “kopi,” maka imbuhan yang digunakan adalah “-nêm,” sehingga kata tersebut berubah menjadi “kopinêm” (kopimu).

Sebaliknya, jika kata tersebut berakhir dengan konsonan seperti “kipas,” maka imbuhan yang digunakan adalah “-êm,” menjadi “kipasêm” (kipasmu). Mudah, kan?

 

2. Penggunaan Seruan “Lèh”

Seruan “lèh” digunakan di akhir kalimat sebagai penegasan, baik itu dalam kalimat perintah, pernyataan, maupun pertanyaan.

Dalam bahasa Indonesia, seruan ini setara dengan “dong” di akhir kalimat perintah, “lho” di akhir kalimat berita, dan “kan” di akhir kalimat tanya.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah beberapa contoh:

- "Ayo budhal nyang pasar, lèh!" berarti "Ayo pergi ke pasar, dong!"

- "Iya, lèh, aku percaya saiki." berarti "Iya, lho, aku percaya sekarang."

- "Bapak saiki dhahar, lèh?" berarti "Ayah sekarang makan, kan?"

 

3. Pelafalan Vokal “E” dan “O” Miring

Dalam gramatika bahasa Jawa, huruf “i” pada kata seperti “mulih” (pulang) biasanya dilafalkan dengan penekanan miring (mulíh).

Namun, di Tuban, pelafalan ini sering diganti dengan “èh,” sehingga kata tersebut diucapkan sebagai “mulèh.”

Demikian juga dengan pelafalan vokal “u” yang seharusnya miring (ú) diubah menjadi “o” miring (ó), seperti pada kata “imbuh” yang diucapkan menjadi “imbòh.” Beberapa contoh lainnya termasuk:

 

- “Eròh” untuk “eruh” (tahu)

- “Jirèh” untuk “jirih” (penakut)

- “Putèh” untuk “putih” (putih)

 

Jadi, buat kamu yang baru pertama kali mampir ke Tuban, jangan heran kalau tiba-tiba merasa sedikit asing dengan logat dan kata-kata yang dipakai orang-orang di sini. Tapi justru di situlah serunya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#leh #imbuhan nem #Bahasa Khas Tuban #dialek