Apa yang anda bayangkan ketika mendengar istilah ‘keluar dari zona nyaman’. Jika yang terpikirkan adalah keluar dari rutinitas atau pekerjaan demi mencari tantangan baru, karena merasa masih muda dan memiliki banyak kesempatan, maka anda sudah terjebak pada stereotip negatif dalam memaknai frasa keluar dari zona nyaman.
RADARTUBAN - Sebelum memiliki literatur yang cukup ihwal ‘zona nyaman’ dan ‘keluar dari zona nyaman’, saya pun sempat terjebak dalam memaknai kedua ungkapan tersebut.
Istilah zona nyaman ini diciptakan oleh seorang pemikir asal Persia, Judith Bardwick dalam bukunya berjudul: Danger in the Comfort Zone (Bahaya di Zona Nyaman), dan mulai populer pada tahun 90-an.
Judith Bardwick mendefinisikan bahwa zona nyaman adalah keadaan di mana seseorang merasa sudah aman dengan rutinitas dan keadaannya saat ini.
Sehingga tidak perlu ada usaha lebih.
Jika anda berpikir bahwa datang, duduk, dan pulang saja sudah gajian, kenapa harus menambah banyak beban, maka anda berada di zona nyaman, tapi enggan keluar dari zona tersebut.
Tidak ada yang salah dari istilah zona nyaman yang didefinisikan oleh Judith Bardwick. Namun, yang sering disalahartikan adalah antitesa dari ungkapan tersebut, yakni keluar dari zona nyaman. Jamak di antara kita mengartikan bahwa keluar dari zona nyaman adalah resign dari tempat kerja. Alasannya, ingin mencari tantangan baru, karena sudah bosan dengan rutinitas kerja yang dijalani.
Misalnya, sudah bosan menjadi guru, sehingga memutuskan resign dan memilih jadi Youtuber.
Yang sebelumnya menjadi polisi, lantaran sudah bosan mengatur lalu lintas setiap hari, akhirnya memilih jadi penyanyi.
Seorang wartawan yang merasa lelah menekuni profesi jurnalis karena tidak bikin kaya, sehingga banting setir menjadi kontraktor dan politisi.
Dan bermacam contoh lain—yang mengartikan bahwa keluar dari zona nyaman adalah keluar dari pekerjaan. Sehingga tidak menikmati profesi yang ditekuni.
Disadari atau tidak, kegagalan dalam mendefinisikan ungkapan: keluar dari zona nyaman ini telah menjangkiti generasi muda saat ini. Begitu banyak Gen Z menjadi kutu loncat dari perusahaan satu ke perusahaan lain lantaran sudah kadung terhegemoni dengan stereotip negatif keluar dari zona nyaman. Dan semua itu disebabkan minimnya literasi, sehingga gagal paham sejak dalam pikiran.
Hanya karena merasa tertantang dengan omongan teman yang menyesatkan, mumpung masih muda harus berani banyak mencoba, kini banyak generasi muda yang akhirnya menjadi orang tidak konsisten.
Dan bukannya mendapat kesempatan baru yang lebih baik, malah kesempitan yang didapat. Sebab, di tempat kerja yang baru juga merasa tidak nyaman.
Dan karena sudah kadung memiliki karakter ‘kutu loncat’, sehingga resign dan mencari pekerjaan baru lagi. Lalu begitu seterusnya.
Alih-alih diharapkan menjadi generasi emas, malah jadi generasi (c)emas di kemudian hari.
Lantas, apa makna sebenarnya dari ungkapan keluar dari zona nyaman.
Sebelum jauh membahas makna yang sesungguhnya dari ungkapan yang sering disalahartikan ini, penting untuk lebih dulu merefleksikan diri.
Benarkah kita sudah berada di zona nyaman? Atau hanya sekadar aman: datang, duduk, dan gajian.
Sebab, sebelum keluar dari zona nyaman kita harus (bisa) merasakan berada di zona nyaman.
Artinya, jika merasa di zona nyaman saja belum, maka terlalu jauh berpikir untuk keluar dari zona nyaman.
Sederhananya demikian, zona nyaman adalah zona di mana seseorang merasa stagnan dengan rutinitasnya. Tidak ada yang spesial atau value dari yang dikerjakan.
Lebih tepatnya, melakukan pekerjaan serasa hanya sekadar gugur tugas.
Keluar dari zona nyaman adalah keinginan kuat seseorang dari dalam dirinya sendiri.
Bukan dari pihak luar, apalagi omongan teman yang menyesatkan. Keinginan kuat yang dimaksud adalah menjadi lebih baik dari saat ini—yang dalam dirinya merasa belum baik.
Makna di atas menegaskan bahwa keluar dari zona nyaman bukan berarti keluar dari pekerjaan sekarang.
Tapi sebaliknya, meningkatkan potensi diri agar semakin lebih baik. Bahwa bekerja bukan hanya sekadar gugur tugas.
Seorang guru misalnya, agar tidak terkungkung di zona nyaman, maka seorang guru harus semakin kreatif dalam menciptakan inovasi pembelajaran.
Sehingga, proses belajar mengajar lebih menyenangkan, sehingga murid mudah untuk memahami setiap pelajaran yang disampaikan.
Begitu juga polisi, agar tidak terjebak dengan rutinitas zona nyaman (hanya sekadar mengatur lalu lintas saban pagi), maka seorang polisi harus mampu menciptakan trobosan-terobosan baru agar masyarakat semakin taat dalam berlalu lintas.
Pun demikian dengan seorang wartawan, agar tidak terjebak pada rutinitas yang membosankan: setiap hari hanya sekadar menulis berita 5W+1H, maka seorang jurnalis harus keluar dari zona nyamannya dengan menulis berita yang lebih mendalam dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Sehingga, apa yang ditulis memiliki value. Dan pada tataran yang lebih tinggi—sebagai penulis, seorang wartawan harus menghasilkan ‘mahkota’, yakni sebuah karya.
Jika itu (man-challenge diri) mampu diterapkan dalam setiap profesi masing-masing, maka kita akan berada pada zona nyaman yang hakiki.
Di mana kita merasa benar-benar nyaman dengan passion kita, merasa nyaman dengan pekerjaan kita, dan merasa nyaman dengan lingkungan kita.
Tahu Thomas Alva Edison, penemu lampu pijar? Untuk mencapai puncak kenyamanan yang sesungguhnya, Thomas Alva Edison berjuang hingga ribuan kali untuk mengutak-atik logam dan platinum sampai akhirnya tercipta bola lampu.
Jika yang dimaksud keluar dari zona nyaman adalah meninggalkan rutinitas yang membosankan, hanya ita-itu saja, maka Thomas Alva Edison tidak mungkin tertulis dalam buku sejarah sebagai penemu lampu pijar.
Begitu juga mantan pelatih Liverpool FC, Jurgen Klopp. Untuk mencapai kesuksesan menjuarai Liga Inggris bersama Liverpool, Klopp harus memulainya dengan beberapa kali kegagalan.
Namun, Klopp tidak menyerah dan keluar dari Liverpool untuk melatih klub lain, tidak.
Sebaliknya, Klopp terus keluar dari zona nyaman dengan membangun kekuatan tim secara konsisten dari tahun ke tahun, hingga akhirnya zona nyaman yang sesungguhnya itu berhasil diraih: menjuarai Liga Inggris setelah 30 tahun lamanya klub Merseyside itu menunggu.
Jadi, keluar dari zona nyaman adalah semangat tidak pernah lelah dalam mengembangkan potensi diri untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Dan orang yang konsisten keluar dari zona nyaman akan menjadi ahli di bidangnya. Itulah arti keluar dari zona nyaman yang sesungguhnya. (tok)
Editor : Yudha Satria Aditama