Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sedekah Bumi, Tradisi Sakral di Tuban yang Perlu di Lestarikan Generasi Muda

M. Afiqul Adib • Sabtu, 12 April 2025 | 22:05 WIB
Ilustrasi sedekah bumi
Ilustrasi sedekah bumi

RADARTUBAN- Setiap daerah punya tradisi sakral yang bikin warganya merasa lebih nyambung sama tanah tempat mereka berpijak.

Kalau di Tuban, salah satunya ya Sedekah Bumi. Sebuah tradisi yang bukan cuma tentang tumpeng dan doa bersama, tapi juga tentang menjaga hubungan batin dengan alam, leluhur, dan tetangga satu RT.

Sedekah Bumi ini biasanya dilaksanakan setelah panen. Jadi kalau kamu ke Tuban dan nemu orang-orang lagi ramai-ramai bawa makanan, duduk bersila, trus ngucapin doa bareng sambil senyum-senyum, kemungkinan besar itu bukan syukuran sunatan, tapi Sedekah Bumi.

Nama kerennya kadang juga disebut Nyadran. Tapi meski namanya beda-beda, maknanya tetap sama: bentuk syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur.

Salah satu Sedekah Bumi yang masih hidup sampai sekarang adalah yang digelar di Dusun Sumber Mulyo, Desa Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo.

Di sana, tradisi ini masih dijalankan dengan semangat gotong royong yang bikin hati adem. Masyarakat kompak bawa makanan, mulai dari nasi tumpeng, kue-kue jadul, sampai ayam utuh yang ditusuk lidi.

Semua ditata rapi di atas tampah, disandingkan dengan doa dan harapan.

Tapi Sedekah Bumi bukan cuma soal makan-makan dan doa-doa. Setelah sesi sakral selesai, biasanya langsung disambung dengan pertunjukan seni.

Di Sumber Mulyo, misalnya, ada seni karawitan dan tari Langen Tayub. Yang ini biasanya dinanti-nanti, soalnya selain jadi hiburan, juga jadi ajang “refreshing” warga.

Lumayan, habis doa bareng, nonton tayuban sambil nyemil rengginang, siapa yang nolak?

Dan tentu, ini juga jadi kesempatan emas buat generasi muda mengenal budayanya sendiri. Nggak semua anak sekarang tahu cara main gamelan, apalagi nari Tayub.

Maka dari itu, lewat pertunjukan ini, mereka jadi punya ruang buat belajar, bukan cuma soal teknik, tapi juga tentang nilai-nilai yang tertanam dalam tradisi itu sendiri.

Sayangnya, tradisi kayak gini kadang masih dianggap “kurang keren” sama sebagian orang, terutama yang lebih suka pamer healing ke Bali daripada paham filosofi lokal di desanya sendiri.

Padahal, Sedekah Bumi itu kaya banget. Bukan cuma soal adat, tapi juga soal nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan penghargaan pada alam.

Kalau dipikir-pikir, Sedekah Bumi itu sebenarnya bentuk kesadaran ekologis paling awal.

Jauh sebelum ada isu global warming dan kampanye go green, masyarakat sudah diajarkan untuk menghargai alam lewat ritual-ritual seperti ini.

Panen disyukuri, tanah dihormati, leluhur dikenang. Lengkap. Nggak perlu ditambahin quotes bijak ala Instagram.

Maka dari itu, penting banget buat kita, khususnya anak muda yang kadang lebih sibuk scroll TikTok untuk ikut melestarikan tradisi ini.

Jangan cuma datang buat selfie sama tumpeng, terus pulang pas giliran bersih-bersih.

Jadilah bagian dari gerakan pelestarian budaya, bukan cuma penonton yang nunggu nasi berkat dibagiin.

Sedekah Bumi di Tuban, seperti di Sumber Mulyo, adalah bukti bahwa lokal pride itu nyata. Tradisi ini bukan barang kuno, tapi warisan hidup yang harus dijaga bareng-bareng. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tuban #tradisi sakral #panen #sedekah bumi #nyadran #makanan