Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alami Gangguan Mental, tapi Dikira Ketempelan Jin

Hardiyati Budi Anggraeni • Jumat, 11 Oktober 2024 | 19:30 WIB

 

Photo
Photo

 

SEBUT saja namanya Anita. Dia mengaku mengalami gangguan mental pada dirinya. Dalam kesehariannya, dia pernah merasakan jantungnya berdetak lebih kencang tanpa alasan, tidak suka mendengar suara keras, merasa tidak berharga, hingga sering menyakiti dirinya sendiri.

Namun, semua itu dia pendam sendiri.

Apa yang dirasakan Anita seolah tak ada dukungan dari lingkungan sekitarnya. Pemikiran terkait kesehatan mental masih tabu di lingkungannya.

Bahkan, tidak jarang menganggap dirinya ditempeli makhluk halus. Sehingga, banyak yang menyarankan untuk melakukan rukiyah.

Gejalanya pun semakin bertambah seiring tubuhnya yang tidak bisa beristirahat dengan tenang. Hampir setiap hari hanya bisa tertidur 2-3 jam. Dan keesokan harinya, dia akan beraktivitas seperti biasa.

‘’Permintaan untuk rukiyah semakin sering saya dengar, baik dari orang tua maupun tetangga,’’ katanya.

Lantaran tak percaya hal mistis, Anita pun memutuskan untuk memberanikan diri pergi ke psikolog sendiri. Di sana, dia menceritakan semua gejala yang dia alami selama ini.

Apa saja pengalam buruk yang pernah dialaminya hingga saat ini.

‘’Oleh psikolog saya didiagnosa mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan mental akibat suatu kejadian yang traumatis,’’ ujarnya.

Selanjutnya, hampir saban hari dia berteman dengan obat yang harus dikonsumsi. Setiap bulan pun turut berkonsultasi dengan psikolog yang menanganinya.

Meski untuk menghilangkan gejala tersebut tidak mudah, Anita masih sering menyakiti dirinya sendiri.

‘’Masing sering tidak bisa tidur, bahkan ketakutan tanpa tahu penyebabnya,’’ ceritanya.

Anita terus berusaha untuk sembuh. Melakukan apa pun yang dikatakan oleh psikiaternya. Mulai tidak menyimpan benda tajam di kamarnya, sekalipun hanya bolpen.

Menahan untuk tidak membenturkan kepalanya di dinding, hingga berusaha untuk mengatur napas agar bisa mengendalikan ketakutannya. Ataupun bercerita dengan temannya.

Kendati butuh proses yang panjang. Kini, perlahan-lahan dia mulai sembuh dan bisa hidup normal lagi. (gi/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#mental health crisis #mental health issue #mental health