RADARTUBAN – Memperingati satu abad Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri. Minggu(10/11), Yayasan Ash Shomadiyah menggelar Olimpiade Santri Nusantara.
Mengusung tema Melestarikan Ngaji Meneguhkan Khidmah Alfalah untuk Bangsa. Kegiatan ini diikuti 206 peserta dari 38 pesantren se-Kabupaten Tuban.
Ketua Panitia Muhammad Aqil Dhulfikri mengatakan, kegiatan ini sekaligus ajang seleksi tingkat kabupaten untuk mencari kandidat terbaik yang nantinya mewakili Kabupaten Tuban di zona dua.
Dijelaskan dia, Olimpiade Santri Nasional ini terdiri dari enam cabang perlombaan, meliputi Nadzom Aqidatul Awam, Qiroatil Kitab Fathul Qorib, Hifdzin Nadzan Alfiyah, Hifdzin Nadzan Jauharul Maknun, MQK Shohih Bukhori, dan MQK Tafsir.
‘’Santri yang terpilih nanti akan berkompetisi lagi di zona dua, meliputi Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Gresik, dan Surabaya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Mewakili tuan rumah sekaligus Ketua Yayasan Ash Shomadiyah, Riza Sholahuddin Habibi berpesan agar semua peserta yang mengikuti kompetisi ini menata niat dengan naik.
‘’Niatkan kegiatan perlombaan ini untuk melaksanakan tiga kunci penting yang telah diajarkan kepada santri, yaitu keilmuan, akhlak, dan menangkal radikalisme. Jangan meniatkan untuk mendapatkan hadiah saja,’’ pesannya.
Disampaikan Gus Riza—sapaan akrabnya, Olimpiade Santri Nusantara ini merupakan ajang untuk mengasah dan meningkatkan keilmuan santri.
Jika biasanya hanya mengikuti lomba olimpiade sains, fisika, kimia, dan matematika, kini olimpiade keagamaan. ‘’Jadi, ini merupakan pengalaman baru yang sangat berharga,’’ tuturnya.
Lebih lanjut, Gus Riza berpesan, untuk memiliki ilmu, santri harus terus memperkaya diri dalam membaca.
Terlebih, di era sekarang ini. Kegemaran membaca menjadi hal sangat penting seiring perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin masif.
‘’Dengan mengikuti lomba ini, santri akan terbiasa membaca,’’ ujarnya.
Di sisi lain dan tidak kalah penting, terang Gus Riza, santri harus memiliki karakter sopan-santun dan berbudi luhur.
Ini penting untuk menangkal terjadinya bullying di lingkungan sekolah dan pesantren. Sebab, bullying juga terjadi di lingkungan pesantren.
Namun, jika dibanding dengan sekolah umum, bullying di pondok pesantren lebih sedikit.
‘’Kalau dijumlah, kita bisa memastikan bahwa kasus tersebut memang banyak terjadi di lembaga umum daripada lembaga keagamaan,” papar Gus Riza.
Dan yang tidak kalah penting, terang Gus Riza, adalah menangkal radikalisme. Meski saat ini tidak ditemukan pelaku radikalisme seperti saat zaman PKI.
Namun, bibit-bibit yang menjurus ke arah radikalisme sering ditemui di kalangan masyarakat. Diharapkan, dengan memiliki akhlak dan berbudi luhur, serta pengetahuan dan pengalaman yang luas, para santri bisa menjadi duta-duta toleransi untuk menangkal radikalisme di Indonesia.
Sementara itu, Ketua PCNU Tuban KH Ahmad Damanhuri sangat mengapresiasi atas terselenggaranya Olimpiade Santri Nusantara.
‘’Ini merupakan agenda yang sangat bagus untuk mencari santri-santri terbaik yang memahami kitab salaf,’’ tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan Kiai Daman—sapaannya, pondok pesantren merupakan pilar sebuah negara. Artinya, ketika santri kuat maka negara ini juga kuat.
‘’Santri selalu konsisten dalam menjaga ajaran-ajaran salaf dari Rasulullah,’’ katanya.
Kiai Daman berharap, keberadaan pondok pesantren bisa menghadirkan santri-santri yang memiliki budi pekerti luhur dan memiliki pemahaman mendalam tentang Islam.
‘’Kegiatan seperti ini bisa mendorong kebaikan santri, terutama santri salaf,’’ tandasnya. (gi/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama