SETIAP orang memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan perasaan. Salah satunya menulis puisi. Itu pula yang selama ini dilakukan Syayidatus Sholikah. Meski kadang hanya beberapa bait, hampir saban hari dia rutin menulis puisi.
‘’Bagi saya, puisi adalah ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Baik saat sedih maupun senang,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Meski demikian, diakui Ayis—sapaan akrab Syayidatus Sholikah, menuangkan pikiran dan perasaan menjadi puisi bukan hal yang mudah. Karena itu, dibutuhkan kebiasaan dan ketekunan.
Dan tidak kalah penting, adalah asupan bacaan. Sebab, orang yang gemar membaca akan memiliki banyak kosa kata atau diksi. Apalagi menulis puisi, dibutuhkan banyak kata-kata yang indah dan bermakna.
‘’Selain itu, juga harus memiliki rima yang enak dibaca, tapi tetap tidak kehilangan makna,’’ tuturnya.
Alumni Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu mengaku sudah terbiasa menulis puisi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), dan semakin menjiwai saat memasuki bangku kuliah.
‘’Bagi saya, menulis puisi adalah aktivitas fleksibel yang dapat dilakukan sebagai sarana mengungkapkan perasaan atau isi hati. Jadi sangat menyenangkan,’’ ujar dara yang kini genap berusia 23 tahun itu.
Lebih lanjut, cewek asal Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang itu mengatakan, menulis puisi adalah kegiatan yang tidak mengenal ruang dan waktu.
Di mana pun dan kapan pun bisa dilakukan. Sekalipun sambil jalan-jalan maupun saat rebahan.
‘’Termasuk sebelum tidur. Itu adalah waktu yang paling saya suka untuk mengungkapkan perasaan. Sering kali saya menulis puisi sebelum tidur,’’ katanya.
Menurut Ayis, kebahagiaan yang direngkuh ketika menulis puisi adalah saat tulisannya dibaca oleh banyak orang. ‘’Saya sering mengunggah tulisan saya di blog pribadi,’’ ujarnya.
Meski menulis puisi adalah kegiatan menyenangkan baginya, namun sering kali dia dilabeli dengan kata alay oleh beberapa orang di sekitarnya lantaran selalu mengungkapkan isi hati melalui puisi.
‘’Padahal, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya. Dan menulis puisi adalah cara saya,’’ ujarnya.
Selain rutin mengunggah tulisannya di blog pribadi, Ayis juga sering mengikuti lomba menulis puisi. ‘’Meski tidak juara, tapi setidaknya saya senang karya saya abadi,’’ tandasnya. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama