Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Penenun Batik Gedog Minim Regenerasi , Usia Rata-Rata 70-80 Tahun

Hardiyati Budi Anggraeni • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 20:25 WIB

 

Photo
Photo

 

RADARTUBAN - Sebagai warga Tuban, kita patut berbangga memiliki Batik Tulis Tenun Gedog. Berkat warisan budaya nonbendawi tersebut, nama Kabupaten Tuban menjadi perbincangan hangat di tingkat nasional.

Itu menyusul dijadikannya Batik Batik Tulis Tenun Gedog Tuban sebagai ikon Hari Batik Nasional 2024.

Namun sayang, di tengah apresiasi masyarakat nasional yang sangat tinggi tersebut, regenerasi batik di Bumi Ronggolawe berjalan stagnan.

Tidak banyak generasi muda yang prefer terhadap seni melukis di atas kain tersebut.

Padahal, permintaan batik dengan kekhasan burung phonix itu terus meningkat.

Sehingga, berpotensi tidak sebanding dengan permintaan.

‘’Kita bangga dengan Batik Gedog Tuban, apalagi menjadi ikon Hari Batik Nasional 2024. Tapi tantangan kita hari ini adalah minimnya regenerasi batik,’’ kata Dinar Mustikowati, salah satu pegiat batik Tuban.

Perempuan asal Dusun Dukoh, Kecamatan Kerek—tempat Batik Gedog diproduksi—itu mengungkapkan, generasi penenun Batik Gedog yang masih aktif rata-rata berusia 70-80 tahun.

Sementara generasi yang terbilang juga berusia hampir paro baya, yakni antara 40-50 tahun.

‘’Untuk usia muda hampir tidak ada yang benar-benar aktif,’’ katanya.

Selain minimnya peminat generasi muda, terang Dinar, para penenun juga kurang concern dalam menurunkan kemampuannya kepada generasi kiwari.

‘’Kalaupun di turunkan, itu hanya kepada anak-anaknya. Dan itu pun usianya sudah di atas 40 tahun. Sementara yang masih muda enggan untuk mengikuti jejak orang tuanya,’’ ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Dinar, upah penenun juga sangat minim.

Padahal, harga Batik Gedog cukup mahal. Itulah yang menyebabkan pekerjaan menenun tidak banyak diminati generasi muda.

‘’Pendapatan penenun sangat minim, tapi proses pembuatannya cukup lama. Per lembar kain dengan panjang 3 meter dan lebar 90 sentimeter saja membutuhkan waktu 2-3 bulan,’’ ungkapnya.

Karena itu, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu berharap ada atensi dari pemerintah terkait minimnya generasi penenun batik di Tuban.

Pasalnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, batik kebanggan Tuban bisa punah.

‘’Saya berharap ada gerakan pemerintah untuk menangani permasalahan ini secara khusus,’’ tandasnya. (gi/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#batik gedog khas Tuban #Batik Gedog Tuban #Batik Tenun Gedog Tuban #batik gedog #batik #Batik tenun