RADARTUBAN – Ambruknya pagar tembok di SDN Sokogrenjeng 2, Kecamatan Kenduruan beberapa hari lalu menyisakan kecemasan bagi para guru dan siswa.
Terutama yang menempati ruang kelas 1, 2, dan 3. Pasalnya, pagar tembok yang juga berfungsi sebagai penahan tanah itu hanya berjarak sejengkal dari bangunan ketiga ruang kelas tersebut.
Sementara itu, rencana perbaikan sepertinya belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Itu menyusul anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2025 yang sudah ditetapkan sejak awal November lalu. Sehingga, proses pengalokasian anggaran baru memungkinkan dilakukan pada perubahan APBD 2025 nanti.
‘’Tahun depan kami usulkan di anggaran perubahan APBD,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban Abdul Rakhmat kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Praktis, jika tidak ada solusi untuk melakukan perbaikan lebih cepat, maka kecemasan para guru dan siswa akan berlanjut hingga triwulan keempat tahun anggaran 2025. Sebab, proses pembahasan P-APBD baru bisa dilakukan minimal Agustus tahun depan.
Karena itu, para guru berharap ada diskresi dari Bupati Aditya Halindra Faridzky agar pagar tembok penahan bangunan sekolah sepanjang kurang lebih 10 meter itu bisa segera diperbaiki. Dengan begitu, kegiatan belajar mengajar di kelas 1, 2, dan 3 bisa lebih tenang.
Kepala SDN Sokogrenjeng 2 Susmiyatun mengatakan, pagar tembok yang ambruk pada hari Kamis (28/11) setelah hujan deras sehari sebelumnya itu dibangun kurang lebih 12 tahun lalu. Tepatnya pada 2012.
Sebenarnya, terang dia, tanda-tanda akan ambruknya pagar tembok sekolah yang berhimpitan dengan rumah warga itu sudah diprediksi sebelumnya.
Sebab, seturut bertambahnya tahun, kondisinya semakin memprihatinkan. Terlebih, kontur tanahnya juga sangat labil. Mudah terkikis air hujan lantaran minimnya bebatuan. ‘’Karena hujan deras dan sering terkikis air, sehingga lama-lama longsor dan ambruk,’’ katanya.
Susmiyatun berharap, ambruknya pagar tembok sekolah ini bisa secepatnya diperbaiki. Sebab, hal yang paling dikhawatirkan dari kejadian ini adalah turut terkikisnya fondasi bangunan sekolah, lantaran jaraknya yang sangat dekat. Terlebih, saat ini memasuki musim penghujan.
‘’Kami benar-benar berharap segera ada perbaikan pagar, supaya tidak sampai merembet ke bangunan kelas,’’ ujarnya.
Sedianya, terang Susmiyatun, pihaknya ingin melakukan perbaikan sendiri. Namun, karena minimnya anggaran yang dimiliki sekolah, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan.
‘’Kalau pun meminta wali murid juga sangat tidak memungkinkan, mengingat ekonomi masyarakat sekitar masih rendah,’’ tandasnya, sehingga benar-benar berharap ada bantuan segera dari pemerintah daerah. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama