Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

125 Tahun EMCL di Indonesia, Perjalanan Eksplorasi Migas di Lapangan Banyuurip Kini Melampaui Prediksi

Yudha Satria Aditama • Kamis, 27 Maret 2025 | 05:06 WIB

Etang, perwakilan EMCL menjelaskan tentang eksplorasi Lapangan Banyuurip.
Etang, perwakilan EMCL menjelaskan tentang eksplorasi Lapangan Banyuurip.

RADARTUBAN – Perjalanan panjang ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Indonesia telah mencapai usia 125 tahun, dengan kontribusi signifikan terhadap industri migas nasional.

Memulai sayap bisnisnya dengan industri pembuatan pelumas gemuk untuk kendaraan tradisional zaman dulu, kini EMCL di tahap melewati pencapaian terbaiknya.

Yakni dengan eksplorasi minyak di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, dengan hasil melampaui prediksi awal para ahli.

Awalnya, cadangan minyak di lokasi ini diperkirakan hanya sekitar 450 juta barel, namun realitas di lapangan menunjukkan angka yang jauh lebih besar, yakni mencapai 1 miliar barel.

Awalnya, para ahli EMCL memperkirakan cadangan minyak di lokasi ini hanya sekitar 450 juta barel. Namun, realitas di lapangan jauh melampaui ekspektasi dengan total produksi yang mencapai 1 miliar barel.

Tak hanya itu, prediksi produksi harian yang diperkirakan sebesar 165 ribu barel per hari, ternyata mampu menembus 200 ribu barel per hari.

Masa produksi puncaknya pun yang semula diprediksi hanya bertahan lima tahun, justru berlangsung dua hingga tiga tahun lebih lama.

Meski kini produksi mulai mengalami penurunan, EMCL tetap berupaya memaksimalkan eksplorasi migas di Blok Cepu.

Sejak Maret 2024, ExxonMobil bersama SKK Migas telah memulai pengeboran sumur perdana Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Pada 2025, EMCL menargetkan pengeboran lima sumur baru Infill Carbonate di Lapangan Banyuurip.

Dua sumur Infill Clastic yang sudah beroperasi sejak 2024 bahkan telah menambah produksi sebesar 14.000 barel per hari.

Saat ini, produksi minyak EMCL mencapai 155 ribu barel per hari, yang berkontribusi sekitar 25 persen terhadap produksi minyak nasional.

Sejak produksi awal pada 2008, Lapangan Banyuurip telah berkembang dengan fasilitas seperti Central Processing Facility (CPF), jalur pipa darat sepanjang 72 kilometer, pipa lepas pantai sejauh 23 kilometer.

Serta kapal alir muat terapung (Floating Storage and Offloading/FSO) Gagak Rimang.

Seperti diketahui, FSO Gagak Rimang menjadi terminal migas tersibuk di Indonesia, dengan rata-rata pengapalan hingga 10 kali per bulan.

Tezhart Elvandiar, perwakilan EMCL, dalam acara "Ngabuburit Bareng Media" yang diselenggarakan EMCL dan SKK Migas di Kayu Manis Resto Tuban, Selasa (25/3) menjelaskan bahwa kapal ini memiliki kapasitas 1,7 juta barel minyak mentah.

Jumlah tersebut setara dengan 108 kolam renang standar Olimpiade.

Jika dibandingkan, panjang kapal ini tiga kali lebih besar dari lapangan sepak bola dan beratnya setara dengan 60 ribu ekor gajah.

"EMCL bersama PT Pertamina EP Cepu dan Badan Kerja Sama PI (Participating Interest) Blok Cepu telah memproduksi 660 juta barel minyak dan memberikan kontribusi lebih dari Rp 440 triliun kepada negara," ujar Etang, sapaan akrabnya.

Menurut Tezhart, sejak tahun 2008 hingga 2023, total investasi di Lapangan Banyuurip mencapai Rp 57 triliun atau sekitar 4 miliar dolar AS.

Dari total produksi 660 juta barel minyak, kontribusi yang diberikan kepada negara mencapai Rp 442 triliun atau sekitar 29,5 miliar dolar AS.

Sebesar 85 persen hasil produksi dialokasikan untuk negara, sementara sisanya 15 persen dibagi kepada EMCL sebagai operator, Pertamina, dan Badan Kerja Sama Blok Cepu.

Selain fokus pada eksplorasi migas, EMCL juga menjalankan program sosial dengan tiga pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Salah satu contoh program kesehatan yang diinisiasi EMCL adalah penyediaan akses air bersih bagi 10.156 kepala keluarga di 40 desa di Tuban, Bojonegoro, dan Blora.

Sejak 2008 hingga 2023, EMCL telah membangun lebih dari 10.000 sambungan rumah, 119.503 meter jaringan air bersih, serta 56 menara tandon air.

Di Kabupaten Tuban, program yang masih terasa manfaatnya adalah BUMDes Kampung Pesisir yang menjadi pusat oleh-oleh khas Tuban di Desa Karangagung, Kecamatan Palang.

Kepala Desa Karangagung, Agus Aji Wiyoto, mengakui bahwa program ini telah meningkatkan pendapatan asli desa dan memberikan manfaat bagi lebih dari seribu warga setempat.

Tak hanya itu, EMCL juga mendirikan Pusat Belajar Guru (PBG) sejak 2014 bersama SKK Migas. Program ini memberikan ruang bagi para guru di Tuban untuk mengembangkan kapasitas melalui berbagai pelatihan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Formalitas & Komunikasi SKK Migas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Febrian Ihsan, berharap sinergi antara media, EMCL, dan SKK Migas terus berlanjut.

"Mudah-mudahan silaturahmi ini membawa keberkahan, dan melalui pemaparan ini, awak media dapat memahami perkembangan terbaru operasional di Lapangan Banyuurip," tutupnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#skk migas #Tuban #Bojonegoro #sumur #pertamina #Jabanusa #blora #Blok Cepu #emcl #lapangan banyuurip