Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Selamat Tinggal 2024, Selamat Datang Resolusi 2025

Ahmad Atho’illah • Selasa, 31 Desember 2024 | 05:34 WIB

Photo
Photo

Tidak terasa, 2024 akan segera berakhir. Besok, kita akan mengawali Tahun Baru 2025. Seperti halnya teori relativitas yang digagas oleh Sir Isaac Newton. Hukum fisika akan selalu sama dan konstan. Waktu, hari, bulan, dan tahun, dari dulu hingga sekarang, konsepsinya tetap sama. Yang membedakan hanya soal ruang dan waktu.

Photo
Photo
Cepat atau lambat hanya soal perasaan. Relatif. Tergantung siapa yang merasakan. Ada yang mengatakan bahwa 2024 berjalan begitu lambat. Tapi ada pula yang merasakan sebaliknya, 2024 berjalan dengan sangat cepat. Inilah hukum relativitas. Namun yang pasti, waktu akan terus berjalan ke depan. Tahun 2024 telah berlalu, kini saatnya kita melakukan telaah atas berbagai peristiwa yang sudah sembari menyiapkan resolusi 2025.

Di level nasional, begitu banyak rentetan peristiwa yang terjadi selama 2024. Dan jamak menjadi pemahaman publik, 2024 merupakan tahun politik. Sebab itu, sebagian besar peristiwa yang terjadi didominasi ruang-ruang politik.

Pun demikian di Kabupaten Tuban. Tidak jauh beda. Pesta pemilihan presiden (pilpres), pemilihan legislatif (pileg), hingga pemilihan kepala daerah (pilkada) seakan menjadi sarapan pagi di awal tahun sekaligus penutup makan malam menjelang penghujung tahun.

Dari sekian pelajaran hidup yang Tuhan berikan, pemilu adalah gambaran nyata tentang roda kehidupan. Bahwa hidup ini berputar. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ketika menang, seketika berada di atas, dan ketika kalah, dengan cepat kembali ke bawah. Menjadi rakyat biasa.

Pun demikian dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin 2024 kita mengalami banyak kegagalan, kekecewaan, kesedihan, hingga kehilangan. Baik kehilangan harta maupun anggota keluarga yang kita cintai. Juga begitu banyak harapan dan keinginan yang belum tercapai. Kecewa, sudah pasti.

Namun, di balik hal-hal yang menyakitkan dan tidak sesuai harapan tersebut, yang pasti kita harus tetap bersyukur. Setidaknya, kita masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan cita-cita dan harapan yang sempat tertunda. Dan, kini saatnya kita kembali menyusun resolusi untuk 2025.

 

Melanjutkan yang Belum Tercapai dengan Berpikir Positif

Di antara ciri-ciri orang sombong adalah enggan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih (baca: berpikir positif), baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Karenanya, jika kalian menyusun resolusi 2025 tanpa diawali rasa syukur dan terima kasih atas segala yang telah diberikan Tuhan kepada kita di tahun-tahun sebelumnya, maka kita adalah golongan orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat.

Hidup ini adalah proses dan perjalanan. Musuh kita hanya soal waktu, sedangkan sahabat kita adalah pembiasaan. Ketika kita sudah terbiasa, maka waktu tak lagi menjadi musuh, melainkan sahabat yang membersamai dalam proses. Karena itu, sesungguhnya dalam hidup ini tidak ada yang gagal.

Seperti halnya kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF yang baru saja berlalu. Sesungguhnya bukan gagal. Melainkan prosesnya terhenti di fase grup. Masih ada kesempatan di tahun berikutnya. Tugas manusia hanya terus berusaha.

Pun demikian dalam pilkada lalu. Tidak terpilih bukan berarti gagal. Melainkan belum mendapat kesempatan. Abaikan money politics, coba lakukan lagi di pilkada 2029 mendatang. Syaratnya, mulai dari sekarang mulailah menanam investasi kebaikan.

Tidak jauh beda dengan hidup ini. Bersyukur adalah fondasi, terus berjalan adalah kunci. Jika lelah, sejenak berhenti sembari merefleksikan diri dan evaluasi, setelah itu berjalan lagi.

Selain bersyukur dan berpikir positif, pergantian tahun juga menjadi momen yang tepat untuk melakukan refleksi, muhasabah, dan introspeksi diri atas semua yang sudah kita lalu. Sebab, sering kali kita lupa untuk merenung. Misalnya, apa yang sudah kita lakukan selama 2024? Lalu, apa yang membuat kita gagal mencapai target yang telah kita canangkan? Semua itu harus direnungkan, sehingga bisa menatap 2025 dengan lebih tenang.

 

Tentukan Skala Prioritas

Sebagai seorang penulis, menyusun resolusi itu seperti halnya menulis. Seorang penulis akan kerepotan jika tidak mampu menentukan tema atau ide pokok yang akan ditulis. Dan ini biasanya dialami oleh rata-rata penulis pemula. Orang yang baru mengawali menulis, kebiasaannya ingin menulis tentang semua yang dipikirkan. Apa saja ingin ditulis. Sehingga tulisannya menjadi tidak fokus. Jangankan orang lain, kadang dirinya sendiri pun tidak paham dengan apa yang ditulis.

Selain tidak fokus, sering kali orang baru mengawali menulis, merasa mudah menyampaikan ide dan gagasan yang ada dalam pikiran. Seakan begitu mudah menuangkannya dalam tulisan. Dalam bayangan, apa yang akan ditulis bisa mengalir begitu saja. Lancar. Tapi ketika sudah menghadap laptop, seketika menjadi sangat rumit. Ide dan gagasan yang sempat mengendap dalam pikiran tiba-tiba hilang. Mendadak tidak tahu apa yang akan ditulis, sehingga berhenti menulis. Saya pun masih sering mengalami kondisi demikian.

Pun demikian dalam menyusun resolusi. Sepertinya tidak jauh beda. Harus ada skala prioritas yang ditetapkan. Seperti halnya menentukan ide pokok sebelum menulis, kira-kira yang mau dicapai pada 2024 nanti apa, harus jelas di awal. Setelah itu baru menyusun paragraf-paragraf untuk mencapai tujuan skala prioritas.

Harus digarisbawahi bahwa skala prioritas adalah tujuan utama. Artinya, bukan berarti tidak ada tujuan yang lain. Misalnya, jika resolusi 2024 anda adalah menikah. Maka anda harus berpikir apa yang harus disiapkan untuk mencapai ide pokok atau tujuan utama tersebut. Itulah analogi kalimat pendukung dalam sebuah paragraf. Ketika tujuannya menikah, maka dengan siapa anda akan menikah. Ketika sudah menemukan pasangan, lalu apa yang harus anda siapkan sebelum menuju pelaminan.

Itulah cara sederhana menentukan skala prioritas. Begitu juga dengan resolusi lain. Skala prioritasnya harus jelas sejak awal.

Menata Niat

Permulaan adalah bagian tersulit dari setiap perjalanan. Seperti halnya menulis. Selama tidak dimulai, maka selama itu pula tidak akan pernah menghasilkan tulisan. Contohnya tulisan ini. Untuk memulainya begitu berat. Dari rasa malas hingga sulitnya menemukan sebuah ide. Namun, ketika tidak saya paksa untuk memulai, maka tulisan ini tidak akan pernah jadi.

Begitu juga dengan resolusi. Selamanya hanya akan menjadi catatan ketika malas untuk memulai. Anggap saja, satu di antara resolusi 2024 adalah diet. Bagaimana mungkin resolusi diet akan berhasil jika untuk memulai menjaga pola makan sehat dan olahraga saja malas. Meskipun toh sudah menyusun rencana resolusi diet sedemikian rupa, macam-macam video tips sukses diet sudah di-download. Namun, selama tidak memulai untuk menjaga pola makan sehat dan rutin olahraga—minimal jogging tiga kali dalam seminggu, maka resolusi diet mending dicoret saja.

Karena itu, terpenting dari resolusi adalah memantabkan niat untuk memulai. Jika niat untuk memulai saja tidak ada, mending biasa-biasa saja. Dan karena biasa-biasa saja, maka jangan berharap hasil yang luar biasa.

Lakukan dengan Senang

Menulis itu rumit. Namun akan semakin rumit dan melelahkan ketika kamu menulis dengan terpaksa. Pun demikian dalam hal yang lain. Karena itu, penting untuk menyenangi setiap yang akan kita jalani. Ketika kita sudah mencanangkan resolusi, maka untuk memulainya adalah dengan menyenangi.

Jika salah satu resolusi yang anda canangkan pada 2025 nanti adalah menumbuhkan minat baca, maka untuk pertama kali adalah membangun mindset bahwa membaca itu sangat menyenangkan. Membaca itu hiburan. Seperti halnya resolusi diet. Sebelum memulai, kita harus terlebih dulu menyenangi menjaga pola makan sehat dan olahraga.

Selain membuat nyaman, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan rasa senang juga membawa keberkahan: bertambahnya nilai-nilai kebaikan dalam hidup kita.

Wabakdu, selamat tinggal 2024, selamat datang 2025. Semoga tahun depan lebih menyenangkan dan membawa banyak keberkahan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#2025 #Tuban #resolusi