Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Kembali Pakaian Adat Jawa yang Penuh Makna dan Nilai Filosofi

Sugiati. • Senin, 3 Februari 2025 | 20:30 WIB
Photo
Photo

RADARTUBANBaju adat Jawa menjadi bagian penting dari kebudayaan lokal. Karena itu, memakai baju adat Jawa bukan sekadar formalitas. Melainkan kebang­gaan. Terlebih, dalam setiap bagiannya memiliki doa dan filosofi masing-masing.

“Adat Jawa memang kaya mak­na, hanya saja saat ini pe­ngetahuan anak muda tentang itu masih terbatas,’’ ujar Nanang Ferianto, pembawa acara adat sekaligus owner wedding or­ganizer pernikahan Jawa.

Kebaya, misalnya, terang Na­nang, me­­miliki simbol keang­gunan, keseder­hanaan, keso­panan dan ketaatan. ‘’Saat di­kenakan oleh perempuan Jawa, kebaya terlihat begitu anggun dengan gayanya yang sederhana,’’ katanya.

Meskipun begitu, kebaya juga me­ngarti­kan status seorang wanita. Misal­nya, kebaya kutu baru panjang dipakai untuk mereka yang sudah memiliki pasangan atau sudah bersuami, se­dangkan kebaya kutu baru ce­kak atau pendek biasanya digunakan oleh wanita yang masih perawan. ‘’Jadi kita bisa melihat status seorang wanita dari kebaya yang dia kenakan,” ujar Nanang.

Lebih lanjut kata Nanang, melati juga memiliki makna tersendiri dari tata cara pe­makaian­nya. Misalnya, sese­orang yang tidak menggunakan melati biasanya belum pernah menikah, se­dangkan bagi perempuan yang memiliki pasangan, maka me­makai melati di sebelah kiri.

‘’Sedangkan untuk wanita yang sudah tidak memiliki suami namun pernah memiliki suami atau janda menggunakan melati di sebelah kanan,’’ katanya. Melati kecil yang disundukkan di kepala tersebut disebut borokan.

Filosofi dari borokan sendiri adalah pe­ngingat bagi semua orang, bahwa semua manusia memiliki kekurangan yang harus diakui untuk dapat berintropeksi diri, sebab setiap manusia pasti memiliki kekurangan.

Selain beberapa bagian pakaian adat wanita dan maknanya tersebut, ter­penting dari semua­nya adalah berharap terhindar dari segala mara bahaya, seperti halnya filosofi gelungan bango tulak, yang artinya sebagai penolak balak bagi seorang wanita yang mengenakannya.

Bagian pakaian adat Jawa se­lan­jutnya adalah jarik. Meski bagi orang awam, jarik hanya semacam kain batik yang di­lilitkan, seperti yang diketahui ma­syarakat kebanyakan. Na­mun, ternyata jarik terdiri dari beberapa macam, loh. Di antara jenis-jenis jarik seperti jarik sidomukti, sido jadi, mukti kecukupan. ”Makna dari jarik sidomukti secara umum adalah harapan terjadinya doa yang baik untuk pengantin,” ujar pria 31 tahun itu.

Selain sidomukti, jarik juga memiliki jenis yang lain seperti sido mulyo, maknanya terjadi­nya kemuliaan di dunia. Dan sido derajat, artinya terjadi­nya derajat pangkat yang luhur. Seperti halnya yang diharapkan setiap orang untuk memiliki pangkat yang luhur.

Selanjutnya, seorang laki-laki Jawa sering kali ditemui meng­gu­nakan beskap. Secara umum, beskap artinya adalah menutup. Sedangkan maknanya secara khusus, beskap bagi seorang laki-laki dapat membedakan status sosial masing-masing.

Seperti beskap tangkep yang biasanya dikenakan oleh se­orang dalang, beskap athela digunakan untuk abdi dalem atau masyarakat biasa, sikepan alit.

“Beskap ini biasanya terdiri dari dalaman putih dan luaran hitam,” kata Nanang. Sedangkan pe­makai dari beskap ini biasa­nya adalah pangeran-pangeran, anak cucu dan kerabat orang-orang terpandang.

So, bagaimana? Semua bagian pakaian Jawa memiliki filosofi, kan? Pasti semua­nya bermuara pada filosofi yang luhur. “Maka penting itu mengetahui itu,” ujarnya.
Diketahui, blankon adalah pe­­nutup kepala yang sering ditemui saat se­seorang menge­nakan pakaian adat. Namun, tahukah bahwa blankon juga memiliki berbagai jenis.

Di antara jenis-jenis blankon adalah cekok mondol. Blankon ini biasanya dipakai untuk orang biasa atau abdi dalem, selan­jutnya adalah kesatrian, yang biasanya dipakai untuk mereka dengan status sosial diatas orang biasa seperti tumenggung atau Bupati dan perbawan biasanya digunakan untuk sinuwun atau mempunyai pangkat tinggi.

Tidak hanya itu, keris yang bia­sanya dipajang pada ping­gang belakang seorang laki-laki saat mengenakan pakaian adat juga memiliki makna yang mengesankan.

Secara filosofis, keris di­gu­nakan sebagai senjata yang memiliki arti keteguhan atau kekuatan, yang dalam bentuk­nya seperti ilmu agama dan pe­ngetahuan umum. Keris yang diletakan dibelakang juga bukan tanpa arti, loh.

Pasalnya, keris yang diletakan di belakang layaknya ilmu yang dimiliki seseorang, pembe­lajaran untuk terus rendah hati meski me­miliki ilmu setinggi apapun. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#baju adat jawa #Gagah #fashion #filosofi #anak muda #kebaya #anggun