RADARTUBAN – Warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo di Kecamatan Rengel dan Plumpang, Kamis (27/2) dini hari dikejutkan dengan tinggi muka air (TMA) Sungai Bengawan Solo yang naik hingga level siaga merah.
Itu menyusul hujan lebat di wilayah hulu dan dibukanya Waduk Gajah Mungkur.
Tidak menunggu waktu lama, kemarin siang luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu merendam sembilan desa dan ratusan hektare lahan pertanian.
Di Kecamatan Rengel, bah merendam Desa Tambakrejo, Karangtinoto, Kanorejo, Sawahan, Ngadirejo, Sumberejo, dan Bulurejo. Sedangkan di Kecamatan Plumpang merendam Desa Klotok, Kebomlati, dan Kedungsoko.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Tuban, aktivitas masyarakat di desa yang terendam banjir tersebut tampak lumpuh.Sebab, banjir turut menggenangi jalan-jalan-jalan lingkungan dan poros desa.
Zaenuri, warga Desa Kanorejo, Kecamatan Rengel saat ditemui wartawan koran ini mengatakan, banjir menggenangi pemukiman sejak dua hari terakhir dan semakin meninggi sejak dini hari kemarin. ‘’Jalan-jalan ikut tergenang, tidak bisa beraktivitas apa-apa,’’ ujar dia.
Senada diungkapkan Suparti, banjir luapan Sungai Bengawan Solo juga membuatnya susah mengakses kebutuhan di dapurnya. ‘’Dua hari harus memasak dengan kayu bakar, tabung gas di toko terdekat sudah kosong semua, gas sekarang ini susah di dapat,’’ tuturnya.
Sementara itu, Totok Mujianto, perangkat Desa Kanorejo mengatakan, kurang lebih 217 hektar lahan pertanian di Desa Kanorejo terendam banjir dengan rincian 75 hektar tanaman padi dan 10 hektar tanaman hortikultura.
‘’Kabarnya, air di Sungai Bengawan Solo mulai surut, tapi banjir di daerah persawahan masih terus naik,’’ bebernya.
Lebih lanjut dikatakan oleh Totok, meski ketinggian air Bengawan Solo mengalami penurunan, namun statusnya masih siaga merah.
‘’Belum ada rumah warga yang terendam, namun mereka sudah diimbau untuk selalu waspada,’’ jelas dia.
Terpisah, Camat Plumpang Saefiyudin mengatakan, total ada 90 rumah warga yang aksesnya terdampak banjir. Rinciannya, 29 rumah di Desa Klotok, 19 rumah di Desa Kedungsoko, dan 42 rumah di Desa Kebomlati.
Pejabat yang akrab disapa Asep itu mengungkapkan, titik banjir terparah terjadi di Desa Kebomlati. Hampir 90 persen jalan poros desa dan lingkungan tergenang.
Sementara itu di Desa Klotok hanya 300 meter, sedangkan Desa Kedungsoko sepanjang 250 meter jalan poros desa yang tergenang.
‘’Lahan pertanian juga terendam, namun semuanya sudah terlebih dahulu melaksanakan panen,’’ bebernya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji mengatakan, saat ini petugas BPBD Tuban masih melakukan pendataan rumah warga dan desa yang terdampak banjir.
Lebih lanjut dia menyebut, titik terparah yang terdampak banjir, yakni Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang. Ketinggian air rata-rata mencapai 100 cm. ‘’Kami menerjunkan petugas bersama perahu karet untuk mobilisasi warga jika hendak bepergian di desa sebelah,’’ tuturnya
Mantan Camat Plumpang itu mengungkapkan, saat ini tinggi muka air (TMA) Bengawan Solo terpantau mulai surut. ‘’Kami juga mengimbau warga untuk selalu berjaga, karena tren naik turunnya air bisa datang kapan saja,’’ tandasnya (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama