RADARTUBAN – Tahun 2025 baru berjalan sepekan. Namun, angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Tuban sudah mencapai puluhan.
Hingga Senin (6/1) lalu—berdasar data yang diterima Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, totalnya sudah 22 kasus.
Laporan tersebut berasal dari lima rumah sakit di Kota Legen.
Yakni, RSUD Dr. Koesma, RS Graha Husada Singgahan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU), RS Muhammadiyah, dan RS Ali Manshur Jatirogo.
Artinya, masih ada potensi jauh lebih banyak. Sebab, data yang diterima sudah selumbari lalu, ditambah laporan dari masing-masing puskesmas se-Kabupaten Tuban belum masuk rekap.
Kepala Dinkes P2KB Tuban Esti Surahmi mengamini bahwa angka kasus yang muncul untuk sementara ini masih serupa gunung es: yang tidak tampak jauh lebih banyak ketimbang yang terlihat.
‘’Lonjakan kasus DBD sering kali berada di triwulan pertama dan keempat,’’ tuturnya.
Esti melanjutkan, jika lonjakan kasus ini lebih sering terjadi selama musim penghujan. Sebab, akan ada lebih banyak genangan air yang menjadi media bertelur nyamuk aedes aegypti ini.
‘’Dari jumlah kasus yang dilaporkan, DBD menjangkit rata di semua usia,’’ terang dia.
Esti menambahkan, fogging atau pengasapan sebagai upaya terakhir sudah dilakukan di sejumlah sejumlah wilayah seperti Jatirogo dan Widang.
Itu dilakukan untuk mengurangi atau memutus potensi penularan demam berdarah yang ada saat ini, namun tidak untuk jentik nyamuknya.
‘’Imbauannya tetap melakukan 3M plus, karena hanya itu solusi terbaik memutus rantai penularan DBD secara berkelanjutan.
Sedangkan fogging hanya tindakan sesaat saja,’’ tandas mantan Staf Ahli Bupati Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) itu. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama