Di tengah lunturnya tradisi Jawa di bidang fashion, Nanang Ferianto konsisten mengenakan pakaian adat Jawa dalam menjalani profesinya sebagai master of ceremony (MC). Semua itu dilakukan untuk membumikan adat Jawa di kalangan generasi muda. Dan berkat konsistensinya tersebut, dia dinobatkan sebagai MC Terpakem se-Jawa Timur.
MENGENAKAN beskap, lengkap dengan jarik dan blangkon di atas kepala, Nanang Ferianto terlihat tampan dan gagah.
Di sebuah kafe di Tuban, pria yang karib disapa Nanang itu tampil percaya diri saat menjalankan perannya sebagai MC. Kesan santun tampak dari setiap tutur kata yang dia disampaikan.
Dalam setiap kesempatan acara, Nanang selalu konsisten mengenakan pakaian adat Jawa.
‘’Sejak dulu saya menaruh ketertarikan pada setiap hal yang berkaitan dengan adat Jawa, seperti pakaian adat Jawa yang dikenakan dalang. Makanya, setiap menjadi MC saya selalu berpakaian layaknya seorang dalang,’’ katanya.
Gayung bersambut, keinginannya menjadi MC sembari mengenakan pakaian adat Jawa tersebut mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga. ‘’Dari situ, saya semakin serius belajar MC dan konsisten mengenakan pakaian adat Jawa,’’ ujarnya.
Berangkat dari keinginannya yang kuat tersebut, Nanang semakin serius mempelajari dunia MC dan mengikuti berbagai seminar sekaligus belajar dari orang-orang profesional dalam bidang tersebut.
Dan salah satu komunitas yang kemudian membesarkan namanya adalah Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) dan Himpunan Pembawa Acara Indonesia (Hipapi).
Dan seiring dengan kemampuannya yang terus bertambah, pria asal Desa Sekardadi, Kecamatan Jenu itu dipercaya untuk mengajar di sekolah kesenian adat yang dihelat Permadani. ‘’Saya mengajar tata cara berbusana bagi MC adat Jawa,’’ katanya.
Selain menjadi pengajar, pria 31 tahun itu telah melalang buana ke berbagai kota untuk mengisi acara seminar adat Jawa. Di antara kota yang pernah dia datangi untuk mengisi seminar, yakni Jombang, Surabaya, Pasuruan, Nganjuk, dan Kediri. Dan pada Februari mendatang, dia dipercaya untuk mengisi acara di Jakarta.
Terbaru, dia juga meraih penghargaan sebagai MC terpakem se-Jawa Timur 2025 dan berhasil mengalahkan ratusan peserta dalam ajang bergengsi itu. ‘’Saya dapat penghargaan itu karena kegigihan saya dalam melestarikan adat Jawa, mulai dari cara berpakaian dan cara berbicara, saat menjalani profesi saya sebagai pembawa acara,’’ tuturnya.
Nanang menyadari, di era gempuran budaya modern saat ini sangat sulit mengajak generasi muda untuk turut mencintai budaya bangsa. Meskipun sudah 18 tahun berkecimpung di dunia MC adat, namun Nanang kerap kali diremehkan oleh beberapa orang tentang kebiasaannya yang tidak mengikuti zaman.
‘’Sering sekali orang bertanya, apa laku menjadi MC hanya stagnan pada MC bernuansa adat, padahal sekarang sudah modern,” katanya.
Sejalan dengan kecintaannya terhadap budaya Jawa, dia berharap anak-anak muda dapat turut melestarikan budaya bangsa itu. Dalam mewujudkan harapannya itu, dia mendirikan wedding organizer yang diberi nama Cakra Ningrat Management, untuk merekrut anak-anak muda bergabung di dalamnya.
“Selain membuka lapangan pekerjaan, di situ juga sebuah wadah untuk belajar adat Jawa, dapat dibuktikan saat ada job, mereka harus berpakaian adat,” tandasnya. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama