Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fatia Mursida Az Zahra, Duta Anti Narkoba Tuban yang Raih Runner Up 1 Duta Anti Narkoba Provinsi Kalbar. Kompetisi Digelar di Mall, Pengguna Narkoba

Hardiyati Budi Anggraeni • Kamis, 7 November 2024 | 16:30 WIB

Photo
Photo

Seperti peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Selain menjunjung adat istiadat dan norma yang berlaku di mana ia tinggal, Fatia Mursida Az Zahra yang kini kuliah di Universitas Muhammadiyah Pontianak, Kalimantan Barat juga sukses menorehkan prestasi di tanah rantau. Dia berhasil menjadi runner up 1 Duta Anti Narkoba Provinsi Kalbar.

RADARTUBAN - Berbekal pengalaman­nya sebagai Duta Anti Nar­koba Tuban 2023, Fatia Mur­sida Az Zahra yang se­dang melanjutkan pendi­dikan S1 di Universitas Mu­hammadiyah Pontianak memberanikan diri untuk mengikuti Duta Anti Narkoba di provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Semua itu berang­kat dari prinsipnya yang selalu ingin mencoba.

Diakui dia, rasa grogi sem­pat menghantui perjalanan­nya selama kompetisi. Mak­lum, Fatia—sapaan akrab­nya—yang berasal dari Tu­­ban tidak cukup mema­hami tradisi kompetisi di Kalbar. Namun, semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk meraih prestasi ter­baik dalam kompetisi tersebut.

Dan benar saja, cewek asal Kecamatan Bancar ini ber­hasil masuk 30 finalis yang terpilih, dan lanjut untuk mengikuti kompetisi berikut­nya.

Menurutnya, ada banyak hal baru dan menarik yang didapat selama menjadi kon­testan Duta Anti Narkoba Provinsi Kalbar.

Satu di an­taranya, ada­lah penam­pilan catwalk atau peragaan bu­sana di atas pang­gung. Se­mentrara kompetisi di Jawa Timur tidak sampai meng­hadirkan season tersebut.

‘’Kare­na hampir semua pe­­serta dari sana memiliki pe­ngalaman me­ngikuti kompetisi pageant, sehingga mereka tampak biasa. Se­mentara di Tuban tidak be­gitu, jadi sempat kaget juga,’’ ujarnya.

Namun, hal itu tidak men­jadi halangan baginya. Meski tidak memiliki pengalaman, dia akhir­nya berlatih catwalk sendiri.

‘’Karena otodidak, ya minimal supaya bisa,’’ ka­tanya lantas tersenyum. Selain itu, terang dia, kebia­saan negatif masyarakat Kal­bar dalam mengonsumsi narkoba juga beda dari Tuban.

‘’Jika di Tuban yang dikenal Karnopen, di sana ada sendiri, namanya daun kratom atau semacam ganja. Akhirnya saya belajar lagi tentang jenis obat-obatan terlarang lainnya, ter­masuk di Kalbar,’’ ungkapnya.

Perbedaan kompetisi lain­nya adalah soal materi. Jika di Tu­ban hanya diberikan soal-soal, di Kalbar diberikan tugas be­rupa studi kasus, lalu diminta untuk meme­cah­kannya—mencari solusi dari permasa­lahan tersebut. ‘’Jadi, kompetisi di Kalbar sedikit lebih berat dan sulit,’’ katanya.

Dan tidak kalah unik lagi, lanjut dia, kompetisi dilang­sungkan di sebuah mall. Jauh berbeda dari kompetisi di Jawa Timur yang biasanya digelar di dalam gedung—ruangan tertutup.

‘’Sama sekali tidak ter­pikirkan sebe­lumnya (kom­petisi di dalam mall, Red). Jadi langsung dilihat banyak orang,’’ ujarnya sambil tertawa.

Meski demikian, Fatia me­ngaku sangat menikmati se­tiap tahapan kompetisi. Dan de­ngan kom­petisi yang ketat dan jauh beda dari kompetisi yang dijalani se­be­lumnya, dia tidak pernah membayangkan bakal me­raih juara 2. ‘’Ini sungguh penga­laman yang luar biasa,’’ tandas gadis kelahiran 2006 itu. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kompetisi #prestasi #narkoba #runner up #Karnopen #Rantau #kalimantan barat #pengguna #duta anti narkoba