Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gangguan Mental Tidak Hanya Menyerang Gen Z

Hardiyati Budi Anggraeni • Jumat, 11 Oktober 2024 | 17:35 WIB

 

Photo
Photo

KESEHATAN mental tidak memandang usia maupun gender. Siapa pun bisa mengalami gangguan kesehatan mental.

Psikolog Klinis Anggi Citra Fitroh menyampaikan, setiap orang mengalami fase hidup yang berbeda-beda.

Dan salah satu yang membedakan adalah latar belakang keluarga dan pola asuh. Dari faktor ini akan terbentuk karakteristik serta mental seseorang untuk menghadapi permasalahan dalam hidupnya.

Dalam hal kesehatan mental ini, terang Anggi, yang sering menjadi topik pembahasan adalah generasi muda.

Padahal, semua usia bisa mengalami gangguan kesehatan mental. ‘’Tidak serta merta karena generasi saja yang bisa mengalami gangguan kesehatan mental. Pun tidak hanya Gen Z saja yang dianggap tidak tahan banting (mudah depresi, Red), semua bisa mengalami,’’ katanya.

Lebih lanjut dia menyampaikan, perjalanan hidup seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh diri sendiri.

Namun juga datang dari faktor eksternal. Seperti pola asuh keluarga dan masalah yang dihadapi.

‘’Misalnya, apa yang muncul di usia 20 tahun adalah pembentukan selama 19 tahun pengalaman selama ini,” ujarnya.

Dengan demikian, proses gangguan kesehatan mental seseorang juga tidak bisa dikatakan instan. Ada proses panjang yang dilalui oleh mereka, tapi tidak sadari. Sehingga, ketika gejala tersebut semakin parah, mereka baru menyadari bahwa mereka memiliki penyakit mental. ‘’Semua itu ada prosesnya. Jadi tidak tiba-tiba depresi,” ungkapnya.

Fenomena kesehatan mental ini, terang Anggi, sekarang banyak terlihat jelas di media sosial. Namun, mereka yang peduli dengan kesehatan mental tidak dibarengi dengan pengetahuan. ‘’Masyarakat kita masih menganggap bahwa generasi saat ini memiliki mental lemah dan tidak tahan banting. Padahal, jika dilihat lebih jelas, pemikiran tersebut hanya berdasarkan pada sebuah konten,’’ ujarnya sekaligus meluruskan bahwa kesehatan mental tidak hanya menjangkiti Gen Z saja.

Lulusan Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang ini mengungkapkan, apa yang terjadi di generasi saat ini tentu dipengaruhi oleh generasi sebelumnya. Dan kalaupun sekarang ramai membincangkan kesehatan mental, itu karena pengaruh media sosial saja. Sebab, dari dulu sudah ada gangguan kesehatan mental. ‘’Dan sebenarnya semua bisa mengalami gangguan kesehatan mental. Hanya saja karena generasi sekarang yang lebih aktif pakai media sosial, jadi memang lebih terlihat,” pungkasnya.

 

Hindari Berasumsi

Masifnya informasi tentang kesehatan mental di media sosial ternyata tidak selalu berdampak positif. Sebaliknya, sering kali malah memicu keresahan. Hal ini menandaskan bahwa informasi di media sosial tidak bisa dijadikan acuan untuk melakukan self diagnosis atau asumsi.

Psikolog Klinis Anggi Citra Fitroh menyampaikan, untuk mengetahui seseorang memiliki gangguan kesehatan mental haruslah diagnosis dari ahli. Bukan hanya berdasarkan artikel, konten, atau dari perkataan orang yang bukan bidangnya. ‘’Memang harus dari yang ahli. Dan butuh proses yang panjang,” ungkapnya.

Menurutnya, terlalu banyak menyerap informasi tanpa ada kemampuan memilah mana yang baik malah bisa menjadi petaka.

Pasalnya, tidak semua hal yang tertulis di media bisa disamakan dengan kondisi seseorang.

Butuh penggalian mendalam terhadap gejala yang ditimbulkan dari pasien. ‘’Karena terlalu banyak informasi dan tidak bisa memilah. Jadi semua yang dibaca akhirnya disamakan dengan kondisi dirinya,” ujarnya.

Selain itu, terang dia, terlalu malas untuk mendalami sebuah informasi juga turut menjadi penyebabnya.

Masyarakat selalu menelan mentah-mentah apa yang dibaca. Dengan demikian, ketika merasa mengalami gejala penyakit tertentu yang sama di artikel, mereka akan menganggap tengah mengalami sakit yang sama.

‘’Kita terlalu sering menangkap informasi secara mentah, tanpa ditelaah kembali. Jadi ketika artikel bilang gejala A dan sama pikiran kita ya kita sakit,” terang Anggi

Bisa memproteksi diri dari informasi juga turut menjadi hal penting.

Pasalnya, menyerap banyak informasi tanpa ada pendalaman maupun bertanya kepada sang ahli, bisa memengaruhi kondisi seseorang. Terlalu menduga-duga bisa menyebabkan memperparah kondisi kecemasan seseorang.

‘’Memang harus memiliki proteksi diri yang kuat. Ketika ingin melakukan diagnosis harus dari ahlinya,’’ tandasnya. (gi/tok)

 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#mental health crisis #Mental Health Gen Z #mental health