Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tidak Percaya Lagi dengan Pertamina, Warga di Tuban Beralih ke Shell

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 28 Februari 2025 | 20:30 WIB
Petugas SPBU swasta di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding saat mengisi BBM.
Petugas SPBU swasta di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding saat mengisi BBM.

RADARTUBAN – Kepercayaan ma­syarakat terhadap Pertamina perlahan luntur. Itu menyusul terbongkarnya kasus dugaan tindakan culas PT Pertamina Patra Niaga yang mengoplos pertalite menjadi pertamax. Terlebih, bagi mereka yang biasanya membeli pertamax.

Kendati Pertamina sudah me­negaskan bahwa proses blending atau pengoplosan yang di­lakukan PT Pertamina Patra Niaga tidak mengu­rangi kualitas pertamax, namun masyarakat sudah kadung tidak percaya.

‘’Itu (alasan kualitas yang sama, Red) hanya dalih. Yang na­manya oplos ya oplos. Saya secara pribadi sudah tidak percaya dengan Pertamina. Perusahaan negara, tapi malah membohongi rakyat. Keterlaluan,’’ kata Muklis, salah satu warga yang bia­sanya membeli pertamax.

Lantaran kasus dugaan korupsi yang dilakukan para direktur utama PT Pertamina Patra Niaga tersebut, kini bapak anak satu itu tak lagi membeli pertamax.

Dan beberapa kali juga sudah mulai mengurangi pembelian BBM di SPBU Pertamina. Beralih ke SPBU Shell.

‘’Saya sebagai rakyat sangat marah, gaji miliaran per bulan masih tega melakukan korupsi yang merugikan rakyat. Benar-benar keterlaluan,’’ kata­nya dengan emosi membuncah.

Senda diungkapkan Ahmad Rifai, warga asal Kecamatan Merakurak. Dia mengaku selama ini membeli perta­max lantaran untuk menda­pat kualitas BBM yang lebih bagus.

‘’Tapi ternyata dibo­hongi. Saya secara pribadi sangat marah, tapi marah ke siapa, percuma,’’ katanya.

Nanda, salah satu warga Ke­camatan Semanding juga me­rasa sangat emosional saat mendengar adanya du­gaan korupsi yang dilaku­kan para dirut PT Pertamina Patra Niaga yang juga diduga mengoplos pertalite menjadi pertamax.

‘’Setelah berita itu (kasus korupsi di PT Pertamina Patra Niaga, Red) saya ngisinya di sini (SPBU Shell di Desa Be­jagung, Keca­matan Semanding, Red),’’ ujarnya ditemui war­tawan koran ini di lokasi.

Sementara itu, ketika Jawa Pos Radar Tuban mencoba men­datangi SPBU Pertamina ihwal menanyakan kuota pem­belian pertamax pasca kasus dugaan korupsi di PT Perta­mina Patra Niaga men­cuat, sejumlah petu­gas enggan untuk memberikan ja­wa­ban. SPBU Al Falah di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan SPBU Dasin di Jalan Tuban-Sema­rang, mi­salnya, tidak ada satu pun yang berkenan men­jawab pertanyaan wartawan koran ini.

Pun di SPBU yang lain, kalau pun berkenan menjawab hanya sekadarnya. Seperti di SPBU Sleko di Jalan Pah­lawan. Salah satu petugas hanya menjawab dengan sing­kat, ‘’masih normal (pen­jua­lan pertamaxnya, Red),’’ katanya.

Sementara itu, staf di SPBU Shell Desa Bejagung, Keca­matan Semanding, Jovi menyebut bahwa BBM yang dikelolanya kini semakin banyak diminati. Utamanya dalam beberapa hari terakhir ini. ‘’Yang awalnya seribu li­ter per hari, kini menjadi dua ribu liter,’’ bebernya. (fud/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#keterlaluan #oplos #kualitas #SPBU Swasta #pertamina #rakyat #Negara #Shell #pertalite #pertamax