RADARTUBAN - Tongklek Tuban udah jadi ikon kesenian lokal sejak tahun 1972.
Awalnya, tongklek cuma tentang memukul-mukul alat rumah tangga seadanya—bambu, kaleng, botol kaca—dengan tempo ajeg yang kadang bikin kamu inget bangun sahur dulu. Dari sana, tradisi ini berkembang pesat.
Dulu, cuma pemuda-pemuda aja yang terlibat, bahkan dipakai buat membangunkan lingkungan pas sahur. Tapi sekarang, tongklek udah menjamur di hampir tiap desa dan kelurahan di Tuban. Mulai dari bocah SD sampai orang dewasa, semua pada ikut nyicipin serunya tradisi ini.
Nah, seiring dengan perkembangan itu, muncul satu pertanyaan yang lumayan panas: apakah kehadiran penari wanita dalam ajang lomba tongklek justru mengurangi keaslian kesenian itu?
Di satu sisi, modernisasi dan penambahan elemen baru bisa bikin pertunjukan jadi lebih variatif dan menarik. Tapi, di sisi lain, ada yang khawatir kalau nilai-nilai tradisional yang selama ini melekat jadi hilang.
Beberapa netizen udah bereaksi dengan komentar yang cukup pedas.
Misalnya, @nety_ummuhamasah bilang, “Dulu tongklek yang asli nggak gini. Cuma alatnya dari bambu-bambu aja buat bangunin sahur. Yo, gak aneh-aneh paling-paling nyanyinya sahuuur sahur. Takbiran juga asli takbir.”
Ada juga @sugeng_pelatih yang nostalgia, “Dulu lomba tongklek bener-bener natural banget, hanya ada kentongan dan tambahan 1-2 alat lainya. Benar-benar menampilkan musiknya di atas panggung.”
Bahkan, @wahyu_faezal dengan nada kritis bertanya, “Kalau ini dikatakan melestarikan tradisi, tradisi yang mana? Kalau dikatakan ini hiburan, apakah layak ditonton di bulan Ramadhan dan di depan umum? Ngapunten.”
Komentar-komentar itu menunjukkan adanya perpecahan pandangan. Di satu sisi, ada yang nganggap inovasi dengan penari wanita bisa jadi cara memperkaya ekspresi seni dan membuat tongklek lebih relevan dengan zaman.
Penari wanita bisa membawa sentuhan keindahan visual yang beda, memberikan warna dan dinamika baru dalam pertunjukan.
Mereka bisa menari dengan gerakan yang selaras dengan irama perkusi, menghasilkan pertunjukan yang enerjik dan estetik.
Di sisi lain, ada pula yang beranggapan bahwa tongklek itu identik dengan kesederhanaan dan kealamian.
Menurut mereka, menambahkan elemen yang terlalu modern atau “mewah” justru bisa mengaburkan esensi asli tradisi yang bermula dari kehidupan sederhana masyarakat Tuban.
Bagi pendukung keaslian, tongklek adalah tentang kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat gotong royong dalam menjaga tradisi yang murni.
Jadi, gimana nih? Apakah penambahan penari wanita dalam lomba tongklek justru mengurangi keaslian atau justru menjadi evolusi yang alami? Mungkin jawabannya nggak hitam-putih. Tradisi itu hidup dan dinamis.
Seiring waktu, perubahan adalah hal yang nggak bisa dihindari. Mungkin yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai-nilai inti.
Jadi, mari kita nikmati pertunjukan tongklek dengan segala keunikannya, sembari terus berdiskusi agar tradisi yang kita cintai ini tetap relevan dan bermakna bagi generasi sekarang dan mendatang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama