Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rahma, Peraih Beasiswa Master di Negeri Sakura. Di Jepang Lebih Disiplin dan Tidak Ada Jam Karet

Hardiyati Budi Anggraeni • Sabtu, 11 Januari 2025 | 18:30 WIB

Rahma, cewek asli Tuban yang baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang.
Rahma, cewek asli Tuban yang baru saja menyelesaikan pendidikan magister di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang.

Bisa kuliah ke luar negeri menjadi impian banyak orang. Tidak terkecuali bagi Rahma. Dengan antusiasnya, dia menceritakan perjalannya bisa mendapatkan beasiswa kuliah di negara orang tersebut.

AWALNYA, Rahma tidak pernah terpikirkan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Karena itu, dia sempat ragu saat men­daftar beasiswa magister ke Jepang. Terlebih, saat itu masih me­nempuh pendidi­kan semester 7 di Uni­versitas Airlangga, Surabaya.

‘’Jujur tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi setelah men­da­patkan du­kungan dari orang tua, akhir­nya mem­beranikan diri untuk mendaftar beasiswa ke Jepang,’’ ungkapnya.

Perjalanan untuk bisa men­dapatkan beasiswa tersebut tidak mudah. Apalagi, ketika itu juga memasuki semester akhir.

Di mana dia harus pintar-pintar membagi waktu, antara magang, menger­jakan skripsi, dan fokus men­da­patkan bea­siswa kuliah ke luar negeri tersebut.

Kendati selama proses pen­daftaran tidak mudah, dia tidak menyerah. Prin­­sipnya, kesem­patan datang tidak akan te­rulang dua kali.

Sehingga tidak ada alasan untuk menyerah. ‘’Selagi ada kesempatan kenapa tidak dicoba,’’ ujarnya.

Semua proses pun dilalui, dari seleksi berkas hingga melakukan interview. Namun, rasa lelah yang dialami seketika dibayar tunai saat dinyatakan lolos seleksi.

‘’Rasanya seperti men­dapatkan hadiah di akhir tahun. Karena skripsi selesai, dan dinyatakan lolos beasiswa,’’ papar cewek yang bertempat tinggal di Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban tersebut.

Hanya berselang enam bulan pasca kelulusannya, dia be­rangkat ke Kyoto, Jepang. Resmi me­lanjutkan studinya di Rits­umeikan University dengan program Economic Development.
Lebih lanjut dia menyam­paikan, kendala bahasa men­jadi salah satu culture shock yang dialami.

Pasalnya, aktivitas seperti ber­belanja atau mengu­rus dokumen harus dilakukan menggu­nakan bahasa Jepang. Meski demi­kian, masyarakat Je­pang sangat terbuka dengan pelajar asing, sehingga ke­sulitan itu bisa diatasi.

Cewek kelahiran 1999 itu me­rasakan perbedaan antara pen­didikan di Indonesia dan Jepang. Menurutnya, dari segi fasilitas yang diberikan sangat jauh berbeda. Misalnya, di Jepang di sediakan print serta fotocopy gratis dari kampus. Ada juga banyak per­pustakaan serta tersedia tempat untuk diskusi dan belajar.

Selain fasilitas, jadwal aka­demik juga berbeda dengan yang ada di Indonesia. Pa­salnya, jadwal kelas selalu on time. Berbeda dengan Indo­nesia yang sering me­nga­nut jam karet. Terlebih, dosen pem­bimbing di Je­pang sangat mudah dihu­bungi dan diajak berdiskusi.

Tak ingin kesempatannya ter­buang dengan sia-sia, hanya untuk berkuliah. Dia turut melakukan banyak kegiatan, seperti bergabung dengan Persatuan Pelajar Indo­nesia (PPI), Kyoto-Shiga dan juga sering travelling keliling Jepang.

‘’Jadi bukan hanya ilmu nantinya yang saya dapatkan, tetapi juga koneksi pertemanan yang luas. Bonusnya bisa belajar budaya Jepang dan menik­mati keindahan­nya,’’ pungkas cewek 25 tahun itu. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#luar negeri #beasiswa #jepang #University #magister