Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Warga Kampung Miliarder Tetap Naik Fortuner, Tidak Bangkrut Seperti yang Disebutkan Medsos

Andreyan (An) • Senin, 13 Januari 2025 | 00:35 WIB

 

Photo
Photo

 

Sepekan terakhir, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kondisi terkini warga “Kampung Miliarder” di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu. Warga yang dulunya berlimpah harta pasca pembebasan lahan untuk lokasi proyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) itu diisukan jatuh miskin.

 

KABAR tersebut mulanya berembus kencang melalui laman X (dulu Twitter) melalui sepenggal video yang diduga salah satu warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban tengah menjual puluhan ekor ternaknya.

Sejurus kemudian, netizen media maya langsung ramai menyoroti sekaligus berempati dengan nasib terkini para warga Kampung Miliarder yang diduga mengalami kesulitan ekonomi tersebut.

Padahal, empat tahun lalu setiap warga yang lahannya terdampak menerima kompensasi rata-rata Rp 2-3 miliar dari Pertamina untuk pembebasan lahan proyek kilang minyak GRR Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) tersebut.

Namun faktanya, kabar di media sosial itu berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

Saat wartawan koran ini mengunjungi kampung tersebut pada Kamis (9/1) lalu, masih tampak lalu-lalang mobil mewah dan barisan rumah-rumah mewah berdiri kokoh dengan pagar besi tinggi membentang.

Hampir di setiap rumah bertingkat itu memiliki garasi yang di dalamnya terparkir mobil mewah. Matraji, salah satu warga yang menerima kompensasi dari Pertamina mengatakan, sejak empat tahun lalu menjual lahannya kepada Pertamina justru perekonomian di keluarganya meningkat pesat.

Disinggung soal sisa deposit uang yang dimiliki saat ini, lansia berusia 64 tahun itu enggan menyebutkan secara rinci.

 Namun dia membeberkan, uang yang didapatkan dari kompensasi Pertamina hampir menyentuh Rp 3,7 miliar untuk lahan miliknya kurang lebih 6 hektare itu. ‘’Alhamdulillah sampai saat ini masih berkecukupan,’’ tuturnya.

Senada dengan Riyono, saat mendapat uang ganti rugi sebesar Rp 2,2 miliar dari Pertamina dirinya langsung membeli lahan sawah di luar kecamatan, yang harganya lebih murah untuk digarapnya.

‘’Kalau dibilang rugi ya tidak rugi, justru malah untung,’’ ungkapnya.

Namun, di balik riuhnya sebagian warga yang bereuforia dengan hartanya, ada segelintir masyarakat yang tidak mendapatkan uang kompensasi justru merasakan dampak signifikan dari banyaknya lahan yang dibeli Pertamina.

Mereka adalah sebagian buruh tani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari lahan produktif milik warga di desanya. Seperti yang dirasakan oleh Kasto.

 Sejak empat tahun lalu penghasilan yang didapatnya menurun drastis lantaran sebelum desanya mendapat julukan Kampung Miliarder dirinya bekerja sebagai buruh tani di salah satu lahan milik tetangganya.

 ‘’Dulu kerja di tetangga yang punya sawah, sekarang serabutan. Malah banyak menganggurnya,’’ ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan olehnya, bahkan untuk mencari sesuap nasi dirinya harus mengayuh sepeda sampai di desa sebelah untuk bekerja sebagai buruh tani.

Di samping itu, dirinya juga sama sekali tidak tersentuh bantuan dari pemerintah.

 ‘’Bisa cukup untuk makan keluarga sudah bersyukur,’’ tutur dia.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Sukadi, dirinya yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani juga harus bekerja serabutan untuk menyambung hidup.

‘’Kerjaan tidak menentu, kalau ada tawaran kerja di sawah ya tak ambil kalau tidak ada ya di rumah sambil ternak lele,’’ bebernya.

Bapak dua anak itu menyampaikan, nasib yang dialami oleh dirinya juga dirasakan oleh puluhan buruh tani di desa tersebut

. ‘’Banyak yang nganggur sekarang, kerja juga musiman. Banyak yang memilih kerja di luar desa,’’ pungkasnya. (an/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#grr #GRR Tuban #sumurgeneng #desa miliarder #Desa Miliarder Tuban