RADARTUBAN - Sebagai tindak lanjut insiden kebocoran tangki Terminal Bahan Bakar Minyak PT Pertamina Fuel Tuban pada Juni lalu, Kamis (19/9).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban menggelar simulasi penanggulangan keadaan darurat bencana kegagalan teknologi industri melibatkan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban dan PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).
Simulasi penanggulangan bencana di kawasan industri itu berlangsung di lapangan PT TPPI Desa Remen, Kecamatan Jenu.
Melibatkan 500 lebih personil dari jajaran BPBD, TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, tim Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban, serta tim dari TPPI dan warga dari Desa Remen dan Tasikharjo.
Apel pasukan dipimpin langsung oleh Bupati Aditya Halindra Faridzky.
Kepala BPBD Tuban Sudarmaji menuturkan, skenario simulasi dilaksanakan di tiga lokasi berbeda.
Diawali dari pintu masuk utama PT TPPI, kemudian area permukiman warga di Desa Remen, dan dilanjut area permukiman Desa Tasikharjo.
‘’Kedua desa yang menjadi titik simulasi ini merupakan wilayah ring satu TPPI dan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban,’’ katanya.
Disampaikan Darmaji, praktik penanganan bencana kegagalan teknologi di lokasi industri itu diawali dengan insiden kebocoran pipa TBBM.
Pipa yang disimulasikan bocor itu terhubung antara TPPI dan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban.
Pada tahap awal, penanganan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP) perusahaan masing-masing.
Selanjutnya, karena insiden kebocoran pipa itu tidak bisa ditangani sendiri, sehingga kejadian itu dilaporkan ke BPBD Tuban.
Di sinilah peran sentral BPBD sebagai konduktor penanganan bencana kegagalan teknologi pada industri diperankan dengan sangat detail.
Seketika itu pula, Satuan Komando Penanganan Keadaan Darurat Bencana (SKPD) yang dioperatori BPBD diaktifnya.
Satuan ini melibatkan tim inti BPBD, Kodim, Polres, OPD terkait, forum koordinasi pimpinan kecamatan, serta warga yang tergabung dalam Desa Tangguh Bencana (Destana) di wilayah sekitar.
‘’Alhamdulillah, Destana di Desa Remen dan Tasikharjo juga sudah terbentuk. Kita melibatkan 100 orang dari masing-masing desa,’’ ujarnya.
Disampaikan mantan Camat Plumpang itu, keberadaan Destana sangat dibutuhkan dalam proses penanganan bencana.
Sebab, tim Destana merupakan ujung tombak dimulainya proses evakuasi ketika terjadi bencana.
‘’Di masing-masing RT sudah kami tempatkan minimal satu relawan Destana. Mereka berperan ketika proses pra dan pascaevakuasi,’’ tegasnya, dan itulah yang menjadi konsentrasi BPBD ke depan. Ditargetkan setiap desa memiliki tim destana.
Melihat simulasi yang dimulai dari penanganan pipa bocor hingga pra evakuasi warga, seluruh proses praktik dini penanganan bencana kegagalan teknologi di kawasan industri itu berjalan dengan sangat lancar.
Tahap demi tahap berhasil ditangani dengan baik dan sesuai prosedur.
‘’Kita tidak berharap terjadi bencana kegagalan teknologi di industri, tapi ketika terjadi bencana, kita sudah siap,’’ tegasnya.
Dalam sambutan apelnya, Mas Lindra—sapaan akrab bupati—mengungkapkan bahwa berdasar kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2023, Kabupaten Tuban memiliki Indeks Risiko Bencana dengan skor 131,91 atau kategori kelas risiko bencana sedang.
Ditegaskan bupati muda ini, selain kesiapan sarana dan SDM, tidak kalah penting dari penanganan bencana adalah sinergi dan kolaborasi dari seluruh pihak-pihak terkait.
‘’Seberat apa pun tugas penanggulangan bencana, ketika sinergi dan kolaborasi antar pihak berjalan dengan baik, insya Allah tugas-tugas yang berat itu akan terasa ringan dan bisa diselesaikan bersama-sama,’’ pesannya.
Lebih lanjut Mas Lindra menegaskan bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama.
Karena itu, seluruh pihak harus memiliki kesadaran dalam mebangun sinergi dan kolaborasi.
‘’Kepada semua pihak yang terus meningkatkan kepedulian dan kepekaan terhadap isu kebencanaan, Pemkab Tuban menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya,’’ ucap Mas Lindra. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama