RADARTUBAN – Masyarakat Tuban seperti sudah akrab dengan tradisi bubur muhdor yang menjadi hidangan takjil selama Ramadan.
Makanan khas yang hanya dimasak di Bulan Suci oleh warga keturunan Arab di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban ini sudah ada sejak 1937.
Meski sudah berlangsung puluhan tahun dan berganti generasi, namun ada yang unik dari masakan khas Timur Tengah ini. Yakni rasanya.
Dari dulu hingga sekarang, rasanya tetap sama. Tidak sedikit pun bergeser.
Seakan menjadi paradoks bahwa perubahan adalah hal yang pasti. Inilah keunikan bubur muhdor.
Melawan untuk berubah rasa, meski sudah berganti masa.
Salah warga keturunan Arab sekaligus pengurus Remaja Masjid Al Muhdor, Alwi Ba’agil membenarkan bahwa yang autentik dari bubur muhdor ini adalah rasanya yang tidak pernah berubah.
‘’Resep bubur muhdor ini diwariskan secara turun temurun, sehingga keautentikan rasanya terjamin dan tidak berubah,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Keaslian rasa itulah yang menjadikan menu takjil ini selalu ngangenin. Dan sebab itu pula selalu dinanti masyarakat.
Saban hari mulai pukul 16.00, warga sekitar dan penikmat bubur muhdor selalu antre untuk bisa menikmati makanan khas yang dimasak di halaman Masjid Muhdor, Jalan Pemuda tersebut. ‘
’Setiap hari memasak 30 kilogram bubur, dan selalu habis,’’ terang pemuda keturunan Yaman tersebut.
Baca Juga: Jadwal Serta Pemeran Film Shrek 5, Ada Zendaya Bergabung
Lebih lanjut, Alwi menyampaikan, tujuan dari dilanggengkannya kegiatan memasak bubur muhdor ini adalah untuk berbagi kepada sesama di bulan penuh berkah.
Selain itu, juga untuk mempererat kebersamaan. Terlebih bersama warga sekitar.
Mereka yang antre untuk mendapatkan bubur muhdor tidak hanya warga sekitar. Bambang, misalnya. Warga asal Desa/Kecamatan Rengel ini rela ikut antre demi bisa menikmati menu takjil yang hanya ada saat Ramadan tersebut.
‘’Karena dari tahun ke tahun rasanya masih sama. Itulah yang membuat saya selalu kangen untuk menikmati bubur khas Timur Tengah ini,’’ tandasnya. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama