RADARTUBAN – Gangguan jiwa bisa dialami oleh siapa saja. Baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua. Namun, dari dua jenis kelamin tersebut, laki-laki lebih rentang terserang gangguan jiwa ketimbang perempuan.
Merujuk data Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3APMD) Tuban, hingga November lalu tercatat sebanyak 2.048 orang mengalami gangguan jiwa. Rinciannya, sebanyak 1.390 berjenis kelamin laki-laki dan 658 perempuan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinsos P3APMD Tuban Ismail mengatakan, dari total 2.048 orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut, rata-rata berusia 26-45 tahun. Namun, ada juga yang masih usia anak-anak dan remaja.
Di antara faktor yang memicu seseorang mengalami gangguan jiwa, yakni tekanan hidup yang berat seperti kebutuhan ekonomi, asmara, hingga bullying. ‘’Untuk faktor ekonomi biasanya dialami oleh laki-laki dewasa, sedangkan asmara lebih banyak dialami remaja, dan anak-anak biasanya akibat korban bullying,’’ kata Ismail.
Selain beberapa faktor di atas, terang Ismail, ada juga lantaran faktor biologis atau keturunan.
‘’Jadi, orang yang mengalami gangguan jiwa juga bisa disebabkan dari faktor keturunan,’’ terangnya.
Lebih lanjut, Ismail menyampaikan, gangguan jiwa seseorang bisa semakin parah jika kurang mendapat dukungan positif dari lingkungan sekitar. Baik keluarga maupun lingkungan sosial.
‘’Keluarga ataupun lingkungan sekitar merupakan pihak penting dalam mendukung kesembuhan pasien pengidap gangguan jiwa,’’ terang dia.
Oleh karena itu, keluarga perlu mendapat edukasi. Misalnya, menyadari bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa merupakan penyakit medis yang masih bisa disembuhkan.
‘’Mengucilkan orang yang mengalami gangguan jiwa, atau bahkan melakukan pemasungan dengan alasan mengancam keamanan dan keselamatan orang, itu malah memperparah kondisi kejiwaan mereka,’’ ujarnya sekaligus mengimbau kepada masyarakat untuk peduli terhadap orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama