RADARTUBAN – Pemkab Tuban sepertinya harus memastikan data angka partisipasi sekolah (APS) dan angka partisipasi murni (APM) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Pasalnya, berdasar hasil survei yang dilakukan lembaga tersebut, indeks APS dan APM usia 16-18 tahun di Kabupaten Tuban pada tahun ini terbilang masih rendah.
Kepala BPS Tuban Andhie Surya Mustari memaparkan, APS usia 16-18 atau anak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA) baru 70,05 persen.
Artinya, masih ada 30-an persen anak usia 16-18 tahun yang tidak terdeteksi melanjutkan pendidikan ke SMA.
‘’Dibanding 2023 lalu memang ada kenaikan. Dari sebelumnya 64,13 persen menjadi 70,05 persen pada 2024. Namun, kenaikan ini terbilang masih cukup rendah,’’ katanya.
Hanya saja, data yang dipaparkan BPS ini masih cukup lemah. Sebab, survei tersebut hanya berdasar data anak lulus sekolah menengah pertama (SMP) yang kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA di Kabupaten Tuban.
Artinya, APS ini hanya dihimpun berdasar data pokok pendidikan (dapodik). Sementara 30-an persen sisanya tidak terdeteksi secara pasti.
‘’Jadi, data 29,95 persen (yang tidak tersurvei melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Red) itu memang tidak bisa dipastikan, apakah mereka masih melanjutkan sekolah di daerah lain, tidak melanjutkan sekolah, atau malah melakukan percepatan masa sekolah,’’ ujarnya, sehingga tidak masuk dalam data BPS.
Begitu pula dengan APM, antara kesetaraan usia dengan jenjang pendidikan SMA juga hanya sekitar 58,68 persen.
Artinya, jika merujuk pada data BPS ini, ada sekitar 41,32 persen masyarakat di Kota Legen yang jenjang pendidikannya tidak sesuai dengan usia sekolahnya.
Sebagai contoh, usia rata-rata anak SMA adalah 16-18 tahun. Nah, pada hasil survei APM ini, kesamaan antara usia rata-rata dengan pendidikan SMA hanya 58,68 persen.
‘’Tapi untuk alasan pastinya (data 41,32 persen yang menunjukkan ketidaksesuaian antara usia rata-rata dengan jenjang pendidikan, Red), kami juga tidak bisa memastikan,’’ jelas dia.
Disampaikan Andhie, faktor lingkungan dan rendahnya pendidikan orang tua menjadi dua di antara alasan anak tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
‘’Jika budaya dan lingkungannya hanya sebatas lulusan SD, maka bisa jadi anak tersebut juga hanya akan menempuh jenjang pendidikan sampai SD atau SMP,’’ tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama