RADARTUBAN - Ramadan Fest 2025 baru selesai digelar Rabu (19/3). Grandfinal yang digelar di Pendopo Malowopati Bojonegoro itu melahirkan sejumlah jawara baru. Salah satunya Nessa Al Ayya Gavaputry Sugiharto, 10, siswi SDN Sokosari 1, Kecamatan Soko yang meraih runner up kategori A.
Ibu adalah guru terbaik pertama bagi sang anak. Ungkapan itu benar-benar dirasakan siswi yang akrab disapa Nessa ini.
Baca Juga: Memperingati Nuzulul Quran, Ribuan Pegawai Kemenag Tuban Khatamkan Alquran 4.044 Kali
Sejak balita, pelajar yang tinggal di Desa Prambontergayang, Soko ini banyak belajar tentang ilmu agama dari Mahezty Kusniyati, yang tak lain adalah sang ibu.
‘’Banyak belajar dari ibu, ditambah dukungan dari sekolah yang menggelar ekstrakurikuler Madin (madrasah diniyah),’’ ungkap Nessa.
Nia, panggilan akrab sang ibu merupakan alumnus Pondok Pesantren Langitan. Bekal pengalamannya selama mondok itu yang ditularkan kepada si bungsu dari dua bersaudara.
Menurut Nessa, sang ibu selalu menjadi motivator setiap akan berkompetisi. Tak kalah penting adalah selalu menikmati setiap proses. ‘’Sehari belajar untuk kompetisi hanya setengah jam, habis salat Magrib,’’ ungkap dia.
Nesaa mengungkapkan tidak pernah belajar lama untuk suatu kompetisi karena menghindari rasa bosan. Menurut dia, belajar setengah jam setiap harinya sudah cukup untuk menguasai materi.
Asalkan, dilakukan totalitas dan penuh semangat. Sebab, Nessa harus tetap menyisihkan waktu untuk belajar kebutuhan akademisnya. ‘’Setiap usaha keras tidak akan mengkhianati hasil,’’ jelas dia.
Ramadan Fest 2025 diikuti 78 peserta dari Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Kompetisi tahfidzul Quran yang digelar Jawa Pos Radar Bojonegoro tersebut bukan prestasi pertama yang diraih Nessa.
Sebelumnya, sudah 24 piala yang tersimpan rapi di lemari rumahnya. Mayoritas piala dan medali didapatkan dari lomba tanfidz atau kompetisi keagamaan serupa. Sebagian kecil lainnya kompetisi pidato atau yang membutuhkan kemampuan public speaking.
Kepala UPT SDN Sokosari 1 Soko, Endang Saptarina mengungkapkan bahwa pencapaian Nessa merupakan bukti nyata dari program pembinaan menyeluruh yang diterapkan sekolah.
Siswa tidak hanya didukung kegiatan pembelajaran akademis saja, melainkan juga kegiatan belajar tambahan melalui ekstrakurikuler.
‘’Kami tidak ingin ada siswa yang merasa tertinggal. Semua anak mendapatkan pembinaan sesuai minat, bakat, dan kompetensinya masing-masing. Hasilnya mulai terlihat dari prestasi yang terus konsisten diraih anak-anak kami,” ujarnya.
Melihat ke belakang, catatan prestasi UPT SDN Sokosari 1 memang cukup impresif. Pada tahun 2023, sekolah ini berhasil menjadi Juara I Lomba Sekolah Pengembang Pendidikan Agama Islam tingkat Kabupaten Tuban. Di tahun yang sama, siswa bernama M. Nauval Akbar Rosyada menjadi juara I Festival Literasi, Dinas Pendidikan Tuban.
Tidak berhenti di situ, tahun berikutnya pada 2024 menjadi momen gemilang lainnya. Nauval juga sukses meraih Juara III Festival Literasi Numerasi, event yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Tuban bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Tuban.
Prestasi lain, menyabet Juara II Lomba Siswa Prestasi tingkat Kabupaten Tuban dan Juara II Kejurprov Panahan Provinsi Jawa Timur di Kediri.
Dengan sederet prestasi tersebut, UPT SDN Sokosari 1 semakin mantap menegaskan jati dirinya sebagai sekolah yang memberikan ruang berkembang bagi semua siswanya.
‘’Kami ingin semua anak merasa menjadi bagian dari sekolah juara. Ini bukan hanya tentang menang lomba, tapi juga tentang tumbuh bersama dalam suasana yang membangun dan mendidik,” tegas Endang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama