Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gaya Hidup Slow Living: Solusi Gen Z Atasi Burnout

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 26 Februari 2025 | 10:25 WIB

 

Photo
Photo

 

RADARTUBAN - Slow living atau gaya hidup yang wolessebenarnya bukan hal baru. Namun istilah ini belakangan semakin populer di kalangan generasi Z.

Slow living dinilai menjadi cara mudah untuk menikmati hidup.

Konsep ini bertolak belakang dengan hustle culture dan fast-paced life yang dinilai lebih lekat dengan generasi milenialserta masyarakat urban.

Bagi peminat slow living, hustleculture adalah konsep budaya kerja yang berlebihan karena menggebu-gebu dalam memprioritaskan sebuah pekerjaan.

Lantas Apa Itu Slow Living?

Slow living atau hidup dengan ritme yang lebih lambat adalah gaya hidup yang menentang percepatan lingkungan. Baik dalam proses belajar maupun pekerjaan.

Saat ini, banyak orang menganggap bahwa semakin sibuk seseorang, maka semakin produktif pula dirinya.

Namun, pandangan ini sering kali berujung pada stres dan tekanan yang berlebihan.

Dalam slow living, seseorang menjalani aktivitas dengan tempo yang lebih lambat dan cenderung tidak terburu-buru.

Meski begitu, slow living bukan berarti bermalas-malasan atau menunda pekerjaan. Melainkan lebih menekankan pada keseimbangan dan kualitas hidup.

Manfaat Slow Living

Menurut Rabbani & Rinawati (2024) dalam Jurnal Aktivitas Komunikasi Budaya Slow Living, gaya hidup ini menjadi penting di tengah budaya fast-paced life dan hustle culture.

Slow living diyakini dapat memberikan keseimbangan, meningkatkan kualitas hidup, serta mendorong produktivitas dan kreativitas.

Dalam jurnal yang sama, slow living juga disebut sebagai alternatif untuk mencapai kebahagiaan.

Gaya hidup ini menekankan pentingnya istirahat, mengurangi kecemasan, serta memperbaiki kesehatan mental.

Sebaliknya, fast-paced life dan hustle culture yang menuntut kesibukan tanpa henti cenderung meningkatkan risiko burnout, stres, dan gangguan psikologis.

Slow Living dan Kesehatan Mental

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Semarang berjudul Slow Living: Alternatif Pendekatan Ekonomi Berkelanjutan di Era Konsumsi Berlebihanmenyebutkan bahwa slow living dapat menciptakan lingkungan kerja dan kehidupan yang lebih sehat.

Dengan menyeimbangkan produktivitas dan kualitas hidup, gaya hidup ini membantu mengurangi masalah kesehatan mental.

Filosofi Slow Living

Filosofi slow living mengajarkan kita untuk menikmati setiap proses dalam hidup dan lebih menghargai kualitas daripada kuantitas, baik dalam pekerjaan, belajar, maupun aspek lainnya.

Dengan memperlambat ritme kehidupan, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk refleksi diri dan pemulihan.

Menerapkan slow living bukan berarti menolak produktivitas, melainkan mengutamakan keseimbangan agar hidup lebih sehat, bahagia, dan bermakna. (saf/yud)

Pemicu slow living 

Keinginan untuk lebih menikmati hidup
Keinginan untuk mengurangi stres
Keinginan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam
Keinginan untuk lebih sadar akan lingkungan sekitar
Keinginan untuk lebih sadar akan pergerakan tubuh
Keinginan untuk lebih rileks dan terhubung dengan diri sendiri
Keinginan untuk lebih sadar dan tenang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari

Praktik slow living 

Mematikan sistem “autopilot” pada diri
Melakukan seluruh kegiatan sehari-hari dengan kesadaran penuh
Mengedepankan prioritas dan kenyamanan dalam menjalani kegiatan sehari-hari
Kurangi kegiatan yang tidak perlu
Nikmati momen saat ini
Perbanyak waktu di alam
Praktikkan mindfulness, seperti meditasi dan latihan pernapasan
Hindari penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan
Lakukan kegiatan bermanfaat, seperti membaca buku dan olahraga
Editor : Yudha Satria Aditama
#gen z radar tuban #Gen Z #Slow Living