RADARTUBAN – Suasana duka mendalam menyelimuti RSUD Ibnu Sina Gresik pada Kamis siang (10/4)
Di ruang pemulasaran jenazah, petugas tampak sibuk menangani tujuh jenazah korban kecelakaan tragis yang melibatkan mobil rombongan umrah dengan sebuah bus antarkota.
Ketujuh korban yang berada dalam mobil Isuzu Panther berpelat DK 1157 FCL itu merupakan satu keluarga asal Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.
Mereka sedang dalam perjalanan mengantarkan salah satu anggota keluarga mereka, Muhammad Aqib, 27, menuju Bandara Juanda untuk menunaikan ibadah umrah.
Namun, takdir berkata lain. Mobil yang mereka tumpangi terlibat tabrakan hebat dengan bus PO Rajawali Indah di ruas Jalan Raya Pantura, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik.
Insiden maut itu menewaskan seluruh penumpang mobil di lokasi kejadian dan di rumah sakit.
“Empat korban meninggal di tempat kejadian perkara (TKP), tiga lainnya sempat dirawat namun akhirnya meninggal dunia di RSUD Ibnu Sina,” ujar Kanit Gakkum Satlantas Polres Gresik, Ipda Andri Aswoko.
Keluarga yang ditinggalkan pun tak kuasa menahan tangis. Suasana haru terasa di lorong ruang tunggu rumah sakit. Tangisan dan pelukan menjadi gambaran duka yang mendalam.
Dari tujuh korban tewas, dua di antaranya adalah anak di bawah umur, termasuk seorang balita berusia tiga tahun.
Baca Juga: Siswa SMKN 3 Tuban Termasuk Satu dari Tujuh Korban Tewas dalam Kecelakaan Tragis di Gresik
Seluruh korban tinggal serumah dan memiliki ikatan darah. Jenazah mereka telah dipulangkan ke rumah duka di Tuban menggunakan enam ambulans gabungan dari RSUD Ibnu Sina dan Pemkab Tuban.
Di tengah derai air mata, kisah pilu datang dari Tasya, kekasih Muhammad Aqib. Perempuan asal Surabaya itu mengungkapkan bahwa dirinya dan Aqib berencana bertunangan setelah sang kekasih pulang dari umrah.
“Kami sudah merencanakan pertunangan sepulang dia dari Mekkah. Tapi sekarang semua tinggal kenangan,” ujar Tasya lirih dengan mata sembab.
Tasya terakhir kali menerima pesan dari Aqib pada Kamis pagi setelah salat Subuh. “Dia bilang, ‘aku udah berangkat’,” kenangnya.
Namun beberapa jam setelahnya, aplikasi pelacak lokasi yang biasa digunakan keduanya menunjukkan hal ganjil. Posisi Aqib berhenti di satu titik dan tak bergerak.
Merasa ada yang tak beres, Tasya langsung menghubungi ponsel sang kekasih.
"Tapi yang angkat bukan dia. Orang itu bilang, ‘kecelakaan mbak, kecelakaan." tuturnya dengan suara bergetar.
Hubungan mereka sudah berjalan hampir dua tahun. Aqib dikenal sebagai sosok pekerja keras yang kini berdomisili di Bali.
Tasya mengingat betul kata-kata terakhir kekasihnya, bahwa ibadah umrah kali ini diniatkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon umur panjang.
Kini, doa itu menjadi saksi bisu atas kepergian Aqib dan enam anggota keluarganya.
Kepergian mereka meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tapi juga masyarakat sekitar yang mengenal mereka.
Sementara itu, sopir dan kenek bus dilaporkan mengalami luka serius berupa patah tulang dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Ibnu Sina.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan yang menghilangkan tujuh nyawa tersebut. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni