RADARTUBAN - Sesuai dengan temanya: Meningkatkan Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Tuban menyelenggarakan kemah sastra kedua.
Kegiatan ini rutin di gelar sebagai ajang pengenalan sastra terhadap siswa SMP se-Kabupaten Tuban.
Kegiatan Kemah Sastra 2 ini dilaksanakan selama dua hari, Selasa-Rabu, 29–30 Oktober 2024. Bertempat di Bumi Perkemahan Sendang Wangi, Kecamatan Merakurak. Diikuti sebanyak 186 peserta dari 62 sekolah SMP se-Kabupaten Tuban.
Di hari pertama, para peserta mendapat materi terkait sastra dan pariwisata dari Dr. Sariban serta Duta Pariwisata Tuban. Dan di hari kedua, diuji melalui tiga perlombaan, yakni membaca puisi, cipta puisi, serta inforgrafi.
Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Tuban Fajrin Muharom Afandi mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda rutinan yang digelar saban tahun. Di tahun ini, jumlah peserta mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. ‘’Alhamdulillah, kalau tahun lalu hanya 51 tim, sekarang sudah 62 tim,’’ katanya.
Fajrin mengatakan, kemah ini sengaja dipilih sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antarsiswa dan pembina. Sehingga rasa kebersamaan semakin terbangun. ‘’Dari kegiatan bersama ini, kita bisa saling mengenal dan tahu orangnya, bukan sekadar namanya saja,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Fajrin berharap, kegiatan ini bisa memberikan manfaat secara luas, baik dari segi materi maupun relasi pertemanan. ‘’Semoga anak-anak bisa mendapatkan hal-hal positif dari kegiatan ini,’’ harapnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan SMP Disdik Tuban Siswo Suwarko yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi yang luar biasa atas terselenggaranya Kemah Sastra ke-2 tersebut.
‘’Ini merupakan kegiatan yang sangat positif untuk anak-anak. Selain untuk belajar, juga untuk menambah relasi antarsekolah,” ujarnya.
Mantan Kepala SMPN 2 Rengel itu mengatakan, kegiatan Kemah Sastra ini juga menjadi bukti bahwa belajar tidak harus di dalam kelas. Belajar bisa dilakukan di ruang terbuka.
Sehingga, para siswa bisa belajar menyesuaikan diri dalam kondisi yang mungkin belum pernah dialaminya. ‘’Ini sungguh akan menjadi pengalaman luar biasa untuk anak-anak,” pungkasnya. (gi)
Editor : Yudha Satria Aditama