Kabupaten Tuban sepertinya tidak masuk daerah yang diprioritaskan untuk segera melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) di hari pertama Senin (6/1). Disaat kabupaten/kota lain seperti Bojonegoro dan Lamongan mulai riweuh menjalankan program Presiden Prabowo tersebut, di Tuban tampak tidak ada kegiatan apa-apa.
MASIFNYA pemberitaan dan informasi yang beredar di media sosial tentang pelaksanaan makan bergizi gratis di hari pertama kemarin menyisakan sejumlah pertanyaan dari anak-anak, khususnya siswa sekolah dasar (SD). Banyak di antara mereka yang menanyakan program tersebut.
Haris, misalnya. Salah siswa SD di Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel tetiba menanyakan program makan bergizi itu kepada orang tuanya.
‘’Tadi dia tanya, ‘Buk, katanya ada makan siang gratis, tapi kok belum ada’,’’ ujar orang siswa kelas V SD itu.
Lantaran tidak tahu menahu tentang program tersebut. Lebih tepatnya, kapan dan untuk siapa saja program dari Presiden Prabowo itu diberikan, orang tua Haris pun tidak bisa menjawab.
‘’Karena saya juga tidak tahu pasti kapan program makan gratis ini akan mulai dilaksanakan, ya saya jawab ‘tunggu saja, Nak, mungkin sebentar lagi’,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
M. Zainal Arifin, salah satu guru SD di Desa Tunah, Kecamatan Semanding mengamini banyaknya obrolan anak-anak mengenai program MBG tersebut. Hanya saja, secara khusus tidak ada yang berani menanyakan langsung ke dirinya atau bapak-ibu guru lainnya.
‘’Kalau obrolan, becandaan anak-anak, sering saya dengar. Kadang juga guyon akan dapat makan siang gratis. Karena tahunya makan siang gratis, bukan MBG.
Tapi kalau tanya langsung kepada saya memang belum pernah, tapi tidak tahu kalau tanyanya ke guru lain,’’ kata Arifin ketika dihubungi Jawa Pos Radar Tuban kemarin.
Lantas, bagaimana caranya menjawab ketika nanti ditanya oleh siswa kapan makan siang bergizi akan dimulai di Tuban?
Meski kadang juga ewuh pakewuh menjawab soal program yang dirinya juga belum tahu kapan akan dilaksanakan di Tuban tersebut, guru Pendidikan Agama Islam (PAD) ini sudah menyiapkan jawaban yang bisa diterima anak-anak.
‘’Pokoknya nanti kalau ada yang tanya, ya mungkin akan saya jawab dengan jawaban yang bisa diterima anak-anak SD, ‘nunggu info dari Pak Presiden dan Pak Bupati’ karena kalau saya jawab belum ada petunjuk dari dinas, anak-anak malah bingung,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Arifin menyampaikan, di era sekarang ini, anak-anak usia SD sudah mampu menangkap banyak informasi, baik dari TV maupun media sosial.
‘’Beda dengan kita dulu, yang baru tahu ketika diberi tahu bapak-ibu guru,’’ tandasnya.
Sudah Disiapkan Anggaran Rp 20 M, Diperuntukan Siswa Tidak Mampu-Gizi Buruk
Sekretaris Daerah (Sekda) Tuban Budi Wiyana membenarkan bahwa Kabupaten Tuban belum melaksanakan program MBG di hari pertama kemarin. Alasannya, sampai saat ini belum ada petunjuk teknis (juknis) yang diterima Pemkab Tuban.
Sebab itu, terang Budi, di Kabupaten Tuban, khususnya dari Pemkab Tuban belum menjalankan program tersebut.
‘’Tapi kami sudah melakukan persiapan untuk berjaga-jaga dengan menyiapkan anggaran dan data kalau nanti tiba-tiba ada petunjuk teknis dari pemerintah pusat untuk melaksanakan MBG,’’ katanya.
Menurut Sekda, melihat pelaksanaan secara nasional, tidak semua siswa menerima program MBG.
Karena itu, Tuban pun akan demikian: tidak semua anak sekolah menerima program makan bergizi gratis.
Kemungkinan, terang mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) ini, opsi pertama dimungkinkan hanya untuk siswa tertentu. Misalnya, diperuntukan bagi siswa kurang mampu atau yang terkena gizi buruk.
‘’Itu pun nanti hanya di jenjang SD, atau bisa saja termasuk SMP, tapi menunggu juknisnya nanti seperti apa,’’ ujarnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, untuk memastikan data penerima program MBG, saat ini Pemkab Tuban sudah mulai melakukan pemetaan data.
Itu dilakukan sebagai upaya persiapan ketika sewaktu-waktu ada juknis yang secara mendadak diterima pemerintah daerah.
‘’Tujuannya, ketika nanti juknisnya sudah ada, kami tidak perlu berlama-lama untuk merealisasikannya,’’ terang pejabat kelahiran Nganjuk itu.
Selain soal penerima manfaat dari program tersebut, terang doktor Ilmu Administrasi Pemerintahan itu, pemkab juga masih meraba-raba soal leading sektor dari program: apakah ditangani oleh dinas di lingkup Pemkab Tuban atau lembaga/instansi lain di luar pemkab.
Begitu juga terkait lokasi dapur umum dan proses distribusinya seperti apa. ‘’Itu juga belum dijelaskan,’’ tandasnya.
Praktis, jika pun nanti sudah ada kepastian, pemkab akan terlebih dulu melakukan studi tiru di kabupaten tetangga seperti Bojonegoro dan Lamongan yang sudah memulai program ini.
‘’Terdekat, saat ini Bojonegoro dan Lamongan sudah memulai.
Jadi, bisa melihat di kabupaten tersebut seperti apa nanti pelaksanaannya,’’ jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan Dan Aset Daerah (BPKPAD) Tuban Agung Triwibowo mengaku bahwa sejauh ini belum ada petunjuk teknis penyelenggaraan MGB di Tuban.
Kendati demikian, pemkab sudah menyiapkan anggarannya.
Soal berapa dana khusus untuk program penambahan gizi ini, pihaknya belum membeberkan. Hanya saja, dalam APBD 2025 sudah ada anggaran dana cadangan sebesar Rp 20 miliar lebih.
‘’Yang jelas, ketika memang pemkab diminta dana sharing dari pusat. Misalnya, seumpama butuh Rp 40 miliar, ketika pemkab diminta Rp 20 miliar, maka kami sudah siap,’’ terang dia.
Artinya, tegas Agung, secara penganggaran, Pemkab Tuban sudah siap untuk melaksanakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini.
‘’Berapa pun anggarannya akan disiapkan. Tinggal petunjuk dari pemerintah pusat seperti apa,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama