RADARTUBAN – Jumlah pekerja di Kabupaten Tuban yang berpendidikan tinggi ternyata masih sangat minim. Hal ini menandaskan bahwa indeks lama pendidikan di Kota Legen masih menjadi persoalan serius yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah daerah.
Tahun ini, misalnya. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, dari 702.498 penduduk Kota Legen yang sudah bekerja, lulusan perguruan tinggi hanya 6,78 persen.
Berikutnya, disusul lulusan SMA 14,69 persen, SMK 9,36 persen, SMP 19,30 persen, dan yang paling mendominasi adalah lulusan SD, yakni 49,87 persen dari total penduduk Tuban yang tahun ini bekerja.
Ketua BPS Tuban Andhie Surya Mustari membenarkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan pekerja di Kota Batik Gedog ini hanya lulusan SD atau sederajat.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak pekerja yang tidak memiliki keterampilan memadai untuk mengakses pekerjaan dengan upah tinggi.
Sebab, pekerja dengan pendidikan rendah cenderung bekerja di sektor informal, yang umumnya menawarkan upah rendah dan kurang memberikan jaminan kesejahteraan.
‘’Akibatnya, mereka kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang berkualitas dan meningkatkan taraf hidup,’’ ujarnya.
Andhie menjelaskan, pekerja dengan keterampilan terbatas lebih cenderung terjebak dalam pekerjaan yang bergaji rendah dan dengan kondisi kerja yang kurang menguntungkan.
Akibatnya, mereka sulit mendapat kesejahteraan. Dan ketika mengalami kesulitan ekonomi, maka menjadi penghalang bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
‘’Ini yang kemudian memperburuk keadaan kemiskinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama