MEMBACA buku menjadi hal yang kurang diperhatikan, atau bahkan sama sama sekali tidak digemari oleh sebagian anak muda saat ini. Namun, hal tersebut tak berlaku bagi Siti Mukaromatun Nisa. Sejak duduk di bangku SMP, gadis berkacamata itu telah gemar membaca. Khususnya sastra.
Berkat kecintaannya membaca sastra, gadis asal Kecamatan Soko itu giat bergabung dalam banyak komunitas sastra. Mulai dari komunitas Sematta Bojonegoro yang berfokus pada sastra, literasi, pendidikan, dan sosial, kemudian Komunitas Kita Belajar Menulis (KBM) Bojonegoro, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri, dan UKM Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia.
‘’Dari membaca aku jadi tahu tentang banyak hal, seperti kehidupan lampau yang bersejarah hingga memetik pelajaran kehidupan dari para tokoh dalam buku,” ujar Nisa panggilan karibnya.
Sudah tak terhitung berapa banyak buku non-fiksi dan fiksi yang dia baca. Beberapa di antaranya juga merupakan hasil karya dari para penulis masyhur, seperti Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer hingga puisi-puisi karya Umbu Landu Paranggi.
Selain buku-buku tersebut, ada pula buku Sastrajendra karya Setyo Hajar Dewantoro, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, dan masih banyak buku lain yang menjadi favoritnya.
Lebih lanjut, mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro itu mengaku, jika hal terseru dari membaca buku adalah bagaimana dia bisa berimajinasi kala membaca.
‘’Saat membaca sering terbawa suasana dari alur cerita, kadang ikut bahagia dan sedih. Bahkan bisa memetik banyak pelajaran dari buku-buku yang dibaca,” tegas mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam itu.
Gadis 21 tahun tersebut mengaku, jika dirinya terinspirasi dari sang bapak yang juga gemar sekali membaca dan mengoleksi buku. Sosoknya itu membuat Nisa terdorong dan merasa tertarik untuk mendalami apa yang Bapaknya lakoni.
Dirinya berharap, anak-anak di era saat ini kembali tertarik untuk membaca buku. Sebab, buku menjadi hal dasar untuk seseorang dapat memelajari berbagai hal, sisi, hingga emosi.
‘’Baca buku tidak harus buku-buku non-fiksi yang sangat berbobot, tapi bisa dimulai dari novel atau puisi sebagai awal untuk mencintai dunia sastra,” tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama