RADARTUBAN – Menara pantau hilal di perbukitan Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, sepertinya masih akan menjadi pilihan utama bagi Kementerian Agama (Kemenag) Tuban untuk melakukan rukyatul hilal awal Ramadan.
Pasalnya, upaya mencari tempat alternatif lain tak kunjung membuahkan hasil.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, anggota Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kemenag Tuban Kasdikin mengatakan, sebenarnya ada beberapa opsi tempat untuk melakukan rukyatul hilal.
Di antaranya, Pantai Panduri di Kecamatan Jenu, Pantai Boom, dan Gunung Nganten di Kecamatan Palang. Namun, tiga tempat tersebut dinilai kurang representatif. Gunung Nganten, misalnya.
Tempat ini sebenarnya sangat cocok. Selain jaraknya yang dekat, titik lokasi yang bakal dijadikan tempat melihat bulan juga cukup representatif. Hanya saja, akses ke lokasinya masih sulit untuk kendaraan roda empat.
‘’Kalau saja di Gunung Nganten aksesnya lebih baik, dan bisa untuk parkir kendaraan banyak, pasti akan menjadi pilihan,’’ ujarnya.
Bagaimana dengan rencana pembangunan menara pusat observasi bulan (POB) di KUA Palang.
Disampaikan Kasdikin, rencana tersebut juga gagal. Alasannya, lahan yang dibutuhkan masih kurang luas.
‘’Lokasinya sempit, sehingga gagal dilakukan,’’ jelasnya.
Sebab itu, menara rukyatul hilal di Desa Banyuurip tetap menjadi pilihan utama untuk melihat bulan awal Ramadan pada 27 Februari nanti.
‘’Meski lokasinya jauh, tapi memiliki akses lebih baik untuk langsung ke lokasi. Kantong parkir pun lebih memadai. Akhirnya disepakati untuk tetap di menara Rukyatul Hilal Banyuurip,’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama