Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fira Fitri Fitria, Koordinator Jatim Inklusi asal Tuban yang Tak Lelah Menyuarakan Hak Penyandang Disabilitas

Hardiyati Budi Anggraeni • Rabu, 9 Oktober 2024 | 23:30 WIB

Fira Fitri Fitria bercengkrama dengan anak-anak penyandang disabilitas. Selama ini dia memperjuangkan hak-hak disabilitas.
Fira Fitri Fitria bercengkrama dengan anak-anak penyandang disabilitas. Selama ini dia memperjuangkan hak-hak disabilitas.

Mengidap Cerebral Palsy sejak usia dua tahun, tidak lantas membuat Fira Fitri Fitria merasa putus asa akan hidupnya. Dengan keberaniannya, dia selalu menyuarakan aspirasi para penyandang disabilitas. Berkat kegigihannya itu, sejak 2022 lalu dia terpilih menjadi Koordinator Jatim Inklusi.

DENGAN wajah ramahnya, perempuan yang karib disapa Fira itu menyambut wartawan koran ini dengan senyum mengembang.

Mengenakan kaus berwarna hitam, dia duduk di atas ranjang milik­nya. Terlihat beberapa foto kelulusannya terpajang di dinding. Seolah menjelaskan bahwa kekurangannya tak menghambat keberhasilan­nya. Terutama dalam me­nempuh pendidikan.

Kekurangan dari Tuhan itu, seolah tak menjadi masalah untuknya. Semangatnya se­olah berkobar kala berbicara tentang disabilitas. Semua tidak akan merasakan jika dia memiliki kekurangan secara kasat mata.

Ketika ditanya, mengapa dia begitu gencar untuk me­nyuarakan suara difabel pa­dahal masih ada banyak orang lain.

Dengan senyuman yang hadir di kedua pipinya dia mengatakan, bahwa tak ingin orang lain merasakan hal yang serupa seperti diri­nya.

‘’Karena aku sudah me­rasakan seperti apa. Jadi jangan sam­pai adik-adik lain juga me­rasakan hal yang sama,” ujar­nya.

Gadis yang bertempat tinggal di kelurahan Latsari itu telah aktif melakukan inisiasi untuk disabilitas sejak 10 tahun lalu. Upaya untuk menyuarakan disabilitas itu tidak hanya berhenti di Tuban saja.

Na­mun, kini sudah meluas hing­ga Jatim. Bersama dengan relasinya yang ada, dia kerap melakukan advokasi terkait kebutuhan disabilitas.

‘’Bersa­ma teman-teman saya sering melakukan pendampingan advokasi khususnya di pendidikan dan pemberda­yaan,” katanya.

Meski baru dua tahun ber­jalan, dia bersyukur bahwa inisiasi yang dilakukan selalu mendapat­kan support. Bukan hanya dari teman sesama difabel saja, tapi juga beberapa instansi maupun or­ganisasi.

‘’Bersyukur karena meski kita ini kan belum or­ganisasi res­mi. Tapi support itu seperti instansi untuk melakukan pro­gram kami itu ada,” ungkap­nya.

Memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidi­kan, sangat diupayakan oleh­nya untuk penyandang disa­bilitas. Teruta­ma di Kabupaten Tuban sendiri. Pasalnya, te­rang Fira, disabilitas yang menge­nyam pendidikan hing­ga ting­kat tinggi masih rendah.

‘’Kare­na pendidikan itu pen­ting. Bukan hanya untuk anak-anak biasa (normal) saja, tapi juga anak-anak disabilitas,’’ terang dia.

Gadis berusia 34 tahun itu berharap, dengan segala gera­kan yang telah dia lakukan bisa berdampak untuk masa depan.

‘’Karena kita (para penyandang disabilitas, Red) punya hak yang sama, tidak ada bedanya,” tandasnya. (gi/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#cerebal palsy #semangat #hak #Koordinator #difabel #Jatim Inklusi #kekurangan #disabilitas