Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jastip: Cara Cepat Membeli Barang dan Peluang Bisnis, Diikuti Pemuda Tuban

Sugiati. • Minggu, 16 Februari 2025 | 16:30 WIB

 

Photo
Photo

 

RADARTUBAN - Beberapa tahun terakhir, layanan jasa titip (jastip) telah menjadi fenomena menarik sekaligus ladang bisnis di beberapa kota, termasuk di Tuban. Bisnis ini tumbuh seiring dengan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan barang dari luar negeri atau dari tempat tertentu yang sulit diakses.

Bentuk jasa titip yang ditawarkan pun bermacam-macam. Mulai dari pakaian hingga makanan. Syarifah Rahma, salah satu pebisnis jastip di Tuban mengaku memulai bisnis ini karena banyaknya permintaan titip dari teman-temannya untuk membeli barang-barang yang tidak tersedia di Tuban.

‘’Awalnya hanya teman-teman terdekat saja, tapi lama-lama sudah berkembang luas,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban. 

Rahma—sapaan akrabnya—mengatakan, setiap harinya dia menawarkan jastip dengan ongkos kirim beragam, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu setiap jastip.

Dan saban harinya mendapat jastib berkisar 30-50 customer.

‘’Untuk nominal ongkir, kami bergantung jauh atau dekatnya lokasi,’’ katanya. 

Baca Juga: Efisiensi Anggaran Pendidikan Picu Peringatan Darurat Garuda Merah

Dia mengaku banyak pesanan saat ada jenis-jenis barang atau makanan viral. Saat itulah, jasanya mulai banyak diburu oleh customer. Bahkan, beberapa berasal dari luar Tuban.

‘’Siapa saja yang mau titip (baik warga Tuban maupun luar Tuban, Red), di situ saya ada untuk menawarkan jasa bagi mereka,’’ ujarnya, sehingga tidak harus orang Tuban saja.

Di Tuban, Rahma juga menjadi pelopor pertama jastip di Kota Legen. Tepatnya pada 2020—saat covid-19, lantaran saat itu ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat.

‘’Alhamdulillah, hingga kini memiliki brand jastip sendiri, namanya Jastip Premium Tuban,’’ ujarnya bersyukur karena mendapat kesempatan membuka bisnis jastip. 

Terpisah, Tia, pemilik bisnis jastip lain di Tuban juga mengamini bahwa bisnis jastip masih memikat hingga kini.

Itu lantaran banyak jenis makanan dan barang yang dijajakan, namun terkadang belum sampai di daerah. Sehingga, banyak yang memanfaatkan jastip untuk mendapatkan barang atau makanan tersebut.

‘’Awalnya saya juga tidak menyangka, ternyata ramai—banyak yang nitip. Setiap hari selalu ada yang pesan order (PO),” ujarnya.

Terus Bertahan karena Pola Konsumsi Masyarakat yang Kian Berubah

Sebagaimana jamak dipahami, cara kerja jastip ini biasanya diawali dengan mengumumkan tujuan perjalanan—akan ke kota mana atau ke negara mana. Misalnya, rencana ke Jogjakarta, maka jastiper mengundang konsumen untuk memesan barang.

Selanjutnya, ditentukan biaya dan sistem pembayarannya. Jika konsumen tertarik, maka tinggal mengajukan pesanan dan melakukan pembayaran.

Setelah pesanan terkumpul, jastiper akan membeli barang sesuai permintaan dan membawa atau mengirimkannya kepada konsumen saat kembali ke Indonesia ata ke daerah asal.

Fenomena jastip tumbuh seiring dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang kian berubah. Selain hadirnya belanja melalui situs resmi dan pasar dalam jaringan atau e-commerce, kini konsumen dihadapkan pada pilihan cara berbelanja lain, yakni melalui jastip. Prinsip utama dalam berbelanja menggunakan jastip adalah kepercayaan.

Prinsip ini juga yang membuat jastip membuat grup WhatsApp, di mana anggotanya mayoritas mengenal pelaku jastip, atau mendapat rekomendasi dari anggota lain di grup jastip tersebut. (gik/tok) 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#layanan jastip #jastip #Jasa Titip