RADARTUBAN - Tuban memiliki salah satu camilan tanah liat yang cukup unik dan dikenal sebagai ampo.
Zaman dahulu, masyarakat menganggap ampo sebagai camilan yang istimewa, terutama di Tuban dan Cirebon.
Meski mulai tergerus zaman dan tergeser oleh camilan lainnya, masyarakat setempat masih ada yang mempertahankan kehadiran camilan ini.
Menurut sejarahnya, tradisi memakan ampo di Tuban semakin marak ketika era penjajahan. Saat itu, sumber makanan tergolong cukup sulit didapatkan
Masyarakat pun akhirnya menggunakan endapan tanah aluvial dari tepi sungai Bengawan Solo. Saat ini, salah satu wilayah yang masih memproduksi ampo adalah Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Tuban.
Meski ampo bisa ditemukan di Tuban atau Cirebon, tetapi keduanya memiliki perbedaan. Perbedaan utama terletak pada bentuknya.
Ampo khas Cirebon memiliki bentuk gulungan yang lebih besar, sedangkan ampo dari Tuban ukurannya lebih kecil.
Tak hanya dijadikan camilan, ampo juga kerap jadi pelengkap untuk berbagai acara budaya, seperti sedekah bumi, selametan, atau saat musim panen tiba.
Ampo dibuat dengan mencampurkan tanah dengan air. Kemudian, adonan tersebut dicampur hingga kalis dan dibentuk menjadi kotak besar.
Selanjutnya, adonan kotak tersebut diserut menggunakan bilah bambu atau pisau hingga membentuk seperti gulungan stik.
Ampo kemudian dijemur. Usai dijemur, ampo selanjutnya dipanggang di atas tungku selama 30 menit hingga 1 jam hingga menghitam.
Menurut pengakuan warga lokal, ampo memiliki sensasi rasa yang mirip kacang. Selain itu, ampo memiliki tekstur yang cukup renyah.
Camilan Tuban ini biasanya dinikmati bersama dengan secangkir teh atau kopi.
Untuk diketahui, kebiasaan memakan makanan yang berbahan dasar tanah disebut sebagai geofagi.
Praktik mengonsumsi makanan yang berasal dari tanah ini sebenarnya bisa ditemui di berbagai belahan dunia, khususnya di negara-negara tropis.
Sebuah studi menyebutkan bahwa ternyata tanah liat atau lempung yang steril tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri
Bahan ampo memang murni berasal dari tanah liat. Namun, tanah yang digunakan bukanlah tanah sembarangan. Umumnya tanah yang dipakai adalah tanah liat hitam.
Masyarakat setempat percaya, ampo berkhasiat untuk menyehatkan pencernaan. Makanan ringan ini juga kerap dijadikan obat untuk segala obat.
Ampo biasanya dikonsumsi sebagai makanan ringan atau camilan, terutama digemari oleh kalangan wanita yang sedang hamil.
Namun menurut kesehatan, ada risiko dalam konsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan atau manusia.
Khususnya risiko dari telur parasit, seperti cacing gelang yang dapat tinggal selama bertahun-tahun di dalam tanah dan dapat menimbulkan masalah.
Namun, risiko ini umumnya sudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat atau suku yang mengonsumsi tanah liat. Kegemaran anak-anak untuk terlibat dalam mengonsumsi ampo membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi cacing. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama