Seperti peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Selain menjunjung adat istiadat dan norma yang berlaku di mana ia tinggal, Fatia Mursida Az Zahra yang kini kuliah di Universitas Muhammadiyah Pontianak, Kalimantan Barat juga sukses menorehkan prestasi di tanah rantau. Dia berhasil menjadi runner up 1 Duta Anti Narkoba Provinsi Kalbar.
RADARTUBAN - Berbekal pengalamannya sebagai Duta Anti Narkoba Tuban 2023, Fatia Mursida Az Zahra yang sedang melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Pontianak memberanikan diri untuk mengikuti Duta Anti Narkoba di provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Semua itu berangkat dari prinsipnya yang selalu ingin mencoba.
Diakui dia, rasa grogi sempat menghantui perjalanannya selama kompetisi. Maklum, Fatia—sapaan akrabnya—yang berasal dari Tuban tidak cukup memahami tradisi kompetisi di Kalbar. Namun, semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk meraih prestasi terbaik dalam kompetisi tersebut.
Dan benar saja, cewek asal Kecamatan Bancar ini berhasil masuk 30 finalis yang terpilih, dan lanjut untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
Menurutnya, ada banyak hal baru dan menarik yang didapat selama menjadi kontestan Duta Anti Narkoba Provinsi Kalbar.
Satu di antaranya, adalah penampilan catwalk atau peragaan busana di atas panggung. Sementrara kompetisi di Jawa Timur tidak sampai menghadirkan season tersebut.
‘’Karena hampir semua peserta dari sana memiliki pengalaman mengikuti kompetisi pageant, sehingga mereka tampak biasa. Sementara di Tuban tidak begitu, jadi sempat kaget juga,’’ ujarnya.
Namun, hal itu tidak menjadi halangan baginya. Meski tidak memiliki pengalaman, dia akhirnya berlatih catwalk sendiri.
‘’Karena otodidak, ya minimal supaya bisa,’’ katanya lantas tersenyum. Selain itu, terang dia, kebiasaan negatif masyarakat Kalbar dalam mengonsumsi narkoba juga beda dari Tuban.
‘’Jika di Tuban yang dikenal Karnopen, di sana ada sendiri, namanya daun kratom atau semacam ganja. Akhirnya saya belajar lagi tentang jenis obat-obatan terlarang lainnya, termasuk di Kalbar,’’ ungkapnya.
Perbedaan kompetisi lainnya adalah soal materi. Jika di Tuban hanya diberikan soal-soal, di Kalbar diberikan tugas berupa studi kasus, lalu diminta untuk memecahkannya—mencari solusi dari permasalahan tersebut. ‘’Jadi, kompetisi di Kalbar sedikit lebih berat dan sulit,’’ katanya.
Dan tidak kalah unik lagi, lanjut dia, kompetisi dilangsungkan di sebuah mall. Jauh berbeda dari kompetisi di Jawa Timur yang biasanya digelar di dalam gedung—ruangan tertutup.
‘’Sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya (kompetisi di dalam mall, Red). Jadi langsung dilihat banyak orang,’’ ujarnya sambil tertawa.
Meski demikian, Fatia mengaku sangat menikmati setiap tahapan kompetisi. Dan dengan kompetisi yang ketat dan jauh beda dari kompetisi yang dijalani sebelumnya, dia tidak pernah membayangkan bakal meraih juara 2. ‘’Ini sungguh pengalaman yang luar biasa,’’ tandas gadis kelahiran 2006 itu. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama