Bisa kuliah ke luar negeri menjadi impian banyak orang. Tidak terkecuali bagi Rahma. Dengan antusiasnya, dia menceritakan perjalannya bisa mendapatkan beasiswa kuliah di negara orang tersebut.
AWALNYA, Rahma tidak pernah terpikirkan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Karena itu, dia sempat ragu saat mendaftar beasiswa magister ke Jepang. Terlebih, saat itu masih menempuh pendidikan semester 7 di Universitas Airlangga, Surabaya.
‘’Jujur tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi setelah mendapatkan dukungan dari orang tua, akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar beasiswa ke Jepang,’’ ungkapnya.
Perjalanan untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut tidak mudah. Apalagi, ketika itu juga memasuki semester akhir.
Di mana dia harus pintar-pintar membagi waktu, antara magang, mengerjakan skripsi, dan fokus mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri tersebut.
Kendati selama proses pendaftaran tidak mudah, dia tidak menyerah. Prinsipnya, kesempatan datang tidak akan terulang dua kali.
Sehingga tidak ada alasan untuk menyerah. ‘’Selagi ada kesempatan kenapa tidak dicoba,’’ ujarnya.
Semua proses pun dilalui, dari seleksi berkas hingga melakukan interview. Namun, rasa lelah yang dialami seketika dibayar tunai saat dinyatakan lolos seleksi.
‘’Rasanya seperti mendapatkan hadiah di akhir tahun. Karena skripsi selesai, dan dinyatakan lolos beasiswa,’’ papar cewek yang bertempat tinggal di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban tersebut.
Hanya berselang enam bulan pasca kelulusannya, dia berangkat ke Kyoto, Jepang. Resmi melanjutkan studinya di Ritsumeikan University dengan program Economic Development.
Lebih lanjut dia menyampaikan, kendala bahasa menjadi salah satu culture shock yang dialami.
Pasalnya, aktivitas seperti berbelanja atau mengurus dokumen harus dilakukan menggunakan bahasa Jepang. Meski demikian, masyarakat Jepang sangat terbuka dengan pelajar asing, sehingga kesulitan itu bisa diatasi.
Cewek kelahiran 1999 itu merasakan perbedaan antara pendidikan di Indonesia dan Jepang. Menurutnya, dari segi fasilitas yang diberikan sangat jauh berbeda. Misalnya, di Jepang di sediakan print serta fotocopy gratis dari kampus. Ada juga banyak perpustakaan serta tersedia tempat untuk diskusi dan belajar.
Selain fasilitas, jadwal akademik juga berbeda dengan yang ada di Indonesia. Pasalnya, jadwal kelas selalu on time. Berbeda dengan Indonesia yang sering menganut jam karet. Terlebih, dosen pembimbing di Jepang sangat mudah dihubungi dan diajak berdiskusi.
Tak ingin kesempatannya terbuang dengan sia-sia, hanya untuk berkuliah. Dia turut melakukan banyak kegiatan, seperti bergabung dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Kyoto-Shiga dan juga sering travelling keliling Jepang.
‘’Jadi bukan hanya ilmu nantinya yang saya dapatkan, tetapi juga koneksi pertemanan yang luas. Bonusnya bisa belajar budaya Jepang dan menikmati keindahannya,’’ pungkas cewek 25 tahun itu. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama