RADARTUBAN – Seyogianya, Minggu (23/2) ini Pasar Hewan Tuban sudah dibuka kembali. Namun, lantaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang masih belum terkendali, sehingga Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, Perikanan (DKP2P) Tuban kembali mengeluarkan kebijakan: memperpanjang penutupan pasar hewan.
Sebelumnya, penutupan pasar hewan dimulai sejak 28 Januari sampai 17 Februari lalu. Hanya saja, setelah dua pekan dilakukan penutupan, jumlah hewan ternak yang terpapar virus PMK terus bertambah.
Berdasarkan data DKP2P Tuban per Jumat (21/2) kemarin, tercatat sebanyak 312 kasus PMK. Rinciannya, 28 hewan ternak masih sakit, 258 hewan ternak sembuh, 5 hewan ternak terpaksa dipotong paksa, dan 22 hewan ternak mati.
Jika dibandingkan dengan tiga hari sebelumnya, jumlah hewan yang masih sakit sebanyak 24 ekor, kemudian bertambah menjadi 28 ekor. ‘’Atas berbagai pertimbangan, pasar hewan belum dapat kembali dioperasikan,’’ ujar Kepala DKP2P Tuban Eko Julianto.
Setelah menggelar evaluasi, akhirnya memutuskan untuk kembali memperpanjang masa penutupan pasar hewan sejak 18 Februari hingga 24 Februari mendatang. ‘’Cukup riskan resikonya jika kembali membuka pasar hewan disaat kasusnya masih belum dapat ditekan,’’ bebernya.
Disinggung soal ke depannya, jika pada 24 Februari mendatang kasus PMK masih belum dapat diredam, Eko menegaskan, evaluasi akan kembali setelah sepekan perpanjangan penutupan pasar hewan. ‘’Tentu kami akan mempertimbangkan banyak hal. Di samping itu, kami juga terus melakukan upaya penekanan kasusnya,’’ jelas dia.
Salah satu upaya yang dilakukan, yakni menggencarkan vaksinasi di seluruh kecamatan. Sebelumnya, DKP2P Tuban mendapatkan 29.000 dosis vaksin PMK dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur yang mulai didistribusikan ke seluruh kecamatan di Tuban.
‘’Masing-masing kecamatan mendapatkan jatah berbeda sesuai populasi ternak. Semoga melalui vaksinasi ini bisa menekan persebaran PMK di Tuban,’’ pungkasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama