Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tantangan Melestarikan Legen sebagai Minuman Khas Tuban: Tidak Menjanjikan, Generasi Muda Enggan Meneruskan

Andreyan (An) • Selasa, 8 Oktober 2024 | 17:40 WIB

Proses pengambilan air nira sebelum diolah menjadi legen di pucuk pohon siwalan.
Proses pengambilan air nira sebelum diolah menjadi legen di pucuk pohon siwalan.

Jamak dikenal masyarakat luas bahwa legen merupakan minuman tradisional khas Tuban. Minuman yang dihasilkan dari sadapan getah pohon siwalan ini sering dijadikan oleh-oleh saat berkunjung di kota pesisir pantura ini. Rasa asam-manis alaminya menyisakan pengalaman yang sulit dilupakan.

NAMUN sayang, seperti halnya batik tenun gedog Tuban yang menghadapi tantangan merege­nerasi perajin. Kini, pe­nyadap legen juga terancam tidak me­miliki generasi pe­nerus. Bahkan, anak dari pe­manjat pohon siwalan pun enggan untuk me­neruskan pekerjaan orang tuanya.

‘’Seka­rang ini, sulit se­kali menda­patkan tenaga muda yang bisa dan mau memanjat pohon siwalan,’’ kata Daryo, petani siwalan asal Desa Sam­bungrejo, Kecamatan Semanding.

Meski demikian, Daryo cu­kup mafhum dengan minim­nya generasi muda yang ber­sedia menjadi pemanjat po­hon dengan nama lain lontar tersebut.

Sebab, pekerjaan yang mengandalkan ketang­kasan dalam memanjat ini tidak cukup menjanjikan. Juga tidak sebanding dengan risiko yang bisa ditimbulkan.

‘’Setiap yang tidak menjan­jikan memang jarang diminati generasi muda. Tapi di sisi lain ini (legen, Red) adalah minuman khas Tuban. Jika tidak ada generasi penerus, lalu siapa nanti yang meles­tarikan mi­numan tradisio­nal ini,’’ tutur pria paro baya yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi pemanjat pohon siwalan itu.

Lebih lanjut Daryo menyam­paikan, saat ini generasi terakhir pemanjat pohon siwalan rata-rata sudah berusia 50 tahun.

Jumlanya pun tidak banyak. Di desanya, mungkin hanya hitungan jari. Dan karena jumlahnya yang sangat minim itulah, kini pemanjat pohon siwalan menjadi pekerjaan panggilan.

‘’Jadi, tidak semua petani yang memiliki pohon siwalan berani memanjat sendiri. Ada yang karena sudah tua, ada juga yang memang anak-anaknya tidak berani. Sehingga yang memanjat kami-kami ini,’’ tandasnya.

Sementara itu, disaat kita bangga bahwa legen adalah minuman tradisional khas Tuban. Namun, hak paten minuman tradisional yang sudah ada sejak nenek moyang ini telah dikanto­ngi kabupaten lain, yakni Kabu­paten Sidoar­jo.

Begitu juga dengan buah siwalannya, sudah menjadi hak kekayaan intelektual (HKI) komunal Kabupaten Gresik.

Ketika mendengar bahwa legen dan siwalan telah di­pa­ten­kan oleh kabupaten/kota lain, Daryo yang sudah pulu­han tahun menjadi pe­ta­ni si­wa­lan sekaligus pe­nyadap legen hanya bisa tertunduk lesu.

‘’Saya sempat dengar, ter­nya­ta benar ya. Kami se­bagai pe­tani siwalan sangat sedih. Karena semua tahu bahwa siwalan dan legen adalah ma­kanan dan mi­numan tra­disio­nal khas Tuban,’’ tuturnya.

Daryo menduga, kegagalan dalam mematenkan siwalan dan legen sebagai makanan-minuman tradisional khas Tuban ini lantaran dianggap tidak cukup penting untuk diper­hitungkan. Sehingga, dari dulu hingga sekarang kurang diperhatikan.

‘’Di­banggakan sebagai mi­numan khas Tuban, tapi petaninya kurang diper­hatikan, ini kan aneh,’’ ujarnya.

Sebagai petani siwalan, Dar­yo berharap ada perha­tian dari pe­merintah. Terle­bih, soal mi­nimnya regene­rasi petani siwalan dan pe­nyadap legen.

‘’Jika me­mang siwalan dan legen dianggap sesuatu yang harus diperta­han­kan, semoga ada per­hatian dan solusi yang diha­dirkan pemerintah,’’ tandas­nya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Ke­pe­mu­daan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudpo­rapar) Tu­ban Sumardi me­nu­turkan, sekarang ini Pem­kab Tuban sedang pro­ses pengembalian hak paten legen dan siwalan yang telah dipatenkan daerah lain.

‘’Adanya kejadian ini (legen dan siwalan di patenkan dae­rah lain, Red) menjadi pela­jaran berharga bagi seluruh pihak di Kabupaten Tuban agar tidak terjadi pada budaya Tuban lainnya,’’ tuturnya. (an/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Minuman tradisional khas Tuban #Gedog #legen