Perlahan tapi pasti, Pemkab Tuban berhasil menurunkan angka stunting cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir ini. Dari 25,1 persen pada 2021, turun menjadi 17,8 persen pada akhir 2023 lalu. Dan ditargetkan turun menjadi 14 persen pada 2024 ini.
PADA 2023 lalu, keberhasilan Pemkab Tuban dalam meningkatian gizi anak sejak dalam kandungan hingga usia balita (bawah lima tahun) itu mendapat apresiasi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian dan komitmen Pemkab Tuban terhadap penurunan angka prevalensi stunting di Kota Batik Gedog.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Esti Surahmi menuturkan, keberhasilan Pemkab Tuban dalam menurunkan angka stunting ini tidak lepas dari bermacam program lintas sektor yang dicanangkan Bupati Aditya Halindra Faridzky sejak 2021.
Diungkapkan Esti, program penurunan angka prevalensi stunting ini tidak hanya tertumpu pada dinas kesehatan, tapi melibatkan sejumlah stakeholder dan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pekab Tuban.
‘’Jadi, ada kolaborasi dan konvergensi (intervensi program secara terkoordinir dan terintegrasi) dengan semua OPD terkait,’’ katanya.
Misalnya, kolaborasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRPRKP) Tuban melalui program peningkatan sistem penyediaan air minum (SPAM) jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, serta penyediaan sanitasi layak untuk warga.
Program ini terkonvergensi dengan sejumlah program penurunan angka stunting yang dicanangkan dinas kesehatan.
Dengan perluasan jaringan SPAM dan penyediaan sanitasi layak, kebutuhan air bersih warga semakin terjamin dan lingkungan menjadi sehat.
‘’Dua faktor ini sangat memengarui penurunan angka stunting, karena lingkungan yang sehat mendukung tumbuh kembang anak,’’ ujarnya.
Begitu juga dengan dinas yang lain, seperti dinas pertanian dan perikanan melalui program gerakan memasyarakatkan makan ikan (gemarikan).
Kemudian dinas sosial melalui program bantuan sosial yang tepat sasaran, dan dinas pendidikan melalui peran edukasi menjaga pola hidup sehat dan bersih sejak pendidikan usia dini.
Selain membangun kolaborasi program antar instansi, dinas kesehatan juga menggandeng organisasi profesi kesehatan.
Sebab, para tenaga kesehatan ini memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Juga bersinergi dengan organisasi kemasyarakatan dan organisasi wanita, seperti PKK, Muslimat, dan Aisyiyah.
Berikutnya, para akademisi dari sejumlah perguruan tinggi juga diajak untuk merumuskan program penurunan angka stunting yang efektif dan efisien.
‘’Semua yang memiliki peran di tengah masyarakat, kami ajak untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam menurunkan angka stunting,’’ terang Esti.
Agar program yang dijalankan berjalan efektif, dinas kesehatan melakukan intervensi pencegahan stunting dari usia remaja, terutama remaja putri.
Mereka yang nantinya bakal menjadi ibu ini diberikan pendidikan pola hidup sehat sejak usia remaja, seperti menjaga pola makan dan pemberian tablet tambahan darah.
‘’Untuk ibu hamil kurang energi kronik dan balita kurang gizi, kami berikan tambahan makanan bergizi sesuai kebutuhan. Dan kepada keluarga berisiko stunting, kami lakukan pendampingan secara berkelanjutan,’’ terang mantan staf ahli bupati bidang kemasyarakatan dan sumber daya manusia itu.
Dari semua program yang dijalankan secara kolaboratif dan konvergensi tersebut, pelan namun pasti, angka stunting di Kabupaten Tuban mengalami penurunan signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Hal ini menandaskan bahwa seluruh program kolaborasi antar organisasi perangkat daerah (OPD), organisasi kemasyarakat, organisasi profesi, serta para stake holder di Kabupaten Tuban berjalan dengan baik selama tiga tahun kepemimpinan Bupati Aditya Halindra Faridzky. (tok)
Editor : Ahmad Atho’illah