RADARTUBAN - Dua pekan terakhir ini, bencana hidrometeorologi melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Tuban.
Dari banjir bandang hingga angin puting beliung silih berganti melanda titik rawan bencana.
Termasuk Rabu (11/12), angin puting beliung kembali menerjang Kota Legen.
Kali ini, angin berkecepatan tinggi itu menyasar Desa Kowang, Kecamatan Semanding.
Sejumlah atap bangunan rumah mengalami kerusakan akibat tersapu lesus.
Dan seperti biasa, di mana ada bencana di situ ada potensi hoaks, atau informasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban Sudarmaji membenarkan bahwa pihaknya sering mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya bencana alam yang bersumber dari media sosial.
‘’Tidak terhitung jumlahnya, tapi sering kali pemberitaan yang membuat heboh masyarakat di media sosial itu tidak sesuai fakta di lapangan,’’ ujarnya, seperti informasi banjir di Kecamatan Bangilan, padahal hanya genangan.
Atas seringnya informasi di media sosial yang tidak valid tersebut, Darmaji—sapaannya—menghimbau agar masyarakat tidak terpengaruh media sosial yang belum valid sumbernya.
‘’Sebelum ada konfirmasi resmi dari kami, kabar tersebut patut diwaspadai kebenarannya,’’ jelasnya.
Lebih lanjut, doktor Sosiologi FISIP jebolan Universitas Brawijaya itu menyampaikan, informasi di media sosial sering kali menimbulkan salah penafsiran. Informasi bencana banjir, misalnya, ternyata hanya genangan.
‘’Sering kali ada temuan genangan di sejumlah titik, tapi karena informasi di media sosial dikatakan banjir, sehingga membikin panik masyarakat,’’ ungkapnya.
Mantan Camat Plumpang itu menuturkan, air yang menggenang lama bisa dikatakan banjir jika memiliki kedalaman lebih dari 30 centimeter (cm) dan berlangsung lebih dari dua jam.
Jika ada air menggenang dengan ketinggian minimal 30 cm namun berlangsung kurang dari dua jam, maka disebut genangan.
‘’Sementara itu, jika adanya air yang menggenang di bawah 30 cm dan berlangsung tak kurang dari satu jam, biasanya saat hujan deras berlangsung itu disebut limpasan,’’ terangnya.
Bahkan dalam pengalaman lain, sering kali informasi bencana di media sosial menggunakan foto atau video lawas, yang tujuannya hanya mengejar viral.
Mantan Kabag Kesra Setda Tuban itu mengimbau, dalam ber-media sosial harus bijak dalam menyampaikan informasi. Terlebih dalam menyampaikan informasi terkait bencana hidrometeorologi.
‘’Sebaiknya konfirmasi dulu ke kami, sebelum menyebarluaskan informasi bencana yang belum tahu kebenarannya,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama