RADARTUBAN – Kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina perlahan luntur. Itu menyusul terbongkarnya kasus dugaan tindakan culas PT Pertamina Patra Niaga yang mengoplos pertalite menjadi pertamax. Terlebih, bagi mereka yang biasanya membeli pertamax.
Kendati Pertamina sudah menegaskan bahwa proses blending atau pengoplosan yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga tidak mengurangi kualitas pertamax, namun masyarakat sudah kadung tidak percaya.
‘’Itu (alasan kualitas yang sama, Red) hanya dalih. Yang namanya oplos ya oplos. Saya secara pribadi sudah tidak percaya dengan Pertamina. Perusahaan negara, tapi malah membohongi rakyat. Keterlaluan,’’ kata Muklis, salah satu warga yang biasanya membeli pertamax.
Lantaran kasus dugaan korupsi yang dilakukan para direktur utama PT Pertamina Patra Niaga tersebut, kini bapak anak satu itu tak lagi membeli pertamax.
Dan beberapa kali juga sudah mulai mengurangi pembelian BBM di SPBU Pertamina. Beralih ke SPBU Shell.
‘’Saya sebagai rakyat sangat marah, gaji miliaran per bulan masih tega melakukan korupsi yang merugikan rakyat. Benar-benar keterlaluan,’’ katanya dengan emosi membuncah.
Senda diungkapkan Ahmad Rifai, warga asal Kecamatan Merakurak. Dia mengaku selama ini membeli pertamax lantaran untuk mendapat kualitas BBM yang lebih bagus.
‘’Tapi ternyata dibohongi. Saya secara pribadi sangat marah, tapi marah ke siapa, percuma,’’ katanya.
Nanda, salah satu warga Kecamatan Semanding juga merasa sangat emosional saat mendengar adanya dugaan korupsi yang dilakukan para dirut PT Pertamina Patra Niaga yang juga diduga mengoplos pertalite menjadi pertamax.
‘’Setelah berita itu (kasus korupsi di PT Pertamina Patra Niaga, Red) saya ngisinya di sini (SPBU Shell di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Red),’’ ujarnya ditemui wartawan koran ini di lokasi.
Sementara itu, ketika Jawa Pos Radar Tuban mencoba mendatangi SPBU Pertamina ihwal menanyakan kuota pembelian pertamax pasca kasus dugaan korupsi di PT Pertamina Patra Niaga mencuat, sejumlah petugas enggan untuk memberikan jawaban. SPBU Al Falah di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan SPBU Dasin di Jalan Tuban-Semarang, misalnya, tidak ada satu pun yang berkenan menjawab pertanyaan wartawan koran ini.
Pun di SPBU yang lain, kalau pun berkenan menjawab hanya sekadarnya. Seperti di SPBU Sleko di Jalan Pahlawan. Salah satu petugas hanya menjawab dengan singkat, ‘’masih normal (penjualan pertamaxnya, Red),’’ katanya.
Sementara itu, staf di SPBU Shell Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Jovi menyebut bahwa BBM yang dikelolanya kini semakin banyak diminati. Utamanya dalam beberapa hari terakhir ini. ‘’Yang awalnya seribu liter per hari, kini menjadi dua ribu liter,’’ bebernya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama