RADARTUBAN - Ditangan Radhika Sukmo Ayu, kearifan lokal berupa batik tulis khas Tuban bisa menjadi karya seni yang diminati hingga kancah internasional. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, dia berhasil membangun pangsa pasar dan relasi hingga ke benua Eropa.
Mimik bahagia terukir jelas di wajah ayu Radhika Sukmo Ayu saat diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Jumat (6/2) lalu. Setelah berhasil mengembangkan bisnis batik tulis warisan keluarganya, kini hasil jerih payahnya berupa kain batik dan produk turunannya sukses diminati oleh banyak buyer dari benua Eropa dan Australia.
‘’Tidak menyangka jika batik benar-benar diminati hingga mancanegara,’’ tuturnya dengan sumringah. Dan semua itu berbekal dari pengetahuan dasar yang didapat dari orang tuanya.
Meski mewarisi dan melanjutkan apa yang telah dirintis orang tuanya, namun menjalankan bisnis hingga sukses bukan hal yang muda. Itu pula yang dirasakan Radhika.
Untuk menjalankan bisnis supaya tetap survive, perempuan 40 tahun ini dituntut untuk terus berinovasi agar batik tulis khas Tuban ini diminati oleh semua kalangan, hingga diminati buyer dari luar negeri. Terlebih, Sebagai generasi kedua, dirinya sadar betul tantangan yang dihadapi terkait eksistensi batik.
Hal itu lantas membuatnya memutuskan untuk meninggalkan karir cemerlangnya di sebuah perusahaan terkemuka, lalu belajar dari nol untuk mempertahankan budaya warisan leluhur ini.
Sudah sejak 2005, keluarga Radhika memulai ekspor kain batik ke Belanda, melalui temannya yang menempuh pendidikan di sana. Eksistensi bisnis batiknya di Negeri Kincir Angin ini bertahan hingga 20 tahun.
‘’Alhamdulillah setiap bulan selalu rutin ekspor, kurang lebih setiap bulan bisa dua kali,” ujarnya penuh rasa syukur.
Tidak hanya Belanda yang menjadi tempat berlabuh kain-kain batik ini, tapi juga Inggris, Australia, dan Taiwan.
Selain karya dan kualitas batiknya yang mendunia, lulusan jurusan hukum Universitas Surabaya (Ubaya) ini juga berkomitmen untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam bisnis yang dilakoninya, Radhika mengadaptasi sistem less waste—memanfaatkan potongan terkecil dari produknya untuk kemudian dipergunakan lagi menjadi produk turunan kain batik buatannya. Mulai dari tempat tisu, taplak meja, tumbler holder, udeng, peci, gantungan kunci, dan berbagai pernak pernik lainnya. Semua itu dia hasilkan dari limbah kain perca hasil produksinya.
Bagi ibu satu anak ini, limbah fashion menjadi masalah besar yang sama seriusnya dengan limbah plastik. Kesadaran akan ekosistem lingkungan itulah yang membuatnya dengan serius memikirkan berbagai solusi untuk mengolah kembali limbah-limbah tersebut.
Namun, bagi Radhika usaha kain batik tersebut bukan hanya persoalan bisnis dan keuntungan, tapi juga berusaha memberikan dampak positif bagi orang lain disekitarnya.
Salah satunya dengan memberdayakan kaum difabel dan ibu tunggal. Setidaknya, sudah ada dua penjahit difabel dan enam ibu tunggal yang telah lama menjadi rekan bisnisnya.
Menurutnya, hal itu merupakan sebuah bentuk nyata akan kepedulian sosial dan keinginannya untuk membuat orang lain ikut merasakan manfaat dari usahanya tersebut.
‘’Meski belum bisa memberdayakan banyak orang, tetapi saya tetap berusaha untuk memberikan manfaat dan menggaet lebih banyak lagi orang dengan kriteria tersebut untuk bisa berkarya,” ujarnya.
ak hanya memproduksi kain batik hingga produk turunannya, Radhika juga membuka kelas edukasi membatik untuk anak sekolah hingga masyarakat umum. Melalui kelas edukasi ini, dia ingin agar banyak orang dapat mempelajari dan melestarikan karya seni warisan budaya ini.
Rentang harga produk batiknya pun sangat bervariasi, mulai dari Rp 110 ribu hingga Rp 2,6 juta untuk kain batiknya, dan Rp 10 ribu hingga Rp 480 ribu untuk berbagai jenis produk turunan batik miliknya.
Semua hasil karya tangan yang dia hasilkan tak hanya soal keindahan motif dan kualitas produk. Tetapi juga tentang harapan dan kepedulian sosial yang membuat karyanya menjadi lebih istimewa. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama