Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Radhika Sukmo Ayu, Pengrajin Batik Tulis Khas Tuban yang Tembus Pasar Mancanegara. Konsisten Berinovasi, Hasilkan Produk Kerajinan Berbahan Kain Perca

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 12 Februari 2025 | 16:30 WIB

Radhika berselimut dengan kain batik hasil karya tangan luwesnya.
Radhika berselimut dengan kain batik hasil karya tangan luwesnya.

RADARTUBAN - Ditangan Radhika Sukmo Ayu, kearifan lokal berupa batik tulis khas Tuban bisa menjadi karya seni yang diminati hingga kancah internasional. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, dia berhasil membangun pangsa pasar dan relasi hingga ke benua Eropa.

Mimik bahagia terukir jelas di wajah ayu Radhika Sukmo Ayu saat diwa­wancarai Jawa Pos Radar Tuban, Jumat (6/2) lalu. Setelah berhasil mengem­bangkan bisnis batik tulis warisan keluarganya, kini hasil jerih payahnya berupa kain batik dan produk turu­nannya sukses diminati oleh banyak buyer dari benua Eropa dan Australia.

‘’Tidak menyangka jika batik benar-benar diminati hingga mancanegara,’’ tu­turnya dengan sumringah. Dan semua itu berbekal dari pengetahuan dasar yang didapat dari orang tuanya.

Meski mewarisi dan melan­jutkan apa yang telah dirintis orang tuanya, namun men­jalankan bisnis hingga suk­ses bukan hal yang muda. Itu pula yang dirasakan Radhika.

Untuk menjalankan bisnis supaya tetap survive, perem­puan 40 tahun ini dituntut un­tuk terus berinovasi agar batik tulis khas Tuban ini di­minati oleh semua kala­ngan, hingga diminati buyer dari luar negeri. Terlebih, Sebagai ge­nerasi kedua, di­ri­nya sadar betul tantangan yang dihadapi terkait ek­sistensi batik.

Hal itu lantas membuatnya me­mu­tuskan untuk meninggal­kan karir cemerlangnya di sebuah perusahaan terke­muka, lalu belajar dari nol untuk mem­pertahankan bu­daya warisan leluhur ini.

Sudah sejak 2005, keluarga Radhika memulai ekspor kain batik ke Belanda, me­lalui temannya yang menem­puh pendidikan di sana. Eksistensi bisnis batiknya di Negeri Kincir Angin ini bertahan hingga 20 tahun.

‘’Alhamdulillah setiap bu­lan selalu rutin ekspor, ku­rang lebih setiap bulan bisa dua kali,” ujarnya penuh rasa syukur.

Tidak hanya Belanda yang menjadi tempat berlabuh kain-kain batik ini, tapi juga Inggris, Australia, dan Taiwan.

Selain karya dan kualitas ba­tiknya yang mendunia, lulusan jurusan hukum Uni­versitas Surabaya (Ubaya) ini juga ber­komitmen untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam bisnis yang dilakoni­nya, Radhika mengadaptasi sistem less waste—meman­faatkan potongan terkecil dari produknya untuk ke­mudian dipergunakan lagi menjadi produk turunan kain batik buatannya. Mulai dari tempat tisu, taplak meja, tumbler holder, udeng, peci, gantungan kunci, dan ber­bagai pernak pernik lainnya. Semua itu dia hasilkan dari limbah kain perca hasil produksinya.

Bagi ibu satu anak ini, lim­bah fashion menjadi masa­lah besar yang sama serius­nya dengan limbah plastik. Kesadaran akan ekosistem lingkungan itulah yang membuatnya dengan serius memikirkan berbagai solusi untuk mengolah kembali limbah-limbah tersebut.

Namun, bagi Radhika usa­ha kain batik tersebut bukan hanya persoalan bisnis dan keuntungan, tapi juga ber­usa­ha memberikan dampak positif bagi orang lain di­sekitarnya.

Salah satunya dengan memberdayakan kaum difabel dan ibu tung­gal. Setidaknya, sudah ada dua penjahit difabel dan enam ibu tunggal yang telah lama menjadi rekan bisnisnya.
Menurutnya, hal itu meru­pakan sebuah bentuk nyata akan kepedulian sosial dan keinginannya untuk mem­buat orang lain ikut mera­sakan manfaat dari usahanya tersebut.

‘’Meski belum bisa mem­berdayakan banyak orang, tetapi saya tetap berusaha untuk memberikan manfaat dan menggaet lebih banyak lagi orang dengan kriteria tersebut untuk bisa berkarya,” ujarnya.

ak hanya memproduksi kain batik hingga produk turunannya, Radhika juga membuka kelas edukasi mem­batik untuk anak se­kolah hingga masyarakat umum. Melalui kelas edukasi ini, dia ingin agar banyak orang dapat mempelajari dan melestarikan karya seni warisan budaya ini.

Rentang harga produk ba­tiknya pun sangat bervariasi, mulai dari Rp 110 ribu hing­ga Rp 2,6 juta untuk kain batiknya, dan Rp 10 ribu hingga Rp 480 ribu untuk berbagai jenis produk turunan batik miliknya.

Semua hasil karya tangan yang dia hasilkan tak hanya soal keindahan motif dan kualitas produk. Tetapi juga tentang harapan dan ke­pedulian sosial yang mem­buat karyanya menjadi lebih istimewa. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #bisnis #batik #kain perca #batik tulis #australia #karya #Benua Eropa