Mengidap Cerebral Palsy sejak usia dua tahun, tidak lantas membuat Fira Fitri Fitria merasa putus asa akan hidupnya. Dengan keberaniannya, dia selalu menyuarakan aspirasi para penyandang disabilitas. Berkat kegigihannya itu, sejak 2022 lalu dia terpilih menjadi Koordinator Jatim Inklusi.
DENGAN wajah ramahnya, perempuan yang karib disapa Fira itu menyambut wartawan koran ini dengan senyum mengembang.
Mengenakan kaus berwarna hitam, dia duduk di atas ranjang miliknya. Terlihat beberapa foto kelulusannya terpajang di dinding. Seolah menjelaskan bahwa kekurangannya tak menghambat keberhasilannya. Terutama dalam menempuh pendidikan.
Kekurangan dari Tuhan itu, seolah tak menjadi masalah untuknya. Semangatnya seolah berkobar kala berbicara tentang disabilitas. Semua tidak akan merasakan jika dia memiliki kekurangan secara kasat mata.
Ketika ditanya, mengapa dia begitu gencar untuk menyuarakan suara difabel padahal masih ada banyak orang lain.
Dengan senyuman yang hadir di kedua pipinya dia mengatakan, bahwa tak ingin orang lain merasakan hal yang serupa seperti dirinya.
‘’Karena aku sudah merasakan seperti apa. Jadi jangan sampai adik-adik lain juga merasakan hal yang sama,” ujarnya.
Gadis yang bertempat tinggal di kelurahan Latsari itu telah aktif melakukan inisiasi untuk disabilitas sejak 10 tahun lalu. Upaya untuk menyuarakan disabilitas itu tidak hanya berhenti di Tuban saja.
Namun, kini sudah meluas hingga Jatim. Bersama dengan relasinya yang ada, dia kerap melakukan advokasi terkait kebutuhan disabilitas.
‘’Bersama teman-teman saya sering melakukan pendampingan advokasi khususnya di pendidikan dan pemberdayaan,” katanya.
Meski baru dua tahun berjalan, dia bersyukur bahwa inisiasi yang dilakukan selalu mendapatkan support. Bukan hanya dari teman sesama difabel saja, tapi juga beberapa instansi maupun organisasi.
‘’Bersyukur karena meski kita ini kan belum organisasi resmi. Tapi support itu seperti instansi untuk melakukan program kami itu ada,” ungkapnya.
Memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, sangat diupayakan olehnya untuk penyandang disabilitas. Terutama di Kabupaten Tuban sendiri. Pasalnya, terang Fira, disabilitas yang mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi masih rendah.
‘’Karena pendidikan itu penting. Bukan hanya untuk anak-anak biasa (normal) saja, tapi juga anak-anak disabilitas,’’ terang dia.
Gadis berusia 34 tahun itu berharap, dengan segala gerakan yang telah dia lakukan bisa berdampak untuk masa depan.
‘’Karena kita (para penyandang disabilitas, Red) punya hak yang sama, tidak ada bedanya,” tandasnya. (gi/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama