Istilah generasi sandwich ini pertama kali dipopulerkan di tahun 1981 oleh salah seorang profesor di Amerika Serikat. Layaknya sandwich, sebutan generasi ini merujuk pada individu yang secara finansial dan emosional menanggung dua generasi dari atas dan bawah sekaligus, yakni orang tua dan anak-anaknya.
GENERASI sandwich ini tidak sekadar istilah semu belaka. Layaknya sebuah roti sandwich, generasi ini ditekan dari atas dan bawah. Sebab, dia mengambil peran dan tanggung jawab terhadap orang tua dan anak atau saudara yang masih membutuhkan bantuan finansial dan emosional.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan khalil & Santoso (2022) dalam jurnal Generasi Sandwich: Konflik Peran Dalam Mencapai Keberfungsian Sosial, mayoritas generasi sandwich ini terjadi pada keluarga yang memiliki penghasilan rendah.
Pun dengan jurnal lain yang ditulis oleh Amalianita & Putri (2023) berjudul Permasalahan Psikologis pada Sandwich Generation Serta Implikasi dalam layanan Bimbingan dan Konseling, menyebut jika fenomena generasi ini banyak terjadi di negara berkembang.
Ini disebabkan karena pola pikir yang ada di negara berkembang selalu mendorong untuk hidup dalam naungan keluarga. Bahkan, tak sedikit dari masyarakat negara berkembang masih hidup bersama dengan kakek, nenek, bahkan buyut sekaligus dalam satu rumah.
Munculnya generasi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang melatarbelakangi. Dikutip dari Hayati & Karyono (2024) dalam jurnalnya yang berjudul Eksistensi Anak Generasi Sandwich Menurut Pandangan Islam, adanya generasi ini dikarenakan adanya kegagalan perencanaan finansial, kebangkrutan usaha, pensiun dini, atau bahkan dikarenakan kesehatan yang menurun dari generasi sebelumnya.
Masih dalam jurnal yang sama, pernikahan dini juga menjadi salah satu faktor yang memicu lahirnya generasi sandwich ini. Hal ini dikarenakan pernikahan dini cenderung akan menyebabkan persiapan yang kurang matang dari segi perencanaan finansial dan pengelolaan hubungan emosional.
Menurut penelitian Nuryasman & Elizabeth (2023) dalam jurnal Generasi Sandwich: Penyebab Stres dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Keuangan, adanya fenomena generasi sandwich ini juga dikarenakan minimnya literasi keuangan yang cenderung menyebabkan individu generasi pertama tak menyiapkan dana pensiun, sehingga saat mereka tak lagi berada dalam usia produktif justru memberikan beban tambahan kepada generasi di bawahnya untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Minimnya literasi keuangan generasi pertama yang menyebabkan bertambahnya beban pada generasi selanjutnya mengakibatkan permasalahan psikologis pada individu generasi sandwich ini. Mulai dari stres, burnout, bahkan hingga berujung pada depresi. Termasuk memengaruhi hubungan keluarga, seperti keretakan hubungan dengan anggota keluarga.
Di sisi lain, orang-orang yang terlahir sebagai generasi sandwich ini juga dituntut untuk menghasilkan sumber finansial yang lebih untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan generasi yang ditanggungnya. Hal ini juga berujung pada terganggunya kesehatan fisik akibat kurang tidur karena harus bekerja untuk sumber pendapatan lain. (saf/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama