RADARTUBAN - Keterlambatan membaca pada anak ternyata tidak hanya dialami siswa usia sekolah dasar (SD). Di jenjang sekolah menengah pertama (SMP), juga ditemukan sejumlah siswa kesulitan membaca dan melakukan perkalian sederhana.
Selain kesulitan membaca dan berhitung, sebagian yang lain juga masih kesulitan dalam menyerap pelajaran.
‘’Jika dibanding kesulitan membaca dan berhitung, yang paling banyak adalah kesulitan menyerap pelajaran,’’ kata Kepala Pengelolaan Pendidikan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Siswo Suwarko.
Berbeda dengan SD yang proses asesmennya dikhususkan kelas 3 dan 6. Di jenjang SMP, asesmen dilakukan untuk kelas 7, 8, dan 9. Hanya saja, Siswo tidak menyebut berapa jumlah anak yang masih kesulitan membaca dan menyerap pelajaran tersebut.
Menurutnya, ada banyak faktor yang memengaruhi anak kesulitan membaca menyerap pelajaran tersebut. Termasuk faktor dari lingkungan keluarga.
‘’Jadi, ada banyak faktor yang memengaruhi. Dari orang tua yang tidak terlalu perhatian juga bisa menjadi faktor,’’ katanya.
Sayangnya, terang Siswo, masih ada sebagian orang tua yang menganggap bahwa keterlambatan anak dalam membaca sebagai aib. Dan karena dianggap aib, sehingga mereka enggan menerima hasil asesmen yang dilakukan psikolog.
‘’Banyak orang tua yang menyangkal bahwa keterlambatan membaca dan menyerap pelajaran itu bukan karena anaknya mengalami kekurangan (berkebutuhan khusus), tapi karena anaknya memang malas belajar,’’ ujarnya.
Ditegaskan Siswo, peran orang tua dalam membantu anak belajar ini sangat penting. Sebab, tanggung jawab mendidik anak bukan hanya di sekolah.
‘’Di rumah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak masing-masing. Misalnya, selepas sekolah, orang tua bisa mengulang kembali mata pelajaran yang diajarkan di sekolah,’’ ujarnya sebagai bentuk elaborasi pembelajaran saat di rumah.
Lebih lanjut, mantan Kepala SMPN 2 Rengel itu menegaskan, hasil asesmen penting diketahui oleh setiap orang tua atau wali murid. ‘’Tujuannya, agar guru dan orang tua bisa berkolaborasi untuk mendampingi anak tersebut,’’ tandasnya. (gi/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama