RADARTUBAN - Baju adat Jawa menjadi bagian penting dari kebudayaan lokal. Karena itu, memakai baju adat Jawa bukan sekadar formalitas. Melainkan kebanggaan. Terlebih, dalam setiap bagiannya memiliki doa dan filosofi masing-masing.
“Adat Jawa memang kaya makna, hanya saja saat ini pengetahuan anak muda tentang itu masih terbatas,’’ ujar Nanang Ferianto, pembawa acara adat sekaligus owner wedding organizer pernikahan Jawa.
Kebaya, misalnya, terang Nanang, memiliki simbol keanggunan, kesederhanaan, kesopanan dan ketaatan. ‘’Saat dikenakan oleh perempuan Jawa, kebaya terlihat begitu anggun dengan gayanya yang sederhana,’’ katanya.
Meskipun begitu, kebaya juga mengartikan status seorang wanita. Misalnya, kebaya kutu baru panjang dipakai untuk mereka yang sudah memiliki pasangan atau sudah bersuami, sedangkan kebaya kutu baru cekak atau pendek biasanya digunakan oleh wanita yang masih perawan. ‘’Jadi kita bisa melihat status seorang wanita dari kebaya yang dia kenakan,” ujar Nanang.
Lebih lanjut kata Nanang, melati juga memiliki makna tersendiri dari tata cara pemakaiannya. Misalnya, seseorang yang tidak menggunakan melati biasanya belum pernah menikah, sedangkan bagi perempuan yang memiliki pasangan, maka memakai melati di sebelah kiri.
‘’Sedangkan untuk wanita yang sudah tidak memiliki suami namun pernah memiliki suami atau janda menggunakan melati di sebelah kanan,’’ katanya. Melati kecil yang disundukkan di kepala tersebut disebut borokan.
Filosofi dari borokan sendiri adalah pengingat bagi semua orang, bahwa semua manusia memiliki kekurangan yang harus diakui untuk dapat berintropeksi diri, sebab setiap manusia pasti memiliki kekurangan.
Selain beberapa bagian pakaian adat wanita dan maknanya tersebut, terpenting dari semuanya adalah berharap terhindar dari segala mara bahaya, seperti halnya filosofi gelungan bango tulak, yang artinya sebagai penolak balak bagi seorang wanita yang mengenakannya.
Bagian pakaian adat Jawa selanjutnya adalah jarik. Meski bagi orang awam, jarik hanya semacam kain batik yang dililitkan, seperti yang diketahui masyarakat kebanyakan. Namun, ternyata jarik terdiri dari beberapa macam, loh. Di antara jenis-jenis jarik seperti jarik sidomukti, sido jadi, mukti kecukupan. ”Makna dari jarik sidomukti secara umum adalah harapan terjadinya doa yang baik untuk pengantin,” ujar pria 31 tahun itu.
Selain sidomukti, jarik juga memiliki jenis yang lain seperti sido mulyo, maknanya terjadinya kemuliaan di dunia. Dan sido derajat, artinya terjadinya derajat pangkat yang luhur. Seperti halnya yang diharapkan setiap orang untuk memiliki pangkat yang luhur.
Selanjutnya, seorang laki-laki Jawa sering kali ditemui menggunakan beskap. Secara umum, beskap artinya adalah menutup. Sedangkan maknanya secara khusus, beskap bagi seorang laki-laki dapat membedakan status sosial masing-masing.
Seperti beskap tangkep yang biasanya dikenakan oleh seorang dalang, beskap athela digunakan untuk abdi dalem atau masyarakat biasa, sikepan alit.
“Beskap ini biasanya terdiri dari dalaman putih dan luaran hitam,” kata Nanang. Sedangkan pemakai dari beskap ini biasanya adalah pangeran-pangeran, anak cucu dan kerabat orang-orang terpandang.
So, bagaimana? Semua bagian pakaian Jawa memiliki filosofi, kan? Pasti semuanya bermuara pada filosofi yang luhur. “Maka penting itu mengetahui itu,” ujarnya.
Diketahui, blankon adalah penutup kepala yang sering ditemui saat seseorang mengenakan pakaian adat. Namun, tahukah bahwa blankon juga memiliki berbagai jenis.
Di antara jenis-jenis blankon adalah cekok mondol. Blankon ini biasanya dipakai untuk orang biasa atau abdi dalem, selanjutnya adalah kesatrian, yang biasanya dipakai untuk mereka dengan status sosial diatas orang biasa seperti tumenggung atau Bupati dan perbawan biasanya digunakan untuk sinuwun atau mempunyai pangkat tinggi.
Tidak hanya itu, keris yang biasanya dipajang pada pinggang belakang seorang laki-laki saat mengenakan pakaian adat juga memiliki makna yang mengesankan.
Secara filosofis, keris digunakan sebagai senjata yang memiliki arti keteguhan atau kekuatan, yang dalam bentuknya seperti ilmu agama dan pengetahuan umum. Keris yang diletakan dibelakang juga bukan tanpa arti, loh.
Pasalnya, keris yang diletakan di belakang layaknya ilmu yang dimiliki seseorang, pembelajaran untuk terus rendah hati meski memiliki ilmu setinggi apapun. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama