RADARTUBAN - Slow living atau gaya hidup yang wolessebenarnya bukan hal baru. Namun istilah ini belakangan semakin populer di kalangan generasi Z.
Slow living dinilai menjadi cara mudah untuk menikmati hidup.
Konsep ini bertolak belakang dengan hustle culture dan fast-paced life yang dinilai lebih lekat dengan generasi milenialserta masyarakat urban.
Bagi peminat slow living, hustleculture adalah konsep budaya kerja yang berlebihan karena menggebu-gebu dalam memprioritaskan sebuah pekerjaan.
Lantas Apa Itu Slow Living?
Slow living atau hidup dengan ritme yang lebih lambat adalah gaya hidup yang menentang percepatan lingkungan. Baik dalam proses belajar maupun pekerjaan.
Saat ini, banyak orang menganggap bahwa semakin sibuk seseorang, maka semakin produktif pula dirinya.
Namun, pandangan ini sering kali berujung pada stres dan tekanan yang berlebihan.
Dalam slow living, seseorang menjalani aktivitas dengan tempo yang lebih lambat dan cenderung tidak terburu-buru.
Meski begitu, slow living bukan berarti bermalas-malasan atau menunda pekerjaan. Melainkan lebih menekankan pada keseimbangan dan kualitas hidup.
Manfaat Slow Living
Menurut Rabbani & Rinawati (2024) dalam Jurnal Aktivitas Komunikasi Budaya Slow Living, gaya hidup ini menjadi penting di tengah budaya fast-paced life dan hustle culture.
Slow living diyakini dapat memberikan keseimbangan, meningkatkan kualitas hidup, serta mendorong produktivitas dan kreativitas.
Dalam jurnal yang sama, slow living juga disebut sebagai alternatif untuk mencapai kebahagiaan.
Gaya hidup ini menekankan pentingnya istirahat, mengurangi kecemasan, serta memperbaiki kesehatan mental.
Sebaliknya, fast-paced life dan hustle culture yang menuntut kesibukan tanpa henti cenderung meningkatkan risiko burnout, stres, dan gangguan psikologis.
Slow Living dan Kesehatan Mental
Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Semarang berjudul Slow Living: Alternatif Pendekatan Ekonomi Berkelanjutan di Era Konsumsi Berlebihanmenyebutkan bahwa slow living dapat menciptakan lingkungan kerja dan kehidupan yang lebih sehat.
Dengan menyeimbangkan produktivitas dan kualitas hidup, gaya hidup ini membantu mengurangi masalah kesehatan mental.
Filosofi Slow Living
Filosofi slow living mengajarkan kita untuk menikmati setiap proses dalam hidup dan lebih menghargai kualitas daripada kuantitas, baik dalam pekerjaan, belajar, maupun aspek lainnya.
Dengan memperlambat ritme kehidupan, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk refleksi diri dan pemulihan.
Menerapkan slow living bukan berarti menolak produktivitas, melainkan mengutamakan keseimbangan agar hidup lebih sehat, bahagia, dan bermakna. (saf/yud)
Pemicu slow living
Praktik slow living