RADARTUBAN - Tidak ingin sepenuhnya bergantung dari PLN, kebutuhan listrik Masjid Supangat di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang ini menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hampir 80 persen kebutuhan lsitrik disuplai dari energi matahari
Berada di antara pohon-pohon siwalan dan kebun belimbing, suasana sejuk begitu terasa saat memasuki Masjid Supangat ini.
Nyiur pepohonan membuat jemaah semakin betah untuk berlama-lama di dalam maupun luar masjid. Terlebih menjelang azan magrib berkumandang. Kesan alami pedesaan begitu terasa. Nyaman nan berkesan.
Sepintas, bangunan dengan sentuhan arsitektur modern ini tidak menampakkan tempat ibadah umat muslim. Sebaliknya, seperti bangunan rumah warga.
Berbentuk kubus dan tanpa dilengkapi kubah di bagian atasnya—sebagaimana masjid-masjid pada umumnya. Kesan sebagai tempat ibadah baru terasa saat masuk ke dalam.
Selain mengusung desain arsitektur modern, bagian interior juga menjadi pembeda dari masjid-masjid lainnya.
Menariknya lagi, masjid ini menggunakan pembangkit listrik tenaga surya. Praktis, selain lekat dengan kesan alami, juga ramah lingkungan.
Masjid yang dibangun pada 2023 ini memiliki 16 panel surya yang dipasang di atap masjid.
Panel-panel surya tersebut mampu mengkaver hingga 80 persen kebutuhan listrik masjid. Ihwal nama masjid, juga terdengar asing.
Tidak seperti masjid-masjid pada umumnya yang menggunakan nama islami. Supangat. Identik dengan nama orang Jawa.
‘’Pengurus masjid memilih nama Supangat karena itu merupakan nama orang tua kami yang menghibahkan tanah ini untuk digunakan masjid,’’ ujar Edi Utomo, pengurus Masjid Supangat kepada Jawa Pos Radar Tuban ketika berbincang santai di teras masjid beberapa waktu lalu.
Diungkapkan Edi, nama masjid tidak harus menggunakan bahasa Arab. Pun desainnya, juga tidak harus dilengkapi dengan kubah. Terpenting, tegas Edi, adalah fungsinya: sebagai tempat ibadah umat muslim.
‘’Makanya, di masjid ini kami beri tagline Bersama Membangun Peradaban Mulia,’’ bebernya.
Lebih lanjut, pengurus PD Muhammadiyah Tuban itu mengatakan, meski berada di tengah-tengah kebun belimbing, kegiatan di masjid ini cukup padat.
Mulai pengajian orang dewasa dan hingga anak-anak. Juga kegiatan sosial lainnya. Terlebih di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Saban hari diadakan buka puasa dan sahur bersama.
‘’Alhamdulillah dengan adanya masjid ini kegiatan masyarakat bisa tumbuh,’’ terang dia. (*/tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni