Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pagar Tembok Roboh, Guru-Siswa SDN Sokogrenjeng 2 Kenduruan Dihantui Kecemasan

M. Mahfudz Muntaha • Senin, 2 Desember 2024 | 04:26 WIB
Kepala SDN Sokogrenjeng 2, Kecamatan Kenduruan, Susmiyatun melihat bekas pagar tembok sekolah yang roboh.
Kepala SDN Sokogrenjeng 2, Kecamatan Kenduruan, Susmiyatun melihat bekas pagar tembok sekolah yang roboh.

RADARTUBAN – Ambruknya pa­gar tembok di SDN Soko­grenjeng 2, Kecamatan Ken­­duruan beberapa hari lalu menyisakan kecemasan bagi para guru dan siswa.

Terutama yang menem­pati ruang kelas 1, 2, dan 3. Pasalnya, pagar tembok yang juga berfungsi sebagai pena­han tanah itu hanya berjarak sejengkal dari bangunan ketiga ruang kelas tersebut.

Sementara itu, rencana per­baikan sepertinya belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Itu menyusul angga­ran pen­dapatan dan belanja daerah (APBD) 2025 yang sudah dite­tapkan sejak awal Novem­ber lalu. Sehingga, proses peng­alokasian ang­garan baru me­mungkinkan dilakukan pada perubahan APBD 2025 nanti.

‘’Tahun depan kami usul­kan di anggaran perubahan APBD,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban Abdul Rakhmat kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Praktis, jika tidak ada solusi untuk melakukan perbaikan lebih cepat, maka kecemasan para guru dan siswa akan ber­lanjut hingga triwulan keempat tahun anggaran 2025. Sebab, proses pemba­hasan P-APBD baru bisa dilakukan minimal Agustus tahun depan.

Karena itu, para guru ber­harap ada diskresi dari Bupati Aditya Halindra Fa­ridzky agar pagar tembok pe­nahan bangunan sekolah sepanjang kurang lebih 10 meter itu bisa segera diper­baiki. Dengan begitu, kegia­tan belajar mengajar di kelas 1, 2, dan 3 bisa lebih tenang.

Kepala SDN Sokogrenjeng 2 Susmiyatun mengatakan, pagar tembok yang ambruk pada hari Kamis (28/11) setelah hujan deras sehari sebelumnya itu dibangun kurang lebih 12 tahun lalu. Tepatnya pada 2012.

Sebenarnya, terang dia, tanda-tanda akan ambruk­nya pagar tembok sekolah yang ber­himpitan dengan rumah warga itu sudah di­prediksi sebe­lumnya.

Sebab, seturut ber­tambahnya ta­hun, kondisinya semakin mem­prihatinkan. Terlebih, kontur tanahnya juga sangat labil. Mudah terkikis air hujan lantaran minimnya bebatuan. ‘’Karena hujan deras dan sering terkikis air, sehingga lama-lama long­sor dan ambruk,’’ katanya.

Susmiyatun berharap, am­bruknya pagar tembok seko­lah ini bisa secepatnya di­per­baiki. Sebab, hal yang paling dikhawatirkan dari kejadian ini adalah turut terkikisnya fondasi bangu­nan sekolah, lantaran jarak­nya yang sangat dekat. Terlebih, saat ini memasuki musim penghujan.

‘’Kami benar-benar berharap segera ada perbaikan pagar, supaya tidak sampai merembet ke bangunan kelas,’’ ujarnya.

Sedianya, terang Susmi­ya­tun, pihaknya ingin me­la­kukan perbaikan sendiri. Na­mun, karena minimnya anggaran yang dimiliki se­kolah, sehingga tidak me­mungkinkan untuk dilaku­kan.

‘’Kalau pun memin­ta wali murid juga sangat tidak me­mungkinkan, mengingat eko­nomi masyarakat sekitar masih rendah,’’ tandasnya, se­hingga benar-benar ber­harap ada bantuan segera dari pe­merintah daerah. (fud/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #dinas pendidikan #ambruk #kecemasan #siswa #apbd #guru #pagar