RADARTUBAN - Alun-alun Tuban sekarang sudah beda. Udah gak seperti dulu yang rumputnya kadang lebih mirip ladang jagung gagal panen.
Sekarang tampilannya lebih rapi, bersih, dan—kalau boleh dibilang—cukup Instagramable buat ukuran alun-alun kota pesisir.
Bahkan, kalau sore, bisa bersaing ketat dengan angkringan di pinggiran Jogja soal keramaian.
Tapi, ada satu hal yang menurut saya underrated, padahal jelas-jelas berdiri tinggi dan teduh di tengah alun-alun itu: Beringin Kembar.
Iya, beringin kembar. Dua pohon beringin yang menjulang gagah, berdampingan, adem, dan punya aura mistis tipis-tipis tapi tetap ramah keluarga.
Kayaknya banyak orang ke alun-alun cuma fokus ke tempat duduk yang banyak, makanan kaki lima yang menggoda, atau sekadar hunting sunset, tapi lupa ngelirik duo beringin ini.
Padahal, beringin kembar itu bukan cuma hiasan. Dia itu saksi bisu, pengatur suasana, dan—kalau boleh lebay—penjaga spiritual dari pusat kota.
Coba aja bayangin, berapa banyak pasangan yang udah foto prewedding di bawahnya? Atau berapa banyak anak kecil yang main kejar-kejaran sambil teriak-teriak di dekatnya?
Di Jogja, beringin kembar di Alun-Alun Kidul bisa jadi destinasi wisata sendiri. Ada mitosnya, ada tantangannya. Yang paling terkenal tentu: jalan lurus melewati dua beringin itu sambil mata tertutup.
Katanya sih, kalau berhasil, keinginanmu bakal terkabul. Nggak tau juga keinginan apa, tapi biasanya sih soal jodoh, kerjaan, atau… jodoh lagi.
Saya sempat membayangkan, andai beringin kembar di Tuban ini juga diperlakukan spesial. Bukan buat bikin mitos baru, tapi paling nggak, dikasih papan nama gitu lah. Atau cerita pendek soal sejarahnya.
Atau dijadikan tempat duduk melingkar dengan lampu remang-remang biar makin syahdu. Toh secara visual udah cakep. Tinggal di-branding dikit.
Apalagi pohon beringin itu bukan sembarang pohon. Secara ekologis, dia juara dalam urusan menyerap air dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Di tengah Tuban yang kadang panasnya bisa nyalip kompor, punya dua pohon besar yang rindang tuh bagaikan nemu es teh gratis di tengah padang pasir.
Kadang kita suka lupa. Hal-hal kecil seperti ini, yang gak ada di brosur wisata, justru punya daya tarik sendiri.
Bukan karena megahnya, tapi karena keberadaannya yang setia dan fungsional. Sama seperti teman masa kecil yang gak terkenal, tapi selalu ada pas kita lagi butuh.
Jadi, lain kali kalau ke Alun-Alun Tuban, sempatkanlah duduk sebentar di bawah beringin kembar itu.
Rasakan anginnya, lihat cahaya sore yang menembus sela-sela daunnya.
Siapa tahu, tanpa perlu mitos atau tantangan aneh-aneh, kamu bisa nemu ketenangan yang selama ini kamu cari—cuma dari sepasang pohon yang tahu caranya diam dan berteduh. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama