RADARTUBAN - Tuban, yang dulu mungkin cuma dikenal sebagai kota pelabuhan, kini makin naik kelas. Bukti terbarunya? Open space bernama Abirama yang dibangun di bekas terminal lama Tuban.
Tempat ini bukan sekadar ruang publik biasa, tapi surganya nongkrong sambil ngelamun santai.
Pemandangan langsung ke Laut Jawa bikin siapa pun betah berlama-lama, terutama kalau datang sore-sore sambil ngejar sunset.
Konsepnya kekinian banget. Tata letak bangunan yang rapi, parkir luas, ditambah banyak pilihan makanan bikin Abirama jadi tempat favorit buat keluarga atau sekadar nongkrong bareng teman.
Musala juga tersedia, jadi nggak ada alasan buat bolos salat magrib, ya. Apalagi kebersihannya cukup terjaga. Pokoknya, untuk ukuran Tuban, ini mah tempat yang "ciamik" abis.
Tapi seperti pepatah bilang, nggak ada gading yang tak retak, Abirama juga punya celah. Salah satu yang paling sering dikeluhkan pengunjung adalah soal toilet berbayar.
Bayangkan, setelah puas melamun di tepi laut, perut mulai bergejolak, terus pas mau ke toilet, disambut tarif Rp 3 ribu.
Bukannya nggak rela bayar tiga ribu perak, sih. Tapi ini kan fasilitas publik. Rasanya kurang pas aja kalau masih harus rogoh kantong buat urusan biologis dasar.
Banyak netizen yang juga protes soal ini, dengan alasan simpel: di mal aja toilet bersih dan gratis, masa di open space begini harus bayar?
Kalau alasannya buat kebersihan toilet, mungkin pihak pengelola bisa cari solusi lain. Misalnya, pakai dana dari retribusi parkir atau kerja sama dengan UMKM yang jualan di situ.
Lagian, kebersihan itu kan semestinya jadi bagian dari tanggung jawab pengelola, bukan pengunjung.
Padahal, Abirama ini potensinya luar biasa. Kabupaten kecil macam Tuban jarang-jarang punya ruang publik semenarik ini. Tinggal dijaga aja biar nggak rusak dan tetap jadi tempat nyaman buat semua orang. Toh, nggak semua kabupaten punya open space yang bisa bikin warganya betah berlama-lama sambil menikmati angin laut.
Jadi, harapannya, pengelola bisa mempertimbangkan ulang kebijakan toilet berbayar ini. Siapa tahu, kalau toiletnya digratiskan, pengunjung jadi makin ramai, makin banyak yang beli makanan, dan makin besar juga pendapatan untuk biaya perawatan. Win-win solution, kan?
Untuk sekarang, mari nikmati yang bisa dinikmati: angin laut, sunset, dan semangkuk bakso sambil melamun. Tapi ya gitu, siapin tiga ribu dulu kalau mau pipis. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama