Dikenal dengan rasanya yang manis. Tape tawaran memiliki daya pikatnya sendiri bagi pecinta kuliner. Demi merasakan rasa otentiknya, Jawa Pos Radar Tuban pun datang langsung ke Desa Tawaran, Kecamatan Kenduruan. Tepatnya di ujung barat daya Tuban yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
JIKA ditempuh dari pusat Kota Tuban, jarak menuju Desa Tawaran mencapai kurang lebih 60 kilometer (km). Dibutuhkan waktu sekitar satu jam setengah untuk sampai ke lokasi.
Melewati lima kecamatan, yakni Kecamatan Merakurak, Montong, Singgahan, Bangilan, Jatirogo. Setelah itu baru sampai di Kecamatan Kenduruan.
Sedangkan dari titik kantor kecamatan setempat menuju Desa Tawaran membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.
Jika umumnya tape berbahan dasar singkon, di Desa Tawaran ini tape khasnya berbahan beras ketan. Saking legendarisnya, kudapan yang dihasilkan dari proses fermentasi tradisional ini telah menjadi oleh-oleh khas Kenduruan.
Tak heran, ketika wartawan koran ini sampai di lokasi, terdapat papan nama di beberapa rumah warga yang bertuliskan: Oleh-Oleh Khas Tape Tawaran. Salah satunya rumah Bu Sarti.
Di rumah inilah Jawa Pos Radar Tuban berkunjung. Ketika memasuki rumah tersebut, seketika aroma khas tape menyeruak di seluruh ruangan.
Di rumah sederhana itu, tampak seorang nenek sedang membungkus tape dengan cekatan. Tape-tape itu dibungkus dengan daun ploso yang masih menyisakan tangkainya.
Lalu, dari tangkai-tangkai itu kemudian diikat menjadi satu—membentuk satu porsi tape tawaran yang siap dijual. Nenek dengan kulit yang sudah mengeriput itu adalah Mbah Sarti, pemilih rumah tersebut.
Dari tangan Mbah Sarti, wartawan koran ini berkesempatan mencicipi langsung tape tawaran yang sudah terfermentasi. Tape berbahan dasar beras ketan berwarna hijau itu memiliki cita rasa manis-legit.
‘’Inilah tape tawaran itu. Ciri khasnya ya dibungkus daun ploso dan bentuknya kecil-kecil dengan rasanya yang manis,’’ ujar Mbah Sarti dengan bahasa Jawa.
Menurutnya, rasa yang dihasilkan ini semua dari proses alami tanpa penambahan pemanis. Begitu juga dengan warnanya, dihasilkan dari daun katuk atau daun babing—daun sejenis sayuran yang memiliki khasiat untuk memperlancar asi. Bungkusnya pun khas—menggunakan daun ploso.
‘’Inilah yang membedakan dengan tape di daerah Tuban lainnya yang banyak memakai daun pisang. Mengapa dipilih daun ploso, saya juga tidak tahu, itu sudah ada sejak dulu dari nenek moyang. Mungkin karena di hutan banyak daun ploso, makanya dipilih daun ploso,’’ terang Mbah Sarti.
Pun dengan proses pembuatannya, juga khas. Sebelum beras ketan dibungkus, terlebih dulu diolah kurang lebih dua jam. Setelah dingin, beras ketan baru dibungkus menggunakan daun, lalu didiamkan antara dua sampai tiga hari.
‘’Hampir setiap hari ada yang beli, baik untuk suguhan kegiatan maupun oleh-oleh,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama